LITERASI

Kurang dana, program kirim buku gratis terhenti

Sejumlah siswa membaca buku di mobil perpustakaan, Tegal, Jawa Tengah, Selasa (2/10/2018). PT Pos menghentikan sementara program kirim buku gratis karena masalah dana.
Sejumlah siswa membaca buku di mobil perpustakaan, Tegal, Jawa Tengah, Selasa (2/10/2018). PT Pos menghentikan sementara program kirim buku gratis karena masalah dana. | Oky Lukmansyah /Antara Foto

Program kirim buku gratis (free cargo literacy) lewat PT Pos Indonesia (Persero) terpaksa dihentikan sementara. Sebab, perusahaan pelat merah itu terkendala masalah dananya.

Direktur Utama PT Pos Indonesia Gilarsi Wahju Setijono menyatakan, program kirim buku gratis itu dihentikan karena biayanya menggerus kas mereka. "Kami sedang mencari sumber pendanaan yang bisa dipikul bareng," kata dia saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (13/11/2018).

Gilarsi menjelaskan, hingga Oktober 2018 PT Pos sudah menggelontorkan dana Rp13,051 miliar. PT Pos tidak bisa lagi menanggung biaya pengiriman buku gratis karena sudah melebihi dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.

"Untuk bulan ini karena sumber pendanaan belum terkonfirmasi, terpaksa saya hentikan," kata Gilarsi. Ia berharap pemerintah bisa menemukan solusi masalah dana ini.

Harapannya, ada sokongan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Menurutnya, program ini ikut menncerdaskan masyarakat, maka yang lebih relevan adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. "Semoga Mendikbud respons positif," kata Gilarsi lagi.

Menteri Pendidikan Muhadjir Effendi, Mei lalu pernah berjanji akan membantu agar PT Pos agar tak menanggung kerugian terlalu besar untuk biaya pengiriman buku. Akan ada pembicaraan antar kementerian untuk membahas masalah ini.

Penghentian program ini disayangkan komunitas Pustaka Bergerak. Dalam laman layanan petisi daring change.org, mereka meminta pemerintah, khususnya Presiden Jokowi, Kementerian BUMN, dan Kementerian Pendidikan, untuk membantu PT Pos.

Menurut mereka, sepanjang 18 bulan program itu berjalan, PT Pos telah mengangkut dengan gratis paket dari para relawan dan dermawan sebanyak 45.252 koli, yang berat totalnya hampir 289 ton buku. Menurut PT Pos, tujuan pengiriman buku paling banyak ke Nusa Tenggara Timur dan berasal dari Jakarta.

Ardiyanto, salah satu pegiat literasi Motor Perahu Pustaka asal Bakauheni, Lampung menyayangkan penghentian program ini. Menurutnya, dengan penghentian ini, dampaknya akan sampai pada anak-anak di pedesaan.

Selama ini, karena ada layanan cuma-cuma ini, anak-anak mendapatkan buku bacaan secara gratis dan selalu berganti setiap ia berkeliling.

“Pegiat literasi seperti saya sangat terbantu dengan adanya pustaka bebas bea. Namun jika program tersebut dihentikan maka pengiriman buku akan berbayar dan memberatkan bagi donatur,” kata Ardiyanto kepada Cendana News, Sabtu (3/11/2018).

Program kirim buku gratis ini digagas Presiden Joko 'Jokowi' Widodo. Selepas bertemu dengan para pegiat literasi di Istana Negara, Jakarta, Selasa (2/5/2017) lalu. Maka, sebagai wujud dukungan itu, pemerintah menetapkan setiap bulan, ada satu hari di mana pegiat buku bisa mengirimkan buku tanpa dikenakan bea.

Pada tanggal 20 Mei 2017, Pos Indonesia akan memulai program kirim buku bebas biaya ke seluruh penjuru tanah air. Untuk selanjutnya pengiriman buku bebas biaya tersebut akan berlaku setiap tanggal 17.

Pengiriman buku bebas biaya hanya bisa dilakukan di Kantorpos. Sedangkan Agenpos belum menyediakan layanan serupa.

Pengirim merupakan pegiat literasi dan donatur buku yang akan menyumbangkan buku kepada pengelola taman bacaan masyarakat di seluruh Indonesia. Berat kiriman maksimal 10 kilogram untuk sekali pengiriman.

Program ini merupakan bentuk implementasi 'BUMN Hadir untuk Negeri', sebagai kontribusi nyata dalam membantu masyarakat. Peran Pos Indonesia melalui program kirim buku bebas biaya diharapkan bisa menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap buku.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR