TOLERANSI BERAGAMA

Kota-kota berindeks toleran rendah itu menyanggah hasil

| Antyo / Beritagar.id

Ada 98 kota di Indonesia. Tetapi Setara Institute, yang bermarkas di Ibu Kota, mengukur toleransi 94 kota. Jakarta, dalam Indeks Kota Toleran (IKT) 2018, menduduki peringkat dua garis (peringkat ke-92) di atas garis bontot (Tanjungbalai, Sumatra Utara, ke-94).

Peringkat Jakarta itu membaik sedikit. Dalam IKT 2017, Jakarta paling bawah, di urutan ke-94. Artinya Jakarta tahun lalu kalah dari Manado, Sulawesi Utara (peringkat pertama). Tahun ini posisi di pucuk digenggam oleh Singkawang, Kalimantan Barat.

Perihal Tanjungbalai, tahun lalu tak masuk dalam sepuluh kota ber-IKT terendah. Namun dalam IKT 2018, kota yang berjarak 418 kilometer dari Binjai (kota peringkat kesembilan IKT 2018) itu berposisi paling bawah.

Tanjungbalai tahun ini menjadi berita lagi karena peristiwa 2016. Agustus lalu Pengadilan Negeri Medan memvonis Meiliana setahun enam bulan karena ia mengeluhkan volume keras spiker masjid. Keluhan itu menyulut kerusuhan. Massa merusak delapan buah rumah kelenteng dan vihara, ada yang disertai pembakaran.

Ketua Lakpesdam Nahdlatul Ulama, Rumadi Ahmad, kepada VOA Indonesia menyesalkan putusan itu dan menyebutnya “terlalu berlebihan.”

Erwan Effendi, anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumut, mengomentari putusan bagi Meiliana, "Orang-orang sudah ribut dan demo turun ke jalan, ternyata hukumannya hanya 1,5 tahun." (h/t BBC Indonesia)

Dari aturan kota sampai upaya

Menyangkut Jakarta, bagian manakah yang dimaksud: utara, timur, selatan, barat, atau pusat? Bagaimana dengan Kabupaten Pulau Seribu?

Dalam siaran pers pelan lalu, Setara menyebut Jakarta sebagai kota, bukan provinsi, setelah menggabungkan kelima wilayah, lalu menyebutnya Kota DKI Jakarta. Alasannya, kota-kota administratif di DKI tak memiliki kewenangan membuat peraturan kota sendiri.

Adapun hal yang Setara timbang dalam IKT mencakup empat hal. Masing-masing adalah regulasi kota yang kondusif; pernyataan dan tindakan aparatur pemerintah kota; tingkat peristiwa dan tindakan pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan; dan upaya kota tata kelola keberagaman identitas keagamaan warga.

Maka seperti terkutip oleh infografik, ada sepuluh kota dengan skor teratas. Salatiga, Jateng, yang tahun lalu menduduki peringkat ketiga, pada 2018 naik ke peringkat kedua.

Sedangkan Surakarta alias Solo, juga di Jateng, yang pada 2017 masuk ke peringkat ke sepuluh, tahun ini raib dari senarai.

Berdasarkan temuannya, Setara merekomendasikan agar presiden mendorong pemerintah kota di seluruh Indonesia menjadi teladan dalam implementasi Pancasila dan UUD 1945.

Itu survei pesanan

Terhadap temuan Setara, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mempertanyakan validatas data. Bahkan ia meminta kuesioner bahan survei.

Akan tetapi menurut Ketua Setara Institute Hendardi, "Kuesioner juga sudah kita kasih ke Pemda DKI tapi mereka tidak respons." (h/t detikcom).

Sedangkan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyatakan sedih atas IKT. Ia katakan, IKT rendah DKI merupakan hasil Pilkada 2017 (h/t RMOL).

Adapun Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD DKI Jakarta, Fajar Sidik, menolak IKT itu. Ia bilang, "Bukti toleransi di 212. Peserta bukan hanya umat muslim tapi umat lainnya ikut bergabung." (h/t detikcom).

Dari Depok, Jabar, juga terlontar sanggahan. Wakil Ketua II DPRD Depok, M. Supariyono, siang ini berpendapat, "Orang minoritas mana yang terancam, kan enggak ada? Saya sih menduga surveinya itu pesanan, datanya enggak valid." (h/t Tribunnews.com)

Hal lain dari IKT, di Aceh ada dua kota di yang masuk ke sepuluh terendah, yakni Sabang (ke-85) Banda Aceh (ke-93). Menurut Eramuslim, yang berkantor pusat di Bogor, Jawa Barat, Ketua Forum Kerukunan Umum Beragama (FKUB) Aceh, Nasir Zalba, tak sepakat dengan Setara.

Nasir bilang, "Masyarakat Aceh sangat menjunjung tinggi toleransi sesama umat beragama."

Artikel terbitan Ahad lalu itu juga mengutip seorang pendeta, Idaman Sembiring: "Kami sudah 37 tahun menetap di Aceh. Selama itu pula tidak pernah ada konflik beragama. Aceh sangat toleran."

Mereka yang sependapat

Sejauh terendus, belum ada kabar ihwal keberatan apalagi protes dan koreksi dari sepuluh kota yang duduk di peringkat atas.

Wakil Wali Kota Singkawang, Irwan, misalnya. Ia menyatakan kotanya sangat plural,"Sehingga kita bisa saling menghargai." (/t detikcom).

Sedangkan Wakil Wali Kota Salatiga, Muhammad Haris, berkomentar, "Asal kita mengamalkan agama masing-masing dengan baik, itu sudah merupakan bagian ikhtiar menjaga agar kota toleran terus dipertahankan...." (h/t TribunJateng.com)

Tentang Setara, lembaga di Jakarta itu didirikan pada 2005. Para pendirinya antara lain Abdurrahman Wahid, Azyumardi Azra, Benny Soesetyo, Bonar Tigor Naipospos, M. Chatib Basri, Pramono Anung, Rachland Nashidik, dan Rocky Gerung.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR