Kronologi dan modus korupsi di Banyuasin

Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian memasuki Gedung KPK Minggu (4/9). KPK menangkap tangan Yan bersama beberapa pejabat di Kabupaten Banyuasin terkait ijon proyek di Dinas Pendidikan setempat.
Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian memasuki Gedung KPK Minggu (4/9). KPK menangkap tangan Yan bersama beberapa pejabat di Kabupaten Banyuasin terkait ijon proyek di Dinas Pendidikan setempat.
© Hafidz Mubarak A. /ANTARA

Haji tahun ini memang penuh warna. Ada yang berangkat bawa jimat, ada pula yang tertambat di Filipina. Namun ada juga yang baru pamit berangkat ke tanah suci, tapi malah terjerumus ke bui.

Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian (YAF) sedianya segera berangkat naik haji. Minggu (4/9) lalu, ia menggelar pengajian untuk pamitan naik haji bersama istri. Tapi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera membekuknya. Menurut KPK, Yan ditangkap lantaran menerima uang haram dari pemilik CV Putra Pratama, Zulfikar Muharrami.

Uang itu bukan untuk foya-foya atau ditimbun. Tapi digunakan Yan untuk berangkat berhaji bersama istrinya. Rencananya, ia akan berangkat Rabu (7/9).

Menurut Komisioner KPK, Basaria Panjaitan, YAF meminta duit Rp1 miliar, bagi yang ingin mendapatkan proyek di kabupaten di Sumatera Selatan itu. Separuh lebih dari uang itu ia gunakan untuk naik haji. "Rp531,6 juta ditransfer ke biro perjalanan itu pembayaran berdua (bersama istrinya)," kata Basaria, Senin (5/9) seperti dipetik dari detikcom.

Basaria menjelaskan, ada enam orang yang ditangkap Minggu pagi hingga siang itu. Selain YAF, mereka adalah Kirman selaku pengepul dana, Umar Usman (Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin), Rustami (Kepala Bagian Rumah Tangga Kabupaten Banyuasin), Sutaryo (Kepala Seksi Pembangunan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Pendidikan Dasar Kabupaten Banyuasin), dan pengusaha bernama Zulfikar Muharami. Mereka semua ditetapkan sebagai tersangka.

KPK menangkap Kirman di sebuah lokasi di Sumatera Selatan sekitar pukul 07.00 WIB. Dua jam kemudian, KPK meringkus Sutaryo di kediamannya di Banyuasin. Tiga jam berlalu, di Jakarta, KPK menangkap Zulfikar di sebuah hotel di Mangga Dua,

Di Banyuasin, Tim KPK terus menangkap jaringan yang terlibat. Pukul 13.00 KPK menangkap YAF, Usman, dan Rustami di rumah dinas Bupati Banyuasin, selepas pengajian pamit haji. "Jadi dalam hal ini KPK menunggu dahulu sampai selesai acaranya," ujarnya seperti dinukil dari CNN Indonesia.

Basaria menuturkan, dari rangkaian penangkapan itu, KPK menyita uang lebih dari Rp1 miliar. Dari tangan YAF disita Rp299,8 juta dan US$11.200 atau setara Rp150 juta. KPK juga menyita uang Rp50 juta dari Sutaryo.

Dari tangan Kirman ditemukan bukti transfer uang ke sebuah biro perjalan haji PT TB sebesar Rp531,6 juta. Fasilitas haji ini berasal dari Zulfikar.

Basaria menjelaskan, fasilitas haji ini permintaan dari YAF. Awalnya, YAF, yang disokong partai Golkar tersebut menyuruh Rustami untuk mencari uang Rp1 miliar. Yan memerintahkan Rustami untuk bertanya kepada Usman soal anggaran di Dinas Pendidikan Banyuasin. YAF mengetahui akan mendapatkan dana dari proyek-proyek dari Dinas Pendidikan.

Nah, bagi pengusaha yang ingin mendapatkan proyek, YAF diduga meminta imbalan. "Jadi ini semacam ijon," ujar Basaria. Setelah saling berkomunikasi, Usman, Kirman dan Sutaryo lantas menghubungi Zulfikar, seorang pengusaha. Mereka bersepakat imbalan Rp1 miliar.

YAF hanya bisa minta maaf. "Saya salah dan saya hilaf. Saya mohon maaf," ucap Yan saat digelandang petugas KPK, seperti dikutip dari Tribunnews.com.

Partai Golkar segera memecat YAF, yang juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah Golkar Banyuasin. "Kalau begini dipecat," kata Ketua Korbid Polhukam Golkar Yorrys Raweyai. Sedangkan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, masih menunggu keputusan KPK untuk memecat YAF dari kursi Bupati. "Kami tunggu pengumuman resmi dan pemberitahuan dari KPK dahulu untuk mengambil keputusan terkait hal itu ," ucap Tjahjo.

KPK tak hanya berhenti pada YAF. Pemeriksaan bisa juga mengarah pada ayahnya YAF, Amiruddin Inoed. Sebelum dijabat YAF, Inoed memegang jabatan Bupati Banyuasin dua periode, 2003-2008 & 2008-2013.

"Kemungkinan (ada aliran uang dari Yan ke ayahnya) itu pasti. Kemungkinan pasti berhubungan dengan bupati atau semua berhubungan kasus ini pasti akan diperiksa siapa pun orangnya," kata Basaria.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.