KORUPSI KEPALA DAERAH

KPK amankan Rp2,8 miliar barang bukti suap Wali Kota Kendari

Tiga orang penyidik KPK mengamankan tiga koper barang bukti dalam kasus suap yang melibatkan Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (8/3/2018).
Tiga orang penyidik KPK mengamankan tiga koper barang bukti dalam kasus suap yang melibatkan Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (8/3/2018). | La Ode Pandi Sartiman /Beritagar.id

Penyidikan kasus suap yang melibatkan Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra dan ayahnya, calon gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Asrun, terus bergulir. Rabu (8/3/2018), para penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan barang bukti uang Rp2,8 miliar hasil suap Direktur Utama PT Sarana Bangun Nusantara Hasmun Hamzah kepada Adriatma di Kendari.

Ini adalah barang bukti lanjutan. Dalam operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Adriatma, Asrun, Fatmawati Faqih (mantan kepala badan pengelolaan keuangan dan aset daerah Kendari), dan Hasmun pada 28 Februari lalu, KPK hanya menyita barang bukti buku rekening yang memuat transfer uang Rp1,5 miliar dan satu unit mobil.

Setelah melakukan pengembangan, KPK mendapat petunjuk bahwa uang tunai Rp2,8 miliar berbentuk pecahan Rp50 ribu yang terlibat dalam praktik suap disimpan di kediaman rekan Adriatma di BTN Beringin, Kelurahan Lepolepo, Kecamatan Baruga, Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Namun belum diketahui pasti siapa rekan Adriatma tersebut. Adapun dalam penyitaan di kediaman termaksud pada Rabu siang sekira pukul 11.00 WITA, KPK membawa pula satu unit mobil Honda Stream bernomor polisi DD 273 IJ.

Sebenarnya, kerabat Adriatma sempat menolak penggeledahan itu. Namun ia tak bisa mengelak ketika ditemukan uang yang tersimpan dalam kardus besar dan KPK mengancamnya akan menahannya bila terus menolak diperiksa.

Setelah menyita seluruh barang bukti, KPK membawanya ke salah satu hotel di Kendari dan menghitung seluruh uang di dalam kardus --termasuk dengan meminjam alat penghitung uang dari bank. Sehari kemudian, KPK membawa barang bukti sebanyak tiga koper ukuran medium dengan mobil Toyota Fortuner bernomor polisi DT 24 NO ke Mapolda Sultra sekitar pukul 10.10 WITA.

Penyidik KPK menyusun barang bukti uang yang disita dari pengembangan operasi tangkap tangan KPK terhadap Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra dan ayahnya calon gubernur Sultra Asrun di gedung KPK, Jakarta, Jumat (9/3/2018)
Penyidik KPK menyusun barang bukti uang yang disita dari pengembangan operasi tangkap tangan KPK terhadap Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra dan ayahnya calon gubernur Sultra Asrun di gedung KPK, Jakarta, Jumat (9/3/2018) | Wahyu Putro A /Antara Foto

"Iya ada barang bukti yang diamankan, termasuk uang. Jumlahnya silakan konfirmasi ke humas KPK," ujar Kepala Bidang Humas Polda Sultra AKBP Sunarto dalam pesan pendek kepada Beritagar.id, Kamis (8/3).

Sementara itu, Juru Bicara KPK Febri Diansyah dalam pesan tertulis mengungkapkan uang itu sempat dibawa dengan mobil ke hutan di sekitar Kendari setelah ditarik dari bank. Adapun uang yang ditarik dari bank, jelas Febri, hanya senilai Rp1,5 miliar.

Di area Mapolda Sultra terlihat dua unit mobil yang diduga digunakan untuk transaksi suap antara Adriatma dan Hasmun Hamzah. Selain Honda Stream, ada Toyota Avanza bernomor polisi DT 1657 FE dan sudah dilingkari garis segel bertuliskan KPK.

Mobil kedua tersebut diamankan sejak KPK melakukan OTT lalu. Inilah mobil yang digunakan untuk membawa uang dari bank. Sedangkan Honda Stream adalah kendaraan yang membawa total uang Rp2,8 miliar dan disembunyikan di kediaman kerabat Adriatma.

Selain menyita barang bukti, penyidikan KPK lebih lanjut juga memeriksa empat orang yang diduga mengetahui praktik suap antara wali kota dan pengusaha. Mereka adalah Rini dan Dayat yang merupakan pegawai PT Sarana Bangun Nusantara.

Lantas mantan calon bupati Kolaka Timur Wahyu Ade Pratama Imran, ipar Adriatma. Satu orang lagi adalah kerabat Adriatma yang menyembunyikan uang Rp 2,8 miliar meski identitasnya belum diketahui.

Febri mengatakan uang suap kepada Adriatma itu diduga untuk membiayai kampanye politik Asrun dalam pemilihan gubernur Sultra. Sementara PT Sarana Bangun Nusantara ini rekanan "dekat" pemkot Kendari sejak Asrun menjabat wali kota dalam dua periode (2007-2017).

Adriatma, Asrun, Fatmawati, dan Hasmun kini sudah menjadi tersangka dan telah mendekam di rumah tahanan KPK di Jakarta.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR