Kronologi penganiayaan dan pembunuhan Salim Kancil


Pegiat lingkungan yang tergabung dalam Tunggal Roso melakukan aksi solidaritas terhadap pembunuhan petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim Kancil di depan Balaikota Malang, Jawa Timur, Senin (28/9). Mereka menuntut kepolisian mengusut tuntas serta menangkap aktor intelektual dibalik kasus pembunuhan tersebut sesuai temuan Kontras dan Walhi.
Pegiat lingkungan yang tergabung dalam Tunggal Roso melakukan aksi solidaritas terhadap pembunuhan petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim Kancil di depan Balaikota Malang, Jawa Timur, Senin (28/9). Mereka menuntut kepolisian mengusut tuntas serta menangkap aktor intelektual dibalik kasus pembunuhan tersebut sesuai temuan Kontras dan Walhi. | Ari Bowo Sucipto /ANTARAFOTO

Pembunuhan warga Desa Selok Awar-Awar, Lumajang, Jawa Timur Samsul alias Salim Kancil (46) memicu kemarahan banyak pihak. Salim menjadi korban aksi kekerasan dan penganiayaan sekelompok orang secara brutal.

Aktivitas Salim Kancil menolak tambang Galian C di desanya, diduga menjadi latar aksi kekerasan ini. Awal terjadinya penolakan aktivitas penambangan pasir oleh masyarakat Desa Selok Awar-Awar dimulai sekitar Januari 2015.

Penolakan warga dibendung dalam Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-Awar (FKMPDSA), yang dinisiasi oleh 12 warga, yaitu Tosan, Iksan Sumar, Ansori, Sapari, Salim (Kancil), Abdul Haid, Turiman, Hariyadi, Rosyid, Mohammad Imam, Ridwan dan Cokrowiodo.

Dilansir Kontras Surabaya, forum ini melakukan beberapa gerakan advokasi protes tentang penambangan pasir yang menyebabkan rusaknya lingkungan di desa mereka. Berikut beberapa gerakan advokasi mereka:

Juni 2015. Forum warga menyurati Bupati Lumajang untuk meminta audiensi tentang penolakan tambang pasir. Surat tersebut tidak direspons oleh Bupati Lumajang.

9 September 2015. Forum warga melakukan aksi damai penghentian aktivitas penambangan pasir dan truk muatan pasir di Balai Desa Selok Awar-Awar.

10 September 2015. Muncul ancaman pembunuhan yang diduga dilakukan oleh sekelompok preman yang dibentuk oleh Kepala Desa Selok Awar-Awar kepada Tosan. Kelompok preman tersebut diketuai oleh Desir.

11 September 2015. Forum melaporkan tindak pidana pengancaman ke Polres Lumajang yang diterima langsung oleh Kasat Reskrim Lumajang, Heri. Saat itu Kasat menjamin akan merespons pengaduan tersebut.

19 September 2015. Forum menerima surat pemberitahuan dari Polres Lumajang terkait nama-nama penyidik Polres yang menangani kasus pengancaman tersebut.

21 September 2015. Forum mengirim surat pengaduan terkait penambangan ilegal yang dilakukan oleh oknum aparat Desa Selok Awar-Awar di daerah hutan lindung Perhutani.

25 September 2015. Forum mengadakan koordinasi dan konsolidasi dengan masyarakat luas tentang rencana aksi penolakan tambang pasir dikarenakan aktivitas penambangan tetap berlangsung. Aksi ini rencananya digelar 26 September 2015 pukul 07.30 WIB.

26 September 2015. Sekitar pukul 08.00 WIB, terjadi penjemputan paksa dan penganiayaan terhadap dua orang anggota forum yaitu Tosan dan Salim Kancil.

Kejadian penganiayaan Tosan

Sekitar pukul 07.00 WIB, Tosan sedang menyebarkan selebaran di depan rumahnya bersama Imam.

Sekitar pukul 07.30 WIB, sekelompok preman berjumlah sekitar 40 orang dengan sepeda motor mendatangi Tosan dan mengeroyoknya. Sebelum diminta melarikan diri oleh Tosan, Imam sempat melerai penganiayaan tersebut.

