Kronologi tewasnya Adam dan budaya kekerasan di Akpol

Foto sekadar ilustrasi menunjukkan para taruna Akpol. Diambil dari video "INDONESIA POLICE ACADEMY" di YouTube.
Foto sekadar ilustrasi menunjukkan para taruna Akpol. Diambil dari video "INDONESIA POLICE ACADEMY" di YouTube.
© Humas Akpol /Youtube

Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) tingkat II, Muhammad Adam (20), tewas dengan luka memar di bagian dada, Kamis pagi (18/5). Ia diduga menjadi korban kekerasan yang dilakukan para seniornya di Akpol, Semarang, Jawa Tengah

Dalam kasus ini, Polda Jawa Tengah telah memeriksa 21 orang taruna. Termasuk 12 orang taruna tingkat III (senior Adam).

"(Meninggalnya) Brigdatar Muhammad Adam No. Akademi 15.269, akibat diduga adanya tindakan pemukulan yang dilakukan oleh taruna tingkat III, Brigadir Satu Taruna (Brigtutar) sebanyak 12 taruna," kata Kabid Propam Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Budi Haryanto, dilansir Liputan6.com.

Kronologi kasus ini sempat diungkapkan Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto, dalam jumpa pers di Mabes Polri, Kamis (18/5).

Peristiwa bermula pada apel malam yang dilakukan taruna tingkat II dan III, sekitar pukul 21.00 WIB, Rabu (17/5). Apel menyepakati pemberian waktu pesiar (ke kafe).

Sekitar pukul 01.00 WIB, Kamis (18/5), 22 orang taruna tingkat II yang tergabung dalam korps Himpunan Indonesia Timur diminta berkumpul oleh taruna tingkat III di Gudang A, Akpol. Konon, pengumpulan itu dipicu dugaan pelanggaran waktu pesiar.

Kala itulah peristiwa kekerasan terjadi. Mula-mula seluruh taruna tingkat II diminta mengambil sikap tobat, tetapi Adam justru ditarik ke depan oleh salah seorang senior. Ia lantas dipukul sekitar 5-6 kali di bagian ulu hati. Pukulan terakhir menyebabkan Adam kolaps.

Para taruna tingkat III sempat melakukan upaya pertolongan pertama. Pun, korban sempat dipindahkan dari TKP gudang ke kamar A 1.3 (kamar sebelah gudang A). Peristiwa ini juga langsung dilaporkan kepada pengawas.

Sekitar pukul 02.25 WIB, korban dibawa ke RS Akpol oleh dua orang pengawas. Namun, kondisi korban telah kaku saat dilarikan ke rumah sakit.

Nahas pun datang. Pemeriksaan dokter RS. Akpol, pukul 02.45 WIB, menyimpulkan korban telah meninggal dunia.

Jenazah akhirnya dibawa ke RS Bhayangkara, Semarang, untuk autopsi--atas persetujuan keluarga. Autopsi menyimpulkan korban meninggal lantaran luka di kedua paru-paru.

Jenazah korban akhirnya diterbangkan ke Jakarta dan dimakamkan di TPU yang tak jauh dari tempat tinggalnya, bilangan Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis malam (18/5).

Adapun pihak keluarga telah bulat tekad menempuh jalur hukum dalam kasus ini. "Jika memang terbukti ada tindak kekerasan, kita rencana menuntut," kata paman Adam, Handri, dikutip kumparan.

Menghentikan budaya kekerasan

Kepala Polri, Jenderal Tito Karnavian, terlihat geram kala berbicara soal peristiwa tewasnya Adam. Tito mengaku, sudah memerintahkan Kapolda Jawa Tengah untuk segera memproses pidana kasus ini.

Ia pun menyoroti dan meminta penghentian budaya kekerasan di Akpol. "Saya sudah tegaskan budaya pemukulan kekerasan tidak boleh terjadi lagi," kata Tito, saat berbicara dalam agenda Tabligh Akbar di STIK-PTIK, Jakarta Selatan, Kamis (18/5/2017).

Bahkan, Tito meminta Propam (Profesi dan Pengamanan) untuk turun langsung ke Akpol, guna mengevaluasi kinerja para pengasuh taruna dan menghentikan budaya kekerasan.

Kasus ini juga mendapat perhatian dari Indonesia Police Watch (IPW).

Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, meminta agar para pelaku kekerasan dipecat, tak peduli mereka anak jenderal atau para pembesar. Kasus kekerasan, kata Neta, masih menjadi budaya terselubung di Akpol.

"Kasus ini menyisakan misteri panjang sekaligus menunjukkan bahwa kekerasan masih menjadi bagian terselubung dalam sistem pendidikan di kepolisian," ucap Neta, dilansir TribunNews (19/5). "Jumlah kasus kasus seperti itu tidak signifikan, tapi tetap mengganggu profesionalisme pendidikan di Akpol.".

Penelusuran cepat lewat Google (halaman I) menunjukkan, ada dua kasus kekerasan di Akpol dalam kurun waktu sekitar satu dekade terakhir.

Pada Agustus 2006, tercatat ada kasus penganiayaan Sersan Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Hendra Saputra (21).

Kasus lain riuh pada November 2011. Kala itu, dua mantan taruna, Dimas Prabowo Sulistiyo dan Ahmad Januar Ganari menggugat Akpol di PTUN Semarang. Mereka keberatan dengan pemecatan yang mereka terima.

Akpol berdalih, kedua penggugat dipecat lantaran cedera saat mengikuti pelatihan dan tak mengikuti pendidikan selama dua bulan. Sedangkan, kedua penggugat mengaku tak mengikuti pendidikan lantaran sakit akibat penganiayaan yang dilakukan para senior mereka.

Dalam kasus ini, Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang mengabulkan gugatan para penggugat. Upaya banding pihak Akpol di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya juga ditolak.

Sebenarnya, Akpol telah berusaha menekan budaya kekerasan. Pada 2014, Akpol meluncurkan Sistem Informasi Akademi Kepolisian (SIAK).

Anggarannya mencapai 27 miliar, termasuk untuk mengadakan 160 kamera yang terpasang di sejumlah titik strategis. Konon, kamera itu juga bisa diakses lewat pelbagai gawai.

Sebagai pengingat, budaya kekerasan di lingkungan sekolah kedinasan bisa masuk kategori bullying (perundungan). Beritagar.id pernah membahas perkara ini pada "Editoral" (12 Januari 2017).

Ringkas kata, perundungan bisa diartikan sebagai perilaku agresif dan kekerasan berulang yang berlangsung dalam situasi ketimpangan kekuasaan atau kekuatan.

Dalam kasus Adam, ketimpangan kekuasaan yang memicu kekerasan terletak pada relasi senior dan junior.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.