Kronologi razia berdarah di Lubuklinggau

Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Agung Budi Maryoto  memberikan keterangan peristiwa penembakan warga oleh Brigadir K di sela razia Polres Lubuk Linggau Sumsel, di Mapolda Sumsel Palembang,Rabu (19/4).
Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Agung Budi Maryoto memberikan keterangan peristiwa penembakan warga oleh Brigadir K di sela razia Polres Lubuk Linggau Sumsel, di Mapolda Sumsel Palembang,Rabu (19/4).
© Feny Selly /ANTARA

Niat menghadiri acara hajatan keluarga itu berbuah maut. Selasa (18/4), sebuah keluarga dari Desa Blitar Muka, Kecamatan Sindang Kelingi, Rejang Lebong, Bengkulu, mengendarai mobil Honda City hitam nomor polisi BG 1488 ON.

Tujuannya untuk menghadiri hajatan keluarga di Muara Beliti, Musi Rawas, Sumatera Selatan. Tapi di tengah perjalanan, mereka menemui razia polisi.

Salah satu penumpang, Novianti (35 tahun) mengingatkan Diki yang mengendalikan kemudi. "Berhentilah Pak, nanti ditembak Pak Polisi," kata Novianti kepada pria 30 tahun itu, seperti dinukil detikcom.

Diki malah memilih kabur dari razia.

Diki diketahui tak memiliki SIM. Pajak mobil juga mati. Mobil itu juga tak memakai nomor pelat semestinya.

Mobil tersebut seharusnya memakai pelat B, karena dari Jakarta. Sedangkan yang dipakai pelat nomor BG, kode pelat kendaraan di Sumatera Selatan.

Penumpangnya juga melebihi kapasitas. Harusnya mobil itu maksimal hanya diisi empat orang. "Mungkin dia (Diki) nggak dengar (peringatan)," kata Novianti. Mobil itu tetap melaju.

Menurut Kepala Polda Sumatera Selatan, Irjen Pol Agung Budi Maryoto, seperti dinukil dari Liputan6.com, saat kejadian memang ada razia Cipta Kondisi untuk menekan tindak kriminal pencurian menjelang bulan Ramadan.

Razia tersebut juga sudah memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) karena dipimpin oleh Kapolsek Lubuk Linggau Timur yang berpangkat Perwira, sudah ada papan petunjuk, hingga pembagian tugas.

Polisi sempat memberi tanda agar mobil tersebut berhenti. Namun, Honda City itu justru melaju dengan kencang.

Polisi kesulitan melihat penumpang di dalam mobil, karena kaca kendaraan sangat gelap dan tak tembus pandang.

Polisi sudah menyuruh pengendara mobil dimaksud untuk berhenti dan keluar dari kendaraan. Namun pengemudi Honda City masih terus tancap gas.

Bahkan, mobil tersebut hampir menabrak tiga polisi dan masyarakat yang melintas di sekitar jalan raya itu.

Akhirnya, petugas memberikan tembakan peringatan tiga kali, tapi laju kendaraan tidak juga berhenti.

Novianti menyatakan, kemudian mobil ditembak dari belakang. "Nggak tahu berapa tembakan. Pokoknya banyak," ungkap Novianti.

Kapolres Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan, AKBP Hajat Mabrur menjelaskan polisi memberi tembakan peringatan ke udara, tapi tak digubris. Mobil tetap melaju. Polisi mengejar Honda City.

Aksi kejar-kejaran berlangsung sepanjang dua kilometer. Lalu polisi menembak ban mobil. "Polisi menembak ban mobil, dan peluru memantul (rekoset) ke badan mobil hingga mengenai penumpang di dalam mobil," jelas seperti dikutip dari Kompas.com.

Akibatnya, 6 dari 8 penumpang di dalam mobil itu terkena tembakan. Surini (55) tewas karena luka tembakan di beberapa bagian tubuhnya.

Korban luka Diki, si pengemudi kena tembak di bagian punggung, Indra (32) di tangan bagian kiri, Novianti (31) di lengan sebelah kanan dan Dewi Arlina (35) di lengan sebelah kiri. Genta Wicaksono (3) luka di atas telinga sebelah kiri karena diduga terserempet peluru.

Dua penumpang, Gilang (8) dan SM (71) luput dari peluru.

Brigadir K yang disebut-sebut sebagai penembak, ternyata menggunakan senjata laras panjang tipe SS1 jenis V2. Anggota Sabhara Polres Lubuk Linggau ini diperiksa oleh Divisi Profesi dan Pengamanan Polri.

Polisi mengamankan barang bukti berupa satu senjata tipe SS1 tipe V2 dan 7 butir selongsong peluru.

Hajat Mabrur menyatakan, saat razia terjadi, Brigadir K ikut mengejar dan membawa senjata tersebut. "Memang benar peluru itu dari senjatanya," ujar Mabrur, seperti dilansir Viva.co.id.

Tapi, penggunaan senjata itu memang telah menyalahi prosedur sehingga menewaskan seorang warga sipil. "Untuk senjata laras panjang, peruntukannya bukan seperti itu," kata Hajat.

Brigadir K bersama sepuluh saksi lainnya juga akan mengikuti serangkaian tes, salah satunya tes psikologi dan tes kesehatan, termasuk tes urine.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.