Tosan dianiaya dengan menggunakan kayu, batu dan celurit. Tosan mencoba lari dengan menggunakan sepeda angin, namun gerombolan tersebut berhasil mengejar. Di Lapangan Persil, korban terjatuh, dan kemudian dianiaya kembali dengan pentungan kayu, pacul, batu dan celurit, bahkan sempat ditindas dengan sepeda motor.

Tak lama, Ridwan, rekan satu forum Tosan, datang dan melerai. Preman kabur. Ridwan membawa Tosan ke RSUD Lumajang.

Kejadian penganiayaan Salim Kancil

Setelah menganiaya Tosan, gerombolan preman tersebut kuat diduga menuju rumah Salim Kancil. Salim, yang saat itu sedang menggendong cucunya yang berusia 5 tahun, langsung meletakkan cucunya di lantai ketika gerombolan tersebut datang dan menjemput paksa.

Gerombolan mengikat tangan Salim dan membawanya ke Balai Desa Selok Awar-Awar yang berjarak 2 km dari rumahnya dengan cara diseret. Selain dipukuli, digergaji lehernya, Salim juga diestrum. Kejadian terjadi kurang lebih setengah jam, hingga menimbulkan kegaduhan yang pada saat itu sedang berlangsung proses belajar mengajar di sebuah sekolah Paud.

Kebal dengan penganiayaan tersebut, Salim kemudian diseret kembali ke sebuah daerah pemakaman. Salim akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya ketika dihujani pukulan batu di kepalanya dalam posisi tertelungkup dengan tangan terikat.

Tubuh, terutama kepala korban penuh luka benda tumpul, di dekatnya banyak batu dan kayu berserakan.

Tersangka

Dari kesaksian Ridwan dan Imam yang telah dimintai keterangan oleh pihak penyidik Polres Lumajang, ada 19 nama yang diduga pelaku penganiayaan dan pembunuhan kepada Tosan dan Salim Kancil, antara lain Desir, Eksan, Tomin, Tinarlap, Siari, Tejo, Eli, Budi, Sio, Besri, Suket, Siaman, Jumunam, Satuwi, Timar, Buri, Miso, Parman dan Satrum.

Dilansir Suarasurabaya.net, Polres Lumajang saat ini telah mengamankan 22 orang terduga pelaku pengeroyokan.

Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono Kabid Humas Polda Jatim mengatakan, dari 22 terduga pelaku ini 19 diantaranya sudah ditahan. "Dua tersangka lainnya tidak ditahan karena masuk kategori di bawah umur yakni 16 tahun," kata dia pada Radio Suara Surabaya.

Kedua terduga pelaku di bawah umur ini, lanjut dia, juga ikut dalam aksi pengeroyokan pada korban.

Kombes Pol Raden menjelaskan, berkas kasus ke 22 terduga pelaku ini masih diproses. "Dikroscek dulu antara peran tersangka, barang bukti dan menurut keterangan saksi untuk mempermudah pemberkasan. Kan ada yang terlibat pengeroyokan saja, pembunuhan saja dan ada yang pengeroyokan serta pembunuhan," ujar dia.

Atas kejadian ini, Tim Advokasi Tolak Tambang Pasir Lumajang yang terdiri dari Laskar Hijau, WALHI Jawa Timur, KONTRAS Surabaya, dan LBH Disabilitas pun mengeluarkan sikap:

  1. Mendesak Kepolisian dan aparat penegak hukum lainnya untuk serius dalam mengusut para pelaku pembantaian terhadap Salim Kancil dan Tosan hingga aktor intelektual dibalik peristiwa kekerasan di desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang tersebut, dan mengganjar pelaku dengan hukuman seberat-beratnya sesuai pasal 340 KUHP
  2. Mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang untuk segera menutup seluruh pertambangan pasir di pesisir selatan Lumajang.
  3. Meminta agar Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk segera memberikan perlindungan terhadap saksi dan korban
  4. Meminta Komnas HAM agar segera turun ke lapangan dan melakukan Investigasi
  5. Meminta Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk memberikan trauma healing kepada anak dan cucu dari alm. Salim Kancil serta anak-anak PAUD yang menyaksikan insiden penganiayaan alm Salim Kancil di Balai Desa Selok Awar-Awar.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR