OTT KPK

KPK jaring Bupati Buton Selatan

Seorang penyidik KPK mengangkut kardus yang diduga berisi uang suap Bupati Buton Selatan di Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (23/5/2018),
Seorang penyidik KPK mengangkut kardus yang diduga berisi uang suap Bupati Buton Selatan di Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (23/5/2018), | La Ode Pandi Sartiman /Beritagar.id

Bupati Buton Selatan Agus Feisal Hidayat bersama sembilan orang lainnya terjaring operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (23/5/2018). Penangkapan terjadi ketika mereka sedang melakukan transaksi dugaan suap di rumah jabatan Bupati Buton Selatan di Baubau, Sulawesi Tenggara, sekitar pukul 19.00 WITA.

Mereka semua langsung dibawa para penyidik lembaga antirasuah ini dan menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Baubau. Kapolres Baubau AKBP Daniel Widya Mucharam saat dikonfirmasi Beritagar.id melalui telepon seluler membenarkan pemeriksaan ini.

"Benar dia diperiksa. Kalau dia diberangkatkan ke Jakarta oleh KPK, ya, saya balik malam ini," ujar Daniel.

Konfirmasi juga diberikan Kabid Humas Polda Sultra AKBP Harry Goldenhardt dengan mengungkapkan pemeriksaan berlangsung di ruang penyidik Mapolres Baubau. Namun, Harry belum menjelaskan kasus apa yang terjadi dalam OTT tersebut.

Selain meringkus 10 orang, para penyidik KPK yang dibantu aparat Polres Baubau mengangkut beberapa barang bukti yang dimuat dalam dua kardus besar berlogo KFC pada pukul 20.21 WITA. Diduga, kardus tersebut berisi uang untuk suap proyek di Pemerintahan Kabupaten Buton Selatan.

Ketua KPK Agus Raharjo mengatakan timnya tengah bekerja di lapangan dan sementara memeriksa sembilan orang. Namun, ia pun enggan menjelaskan kasus apa yang meliputi OTT ini dan meminta awak media untuk bersabar..

"Betul, tunggu konferensi pers besok (Kamis 24/5)," kata Agus melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah kepada Liputan6.com mengatakan bahwa uang Rp400 juta turut disita dalam OTT termaksud. KPK menduga itu adalah uang suap untuk pengurusan proyek di lingkungan Pemkab Buton Selatan.

Febri pun menjelaskan bahwa mereka yang ditangkap memiliki latar belakang profesi dan kapasitas berbeda. "Sekitar 10 orang diamankan termasuk Bupati, PNS, konsultan lembaga survei, dan pihak swasta," imbuh Febri.

Bupati kenyang pilkada

Agus Feisal Hidayat adalah orang asli Baubau kelahiran 11 Agustus 1976. Meski masih berusia 42, Agus punya pengalaman politik cukup banyak karena sudah mengikuti lima kali pilkada--empat pilkada pertama selalu gagal.

Saat ayahnya LM Sjafei Kahar masih menjabat sebagai Bupati Buton, Agus maju ke Pemilihan Wali Kota Baubau pada 2007 mendampingi Umar Samiun. Namun pada pertarungan perdananya itu ia kalah dari pasangan Amril Tamim-Ibrahim Marsela.

Semangat tarungnya kembali berkobar pada 2011 atau ketika masa jabatan ayahnya berakhir. Ia didorong untuk melanjutkan dinasti bapaknya dengan menggaet politikus PKS, Yaudu Salam Ajo, sebagai calon wakil bupati Buton.

Pada putaran pertama, pasangan berakronim AYO ini memenangi pertarungan dan berakhir dengan sengketa. Namun, setelah sengketa dibawa ke Mahkamah Konstitusi (MK), konstalasi politik berubah.

Mantan hakim MK yang kini tengah menjalani hukuman penjara seumur hidup karena kasus suap, Akil Mochtar, memaksa Pilkada Buton harus mengalami pemungutan suara ulang (PSU) di seluruh TPS.

Pemilihan pun berlanjut ke putaran kedua. Di sini lah, kemenangan Agus-Yaudu tidak bisa dipertahankan. Akil menegaskan bahwa jawara pilkada Buton berpihak ke Umar-La Bakry.

Belakangan sengketa di MK itu menguak praktik suap. Akil didakwa KPK telah menerima suap dari Umar Samiun sebesar Rp1 miliar dalam perkara sengketa Pilkada Buton. Umar pun turut menjadi pesakitan KPK dalam kasus ini.

Tak jera dengan kekalahan, Agus kembali mengikuti Pilwali Baubau pada 2012. Namun, ia maju wakil Amril Tamim dengan akronim pasangan Amanah.

Namun, Agus dipaksa kembali menelan pil pahit. Dewi fortuna belum berpihak kepadanya. Ia dan Amril ditundukkan pasangan AS Thamrin-Wa Ode Maasra Manarfah.

Musim berganti hingga lahir daerah otonomi baru Buton Selatan pada 2014. Setelah masa jabatan dua Penjabat (Pj) Bupati Buton Selatan berakhir, Buton Selatan menggelar pilkada serentak untuk pertama kali pada 2015.

Agus pun maju sebagai calon bupati dan menggaet La Ode Arusani sebagai wakilnya. Mereka melewati kompetisi pilkada yang sarat kompetitif lantaran harus bersaing dengan tiga pasangan lainnya.

Nomor urut 1 Sattar-Yasin Welson (PAN), nomor urut 2, pasangan Muhammad Faisal-Wa Ode Hasnawati diusung NasDem, Hanura, Gerindra, PKPI, PBB dan PKB.

Sedangkan pasangan Agus Feisal Hidayat-La Ode Arusani mendapatkan nomor urut 3 yang diusung Partai Golkar, PDIP, PKS, dan Partai Demokrat. Sedangkan pasangan nomor urut 4 adalah Agus Salim-La Ode Agus dari jalur perseorangan.

Agus-Arusani keluar sebagai pemenang dengan perolehan 17.224 suara atau 43,01 persen. Lalu disusul pasangan Muh Faisal-Wa Ode Hasniwati, 15.686 suara atau 39, 17 persen. Di posisi ketiga Sattar-Welson 5.915 suara atau 14,77 persen dan pasangan Agus Salim-La Ode Agus 1.218 suara atau 3,04 persen berada di posisi akhir.

Kemenangan Agus-Arusani sempat dibawa ke MK. Namun, majelis hakim menilai kemenangan Agus-Arusani tak bisa dianulir.

Tepat setahun lalu atau 22 Mei 2017, Agus Feisal Hidayat dan La Ode Arusani resmi menjabat bupati dan wakil bupati defenitif daerah otonomi baru (DOB) Buton Selatan.

Namun, baru satu tahun mengelola anggaran daerahnya, Agus langsung beurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Di tengah peristiwa ini; ayah Agus, Sjafei Kahar, sedang menapaki peruntungan sebagai calon gubernur Sultra bersama Rusda Mahmud.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR