E-COMMERCE

Kurangi bakar uang, Bukalapak kejar balik modal

Presiden Joko Widodo (kanan) menyampaikan sambutan saat menghadiri Perayaan HUT ke-9 Bukalapak di Jakarta, Kamis (10/1/2019).
Presiden Joko Widodo (kanan) menyampaikan sambutan saat menghadiri Perayaan HUT ke-9 Bukalapak di Jakarta, Kamis (10/1/2019). | Puspa Perwitasari /Antara Foto

Usai merumahkan ratusan pegawai, Bukalapak akan lebih fokus mengejar profit daripada pertumbuhan valuasi. Startup berstatus unicorn itu menargetkan bisa mencapai titik impas (break even point/BEP) atau balik modal dalam waktu dekat.

Chief Strategy Officer (CSO) Bukalapak, Teddy Oetomo, mengungkapkan bahwa kebijakan untuk memecat sekitar 100 karyawan bukan tanpa pertimbangan matang. Dalam delapan bulan terakhir, perusahaan berupaya untuk mengubah strategi bisnisnya menjadi lebih efisien dan terarah.

Teddy mengatakan, fokus bisnis Bukalapak dalam jangka pendek adalah meningkatkan pendapatan, meningkatkan efisiensi biaya, dan menjaga inovasi agar lebih terukur serta terarah. Salah satunya dengan mulai mengurangi promo yang kerap digunakan perusahaan e-commerce untuk menarik hati pelanggan.

Perubahan fokus bisnis ini diklaim telah mendapat persetujuan dari para investor Bukalapak, seperti Grup Jasa Keuangan Ant Holding dari Alibaba Group, GIC Singapore dan konglomerat media Indonesia Elang Mahkota Teknologi atau Emtek Group.

"Selama ini kita terlalu ambisius, fokusnya hanya growth, growth, growth. Ekspansi menjadi kemana-mana. Targetnya sampai kita mencapai economic of scale (skala keekonomian). Tapi economic of scale-nya berapa? Makanya kita coba dulu untuk break even," ujar Teddy di Jakarta, Kamis (12/9/2019).

Teddy tidak menampik realita jika menjadi perusahaan dengan suntikan miliaran dolar dari investor membuat Bukalapak mengejar valuasi dengan pertumbuhan yang fantastis. Umumnya, startup kerap terlalu euforia ketika berekspansi, apalagi jika telah dikucuri dana besar.

Promo dan diskon jor-joran pun kerap digelontorkan perusahaan agar menjadi lebih kompetitif di tengah ketatnya persaingan industri e-commerce. Dalam beberapa tahun terakhir Bukalapak fokus memperbesar citra dan memperluas pasar.

Setiap tahun setidaknya anggaran belanja iklan dan penjualan Bukalapak meningkat hingga 100 persen. Kelak pembakaran uang saat ini diharapkan akan impas dan berganti menjadi profit.

Dalam satu tahun Gross Merchandise Value (GMV) Bukalapak telah mencapai AS$5 miliar. GMV adalah total nilai penjualan seluruh barang di platform e-commerce selama kurun waktu tertentu. Pengukuran GMV dilakukan untuk mengetahui apa yang disukai konsumen dalam marketplace.

Namun Teddy mengatakan, GMV tidak bisa digunakan sebagai metrik utama dalam mengukur profitabilitas perusahaan. Kondisi arus kas dan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) seharusnya tetap menjadi indikator dasar yang harus dijaga oleh sebuah perusahaan.

"Kalau dulu awal-awal kita mengejarnya growth. Sekarang sebagai perusahaan yang dewasa, kita berpikirnya harus multidimensi. Bagaimana caranya kita tetap dapet growth, tapi EBITDA dan revenue tetap dapat optimal," ujarnya.

Khawatir investor lari

Pada era yang penuh ketidakpastian saat ini, berbenah diri untuk melepas ketergantungan dari suntikan modal investor menjadi suatu keniscayaan bagi Bukalapak. Perusahaan dituntut menghasilkan profit dari operasional bisnisnya.

Teddy memandang, kondisi ekonomi dunia yang penuh gejolak seperti saat ini menjadi alarm perusahaan untuk memperbaiki kinerja keuangan. Status perang dagang Tiongkok-Amerika Serikat (AS) dan normalisasi kebijakan moneter bank sentral AS diperkirakan membuat aliran dana investasi yang semula mengalir dengan mudah ke negara-negara berkembang akan menjadi sulit.

“Oleh sebab itu, kita memandang ini adalah momen di mana kita harus adu cepat, bukan adu lambat."

"Adu cepatnya adalah, menjadi perusahaan yang stabil dan berkelanjutan. Jika sewaktu-waktu investor hilang dan tidak mau masuk, kita posisinya sudah tidak besar pasak daripada tiang,” ujar Teddy.

Menurutnya, berkompetisi menjadi startup dengan status unicorn maupun decacorn saat ini tidak begitu menjadi prioritas banyak perusahaan. Ia menyebut sejumlah perusahaan unicorn di dunia mulai menyadari adanya perubahan pola bisnis startup, yang kini mulai fokus mengejar keuntungan setelah sekian lama membakar duit.

Ini terjadi karena investor disebut semakin meragukan atas penilaian startup yang lebih mengedepankan valuasi. "Sebetulnya tren global sudah dimulai, cuma di Indonesia, sepertinya baru Bukalapak yang berani," ujar Teddy.

Bukalapak menganggap perubahan fokus bisnis ini harus dilakukan pada waktu yang baik. Bukalapak bisa saja mengumpulkan lebih banyak modal dari investor baru atau yang sudah ada untuk mempertahankan pola bisnis yang lama, tapi itu dianggap tidak akan berlangsung lama.

"Secara potensial, akan ada waktu --saya tidak tahu kapan-- uang murah itu mungkin berhenti mengalir," katanya. "Kami tidak bisa mengendalikan itu."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR