GEGER HOAKS

Kurma kena virus Corona hanya hoaks semata

Pembeli memilih kurma di Pasar Tanah Abang Blok C2, Jakarta Pusat, Kamis (25/4/2019).
Pembeli memilih kurma di Pasar Tanah Abang Blok C2, Jakarta Pusat, Kamis (25/4/2019). | Arindra Meodia /ANTARA FOTO

Isu kurma impor tak aman dikonsumsi karena terkontaminasi virus corona dari kelelawar hanya hoaks semata.

Pada Ramadan 2019, di media sosial beredar imbauan yang mengatasnamakan dokter dan Menteri Kesehatan di Timur tengah agar mencuci bersih kurma impor sebelum dikonsumsi.

Imbauan itu dilatarbelakangi kekhawatiran kurma telah terkontaminasi virus corona (coronavirus) dari kelelawar.

Mengutip keterangan resmi laman Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Republik Indonesia serta berbagai sumber media lainnya, kabar tersebut tidak benar.

Isu serupa dikatakan sudah beredar sejak tahun 2017, dan Oganisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat itu telah mengonfirmasi tidak pernah ada saran atau peringatan apapun tentang kontaminasi virus corona melalui kelelawar.

Yulius Sacramento Tarigan, Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) di Medan (7/5), juga menegaskan belum ada kabar terbaru soal kurma terkontaminasi virus corona dari jaringan informasi internasional terkait persoalan pangan maupun obat-obatan.

"Kalau memang ada, pasti kita sudah tahu. Karena kita kan informasinya terkoneksi dengan negara-negara lain," jelasnya.

Terlebih lagi, menurut Pakar kesehatan dr. Eko Budidharmaja dan Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik (PTVz), dr. Siti Nadia Tirmizi, kabar itu bohong karena mencuci kurma sebelum dikonsumsi tidak akan cukup untuk mensterilkan virus.

Pun, tak ada kaitannya antara kelelawar sebagai pembawa virus corona dengan penyebarannya terhadap manusia melalui makanan.

Mereka menjelaskan, virus corona memiliki banyak bentuk yang penyebarannya cenderung melalui udara. Alih-alih memapar lewat kurma dari kelelawar, virus corona lebih mudah menular lewat bersin dan batuk dari orang-orang yang sudah terinfeksi sebelumnya.

"Jadi, tidak menular melalui makanan seperti kurma," dr Siti menekankan.

Menukil laman WHO, virus corona merupakan keluarga besar virus yang dapat menyebabkan setidaknya dua penyakit pada manusia. Keduanya sama-sama menyerang saluran pernapasan dengan cepat, yaitu penyakit Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrom (SARS).

Akan tetapi, kata dr Siti, virus corona pada kelelawar dan manusia berbeda. Menurutnya, sampai saat ini belum ada bukti kuat yang menunjukkan virus corona pada manusia disebabkan kelelawar.

"Di Indonesia ada dua spesies kelelawar yang menjadi reservoir penyakit japanese encephalitis (JE), nipah virus, lyssa virus, dan hendra virus. Jadi belum ada bukti virus corona dari kelelawar menginfeksi manusia. Jenis bisa sama, tapi ini tidak menginfeksi manusia," tegasnya.

Pernyataannnya didukung WHO. Di satu sisi, WHO menunjukkan memang ada analisis genom, kelelawar yang bertindak sebagai reservoir mungkin bisa menularkan virus corona pada unta dalam jarak tertentu. Misalnya dalam kasus MERS-CoV.

Namun, belum ada data yang memperlihatkan virus corona bawaan kelelawar bisa langsung atau secara tidak langsung menginfeksi manusia. Beda halnya dengan virus corona yang disebar oleh unta.

Berdasarkan data WHO, ada 823 kematian atau 34,6 persen dari total 2374 kasus MERS lewat paparan unta sejak September 2012 hingga Februari 2019 yang dilaporkan secara global di 27 negara.

Sebagian besar kasus ini atau sekitar 80 persen teridentifikasi di Arab Saudi (1983 kasus, termasuk 745 kematian terkait).

Sisanya, MERS juga dilaporkan terjadi di Aljazair, Austria, Bahrain, Tiongkok, Mesir, Prancis, Jerman, Yunani, Republik Islam Iran, Italia, Yordania, Kuwait, Lebanon, Malaysia, Belanda, Oman, Filipina, Qatar , Republik Korea, Thailand, Tunisia, Turki, Uni Emirat Arab, Inggris, Amerika Serikat, dan Yaman.

WHO menyatakan, kasus MERS yang diidentifikasi di luar Timur Tengah disebabkan penularan oleh orang-orang yang terjangkit virus saat melakukan perjalanan ke wilayah tersebut. Dalam kasus langka, bisa juga karena ada wabah kecil tertentu di satu wilayah.

Di luar itu, data WHO menunjukkan tak ada laporan bahwa MERS atau virus corona pernah terjadi di Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR