RAMADAN 2019

Kurma kian deras masuk ke Indonesia, mayoritas dari Mesir

edagang menata buah Kurma dagangannya di kawasan Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah, Minggu (12/5/2019). Penjualan kurma pada bulan Ramadan melonjak hingga 400 persen dari 20 kilogram per hari menjadi 100 kilogram per hari.
edagang menata buah Kurma dagangannya di kawasan Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah, Minggu (12/5/2019). Penjualan kurma pada bulan Ramadan melonjak hingga 400 persen dari 20 kilogram per hari menjadi 100 kilogram per hari. | Yusuf Nugroho /Antara Foto

Indonesia tidak terkenal sebagai produsen kurma meski ada pula perkebunannya di Pasuruan, Jawa Timur. Mayoritas kurma yang beredar di Indonesia adalah produk impor, terutama dari Timur Tengah.

Menurut data Badan Pusat Statistik yang diolah Lokadata Beritagar.id, impor kurma terbanyak sejak 2018 hingga Maret 2019 datang dari Mesir. Negara tersebut bersaing dengan Uni Emirat Arab (UEA) dalam hal mengirim kurma terbanyak ke Indonesia.

Bila dilihat sejak 2015, Mesir dan UEA saling bergantian berada di atas. Namun, yang mencolok adalah persentase impornya yang terus meningkat.

Timur Tengah penguasa kurma di Indonesia.
Timur Tengah penguasa kurma di Indonesia. | Lokadata /Beritagar.id

Pada 2015, impor kurma dari UEA sebanyak 33,87 persen dan Mesir mencapai 27,12 persen. Namun tiga tahun kemudian, kiriman kurma dari Mesir naik drastis hingga 48,59 persen dan dari UEA melorot sampai 21,07 persen.

Dan hingga Maret 2019 atau sekitar dua bulan sebelum masa Ramadan tahun ini, pasokan kurma Mesir ke Indonesia melonjak 54,01 persen. Adapun kontribusi UEA kian turun sampai 19.99 persen.

Selain Mesir dan UEA; dalam kelompok lima besar pengeskpor kurma ke Indonesia adalah Tunisia, Iran, dan Arab Saudi. Sementara Palestina, yang mendapat keistimewaan bebas bea masuk dari pemerintah RI, hanya berkontribusi 0,6 persen pada konsumsi nasional.

Palestina mendapat penghapusan tarif bea masuk dari pemerintah RI untuk komoditas kurma dan minyak zaitun. Fasilitas tersebut mulai berlaku pada 21 Februari 2019 meski baru diumumkan Kementerian Perdagangan pada 28 Februari 2019.

Keputusan pemerintah ini tentu saja berkaitan dengan sentimen politik Indonesia yang pro Palestina dalam konfliknya dengan Israel. Dan kurma asal Israel yang sempat beredar di Indonesia pada 2017, kini tak ada lagi walau urusan ini tidak terkait dengan politik atau konteks diplomatik.

Rusli Abdulah, pengamat ekonomi dari Institute of Development and Economics and Finance (INDEF), menilai pembebasan tarif bea masuk bagi produk kurma dari Palestina akan menguntungkan negara itu dan masyarakat Indonesia.

"Karena bebas bea masuk, harganya pasti akan relatif lebih murah. Sementara Indonesia akan mendapat keuntungan dalam urusan politik luar negeri," ujar Rusli melalui sambungan telepon dengan Beritagar.id, Jumat (17/5/2019).

Adapun pasokan kurma dari Mesir ke Indonesia yang mendominasi sebenarnya cukup anomali. Pasalnya, menurut laporan tahunan Internasional Nut and Dried Fruit Council (INC) 2018, produksi kurma Mesir hanya 9 persen dari total 1,1 juta metrik ton di dunia.

Adapun tiga besar produsen kurma di dunia adalah Arab Saudi (21 persen), Iran (16 persen), dan UEA (12 persen). Di bawahnya ada Tunisia (11 persen).

Rusli memperkirakan kontribusi besar kurma dari Mesir ke Indonesia ini berkaitan dengan kemudahan jalur logistik atau perdagangan. Rusli tidak mempersoalkan faktor harga atau kualitas kurma yang secara umum relatif sama. Berbeda urusan jika kurma itu dari California, Amerika Serikat, yang kelasnya premium seperti Medjool.

"Saya pikir ada faktor kemudahan jalur perdagangan atau logistik Mesir dengan Indonesia, termasuk soal pelabuhan. Sementara Arab kemungkinan tidak fokus mengekspor komoditas buah-buahan, termasuk kurma," tutur Rusli.

Kemungkinan tersebut juga bisa dibaca dari data INC. Arab tidak masuk ke dalam pemasok utama kurma global walau produksinya terbanyak di dunia. Pemasok terbesar justru Pakistan, Irak, Iran, dan Tunisia.

Primadona saat Ramadan

Impor kurma ke Indonesia terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Pada 2015, Indonesia mengimpor sekitar 21 juta kg. Sementara pada 2018 sudah mencapai 40 juta kg dan hingga tiga bulan awal 2019 sudah sekitar 20,5 juta kg --sekitar 50 persen dari tahun lalu.

Sementara konsumsi kurma per kapita per tahun di Indonesia pada 2017 menurut data INC hanya 0,07 kg, beda tipis dengan Pakistan. Sedangkan Malaysia mengonsumsi kurma 0,73 persen per kapita per tahun.

Konsumsi kurma orang Indonesia per tahun kalah dari Malaysia.
Konsumsi kurma orang Indonesia per tahun kalah dari Malaysia. | Lokadata /Beritagar.id

Adapun kedatangan impor kurma paling tinggi selalu pada masa mendekati Ramadan. Data BPS menyebutkan, volume impor kurma pada Januari-Maret 2019 mencapai 21 juta kilogram (kg) dan nilai $38 juta AS (sekitar Rp550 miliar).

Kurma kini sudah menjelma menjadi primadona masyarakat Indonesia saat Ramadan. Rusli menilai kurma sudah menjadi tren baru di kalangan umat muslim dalam berbuka puasa.

"Pada 1990, misalnya, nyaris tak ada orang berbuka puasa dengan kurma. Mereka biasanya dengan kolak atau takjil lainnya," katanya.

Popularitas kurma yang menanjak, lanjut Rusli, juga dipengaruhi sejumlah sebab. Pertama, jalur distribusi logistik yang makin baik. Sebagi bukti, kurma kini mudah ditemui di mana pun --termasuk di mini market.

Kedua, era keterbukaan informasi dengan internet membuat masyarakat mudah mendapat pencerahan soal manfaat kurma bagi kesehatan tubuh. Buah yang rasanya manis ini antara lain bisa mencegah anemia, mengurangi alergi, memperlancar pencernaan, mengatasi sembelit, dan menambah energi.

Sedangkan ketiga, pertumbuhan kelas menengah muslim di Indonesia. Sebagian dari mereka pun melakoni tren hijrah. "Gaya hidup yang Islami kian meningkat. Mereka pun mengonsumsi atau berbuka puasa dengan kurma yang dianggap sunnah," tutup Rusli.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR