PENIPUAN UMRAH

Lagi-lagi, dugaan penipuan umrah rugikan Rp1 triliun

Kantor Abu Tours cabang Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (27/2/2018) saat digeledah polisi. Penggeledahan tersebut untuk mencari bukti-bukti terkait dugaan penipuan dan penggelapan dana umrah dan haji yang diduga dilakukan Abu Tours.
Kantor Abu Tours cabang Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (27/2/2018) saat digeledah polisi. Penggeledahan tersebut untuk mencari bukti-bukti terkait dugaan penipuan dan penggelapan dana umrah dan haji yang diduga dilakukan Abu Tours. | Nova Wahyudi /Antara Foto

Sidang kasus penipuan umrah oleh First Travel belum juga selesai. Kini muncul lagi kasus penipuan umrah. Terduganya adalah Abu Tours. Kerugian jemaah ditaksir mencapai Rp1 triliun.

Dalam situsnya, Abu Tours menyebut berkantor di Jakarta Selatan. Abu Tours, di bawah naungan PT. Amanah Bersama Ummat menyebut memiliki kantor cabang di Jakarta, Makassar, Bandar Lampung, Balikpapan, Surabaya, dan Medan.

Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan Kombes Dicky Sondani menyatakan uang Rp1 triliun lebih itu berasal dari 50 ribu lebih jemaah umrah Abu Tours yang belum juga diberangkatkan.

"Kami masih selidiki ke mana (uangnya)," kata Dicky seperti dinukil dari detikcom, Makassar, Selasa (20/3/2018). Sebagian uang itu, menurut temuan polisi digunakan untuk investasi usaha lain. Termasuk untuk membeli mobil dan motor mewah. "Coba bayangkan," kata dia.

Menurut data manajemen Abu Tours yang dihimpun Fajaronline.co.id September lalu, ada 65 ribu jemaah umrah yang yang mendaftar paket umrah dengan harga Rp15 juta hingga Rp18 juta.

Sekitar 25 ribu jemaah di antaranya mendaftar paket promo dengan harga rata-rata Rp15 juta per orang. Jika ditotal setidaknya ada dana hingga Rp375 miliar dari paket promo ini.

Sedangkan paket reguler, kurang lebih 40 ribu jemaah. Harga paket ini antara Rp17-18 juta. Bila dijumlahkan duit yang terkumpul dari paket reguler mencapai Rp680 miliar. Dari jumlah ini, duit jemaah yang dikelola Abu Tours setidaknya Rp1 triliun.

Kamis dua pekan lalu, CEO Abu Tours Muhammad Hamzah Mamba tak membantah menggunakan dana jemaah untuk usaha lain. Seperti bisnis restoran dan percetakan.

Menurutnya bisnis tersebut untuk mendukung bisnis utama Abu Tours itu sendiri. "Sehingga sebenarnya kami menghemat biaya-biaya yang seharusnya kami keluarkan," kata Mamba Hamzah seperti dinukil dari Sulselsatu.

Bisnis restoran untuk mendukung pengadaan makanan. Bisnis percetakan untuk mendukung percetakan brosur hingga spanduk sesuai keperluan Abu Tours. Ia pun menyebutkan, dana yang dipakai untuk investasi bisnis itu merupakan dana dari tahun-tahun sebelumnya.

Tak hanya di Makkasar, polisi di Balikpapan, Kalimantan Timur dan Palembang, Sumatera Selatan juga tengah menyelidiki kasus ini. Jemaah di Jawa Timur juga mengadukan masalah ini.

Setidaknya ada 23 korban telah melapor ke Polda Kalimantan Timur. Wakil Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum AKBP Sumaryono mengatakan, kasus dugaan pidana penipuan umrah Abu Tours naik ke tahap penyidikan.

Anifa, salah satu jemaah di Balikpapan menanyakan kapan berangkat umrah. "Belum jelas informasinya. Saya ke sini temani ibu saya, yang mau berangkat," tuturnya seperti dikutip dari Tribun Kaltim, Sabtu (17/3/2018).

Dia mengaku, pembayaran sudah lunas. Namun kejelasan pemberangkatan tiada kunjung menemui titik terang.

Muis, warga Gantarang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selata mengaku pernah ditawari umrah dengan biaya hanya Rp15 juta. Tetapi antre hingga 2-3 tahun.

Biaya umrah Rp15 juta ini jauh dari standar yang bakal dipatok Kementerian Agama. Kementerian bakal mematok harga minimal Rp20 juta untuk umrah.

BACA JUGA