Kuburan massal Rohingya jadi fakta baru adanya genosida


Pengungsi anak Rohingya bermain di dalam kamp Balukhali, dekat Cox's Bazar, Bangladesh, Jumat (12/1/2018).
Pengungsi anak Rohingya bermain di dalam kamp Balukhali, dekat Cox's Bazar, Bangladesh, Jumat (12/1/2018). | Tyrone Siu /ANTARAFOTO

Fakta baru dugaan pembunuhan massal (genosida) terhadap etnis muslim minoritas Rohingya muncul ke publik.

Laporan investigasi yang disusun jurnalis Associated Press, Foster Klug, mengungkap keberadaan lima kuburan massal di Desa Gu Dar Pyin, Provinsi Rakhine, Myanmar.

Dalam investigasinya, Klug mewawancarai puluhan pengungsi Rohingya di kamp Cox's Bazaar, Bangladesh, dan mendapati beberapa rekaman video ponsel amatir yang direkam pengungsi yang berhasil menyelamatkan diri.

Seorang saksi mata, Mohammad Sha (37), menceritakan bagaimana ratusan tentara Tatmadaw menyisir rumah-rumah penduduk muslim Rohingya, dua hari setelah serangan tentara di bagian barat Rakhine pada 25 Agustus 2017.

Sha, yang saat itu bersembunyi di balik perkebunan kelapa bersama dengan 100 warga Rohingya lainnya, mengatakan sejumlah warga Buddha Rakhine juga turut membantu upaya penyisiran rumah-rumah muslim Rohingya yang dilakukan pasukan Myanmar itu.

Para tetangga Buddha itu, dideskripsikan Sha, menutup sebagian wajahnya dengan kain dan bertugas mengumpulkan barang-barang milik muslim Rohingya ke dalam 10 kereta kayu, sebelum akhirnya dibakar oleh tentara.

Selanjutnya, para tentara membakar rumah-rumah serta menembaki warga yang tidak berhasil melarikan diri.

Noor Kadir (14), saksi mata yang berhasil selamat, menceritakan bahwa dirinya sedang bermain sepak bola bersama teman-temannya saat hujan peluru terjadi. Kadir mencoba menyelamatkan diri dengan bersembunyi di bawah jembatan.

Begitu tembakan berhenti, Kadir menyadari adanya dua luka tembak di kakinya. Dengan bahkan mengeluarkan sendiri satu dari dua peluru yang menancap di kakinya. Dari belasan pemain bola, hanya Kadir dan dua kawannya yang berhasil selamat.

Bagian paling mengerikan dari upaya genosida itu, menurut keterangan pengungsi lainnya, adalah ketika para tentara mencoba menyembunyikan mayat-mayat muslim Rohingya dengan cara memutilasi, menyiram air keras, dan membakarnya agar identitas korban tak bisa diketahui.

Pada hari yang sama, pasukan tentara lainnya berjaga di seluruh akses masuk Gu Dar Pyin dan menguncinya dari siapa pun yang hendak masuk. Satu persatu warga yang terjebak berusaha melarikan diri dengan memasuki area hutan yang terletak tak jauh dari desa itu.

Pemimpin komunitas Rohingya mengaku menerima laporan 75 nama yang sudah diyakini meninggal dunia. Meski begitu, para pengungsi meyakini korban meninggal dunia sudah mencapai 400 orang.

Laporan investigasi ini juga mematahkan klaim Amerika Serikat (November 2017) yang menyebut tragedi kemanusiaan di Rohingya sebagai pembersihan etnis, bukan genosida.

Aktivis Human Rights Watch (HRW), Phil Robertson, mengatakan laporan investigasi ini semakin meningkatkan desakan dunia internasional akan transparansi Myanmar dan pentingnya embargo senjata yang dipimpin oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di negara itu.

"Ini saatnya bagi Uni Eropa dan Amerika Serikat untuk menyusun sanksi yang imbang untuk pemimpin tentara Myanmar dan pasukan yang terlibat dalam kejahatan ini," tambah Robertson dalam Aljazeera.

Perwakilan PBB untuk Myanmar, Yanghee Lee, menyebut pembantaian dan upaya penghilangan jejak ini merujuk kepada bukti adanya genosida. Namun, Lee belum dapat mengumumkan hal tersebut tanpa adanya vonis pengadilan internasional.

Myanmar pernah mengaku bertanggung jawab atas penemuan sebuah kuburan massal di Desa Inn Din. Hanya saja, kuburan massal yang berisi 10 mayat itu diklaim pemerintah Myanmar sebagai teroris yang mennyebabkan krisis di Rohingya terjadi.

Di Jakarta, Komisioner PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM) Zeid Ra'ad Hussein mengakan, konflik dan dugaan adanya pembunuhan massal terhadap muslim Rohingya bisa memicu konflik antaragama yang mengancam keamanan di kawasan.

"Terkadang pelanggaran HAM yang dilakukan saat ini bisa menjadi konflik di esok hari," sebut Hussein dalam lansiran detikcom, Senin (5/2/2018).

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengestimasikan 688.000 warga muslim Rohingya mengungsi dari Myanmar sejak Agustus 2017. Tahun lalu, Doctors Without Borders menyakini lebih dari 6,700 warga Rohingya terbunuh dalam serangan yang terjadi selama satu bulan penuh itu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR