PENINDAKAN KORUPSI

KPK geledah rumah tersangka suap impor bawang

Anggota Komisi VI DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) I Nyoman Dhamantra mengenakan rompi tahanan seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (9/8/2019).
Anggota Komisi VI DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) I Nyoman Dhamantra mengenakan rompi tahanan seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (9/8/2019). | Dhemas Reviyanto/foc /ANTARA FOTO

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah rumah tersangka suap impor bawang putih sekaligus anggota Komisi VI DPR RI I Nyoman Dhamantra di Denpasar, Bali, pada Jumat (16/8/2019).

Selain rumah anggota Fraksi PDIP tersebut, penyidik juga menggeledah 18 lokasi lainnya di Jakarta dan Bandung.

"Kami lakukan penggeledahan di rumah tersangka di Denpasar yang merupakan salah satu rumahnya. Sekarang ada 19 lokasi penggeledahan dari 9 Agustus sampai 16 Agustus kemarin," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, seperti dikutip dari Tribunnews.com di Denpasar, Bali.

Sebelumnya, penyidik juga menggeledah ruang kerja Nyoman di Senayan dan apartemen di bilangan Permata Hijau --keduanya di Jakarta.

Dari seluruh lokasi penggeledahan, penyidik menyita barang bukti berupa barang elektronik dan data lainnya.

Menurut catatan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) KPK, Nyoman tercatat memiliki rumah di kawasan Jakarta Selatan seluas 800 meter persegi yang dibeli pada 2000 dan seluas 750 meter persegi yang dibeli pada 1985.

Selain itu, ia juga memiliki tanah dan bangunan di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, masing-masing seluas 42.016 meter persegi dan 2.000 meter persegi yang diperolehnya pada 2003.

Dalam catatan tersebut, Nyoman memiliki harta kekayaan sebanyak Rp25,18 miliar per 30 Juni 2016 atau meningkat 18,8 persen dari harta kekayaannya pada 2010, sebanyak Rp21,19 miliar.

Selain properti milik Nyoman, penyidik juga menggeledah di lokasi yang terkait dengan lima tersangka lainnya. Masing-masing pihak swasta yang diduga memberi suap yakni Zulfikar, Doddy Wahyudi, dan Chandry Suanda. Ada pula orang kepercayaan Nyoman; Mirawati Basri dan Elviyanto.

Pemeriksaan saksi

Barang bukti yang sudah diamankan oleh lembaga antirasuah selanjutnya digunakan untuk penyidikan. Dalam proses tersebut, para penyidik akan memanggil para saksi terkait. Keterangan para saksi akan dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

BAP inilah yang kemudian menjadi basis informasi para penyidik untuk membuat surat dakwaan yang selanjutnya dilimpahkan ke pengadilan (P21).

Sebelumnya, KPK menangkap Nyoman bersama 12 orang lainnya pada Kamis (8/8) lalu yang diduga terjerat kasus perizinan impor bawang putih. Kasus diduga bermula dari pengurusan rekomendasi izin bawang putih perusahaan importir Cahaya Sakti Agro milik Chandry Suanda.

Lantaran izin tak kunjung terbit, pihak perusahaan mendekati Mirawati Basri dan Elviyanto untuk meminta bantuan Nyoman mengurus izin tersebut. Nyoman diduga meminta imbalan Rp3,6 miliar.

Chandry kemudian meminta bantuan Zulfikar untuk turut membayar uang tersebut dengan imbalan bunga Rp100 juta per bulan dan bagian Rp50 ribu per kg bawang.

Chandry, Doddy, dan Zulfikar dijerat pasal pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara Nyoman, Mirawati, dan Elviyanto disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Kebutuhan bawang putih tinggi

Impor bawang putih tak terelakkan dan menjadi potensi ladang basah korupsi. Impor bawang putih pada 2018 meningkat 4,84 persen menjadi 582.995 ton dari tahun sebelumnya. Angka ini tercatat sebagai impor tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

Pada 2018, produksi bawang putih di Indonesia hanya dapat memenuhi 8,24 persen dari kebutuhan nasional sebanyak 476.677 ton.

Dibandingkan tahun sebelumnya, produksi cenderung meningkat dua kali lipat, tapi masih terjadi defisit bawang putih sebanyak 437.375 ton.

Pada 2017, produksi sejumlah 19.513 ton hanya mencukupi 4,15 persen dari kebutuhan nasional 470.559 ton.

Tren tersebut sama, di mana produksi bawang putih hanya mampu mencukupi 4,23 persen kebutuhan nasional pada 2015 dan 4,50 persen dari kebutuhan pada 2016.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR