Lagi-lagi mahasiswa Indonesia ditangkap di Mesir

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, memberi keterangan pers di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, 25 Juli 2017.
Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, memberi keterangan pers di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, 25 Juli 2017.
© Wahyu Putro A. /Antara Foto

Dua orang mahasiswa Universitas Al-Azhar asal Indonesia ditahan otoritas keamanan Mesir. Menurut rilis resmi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo, Mesir, Jumat (11/8/2017), dua mahasiswa itu bernama Muhammad Hadi dan Nurul Islami Elfis.

Mereka ditangkap Kepolisian Aga pada 1 Agustus 2017 setelah mengunjungi kawasan Samanud di Provinsi Dakhaliyah --150 km dari ibukota Kairo. Kebetulan Samanud terlarang dikunjungi orang asing.

Dua mahasiswa tersebut memang mengunjungi Desa Samanud, tapi bergegas pergi untuk menghindari penangkapan oleh Kepolisian Mesir. Namun mereka kembali lagi untuk mengambil barang-barang yang tertinggal di sana dan saat itulah terjadi penangkapan.

Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, mengungkapkan dua orang mahasiswa itu memang berasal dari daerahnya. Itu sebabnya Irwan berharap mereka segera dibebaskan.

Kementerian Luar Negeri sedang mengupayakan pembebasan dua mahasiswa tersebut. Namun hingga kemarin, KBRI Kairo belum mendapat akses dari pihak berwenang Mesir.

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, menjelaskan dalam laman Antaranews bahwa persoalan ini sudah dilaporkan ke Presiden Joko Widodo. Lantas KBRI Kairo juga sudah mengirimkan dua nota diplomatik kepada pihak berwenang di Mesir.

Kemenlu juga akan menggunakan surat dari Jaksa Agung agar akses kekonsuleran lebih terbuka. "KBRI sudah menyediakan dua lawyer atau pengacara bersama tim konsuler sudah menuju ke Agra karena kita mendapatkan informasi bahwa kedua WNI tersebut berada atau ditahan di kantor polisi Agra," ujar Retno.

Duta Besar Indonesia untuk Mesir, Helmy Fauzi, mengatakan dua mahasiswa semester akhir asal Payakumbuh (Sumbar) itu kemungkinan besar bakal dideportasi. Helmy menjelaskan bahwa KBRI sebenarnya sempat menawarkan bantuan untuk mengambil barang-barang mahasiswa di Samanud, tapi dua mahasiswa itu menolak (h/t Jawa Pos).

Sementara keluarga Nurul berharap tak ada tindakan deportasi karena mereka berada dalam tahap semester akhir. Apakagi, Nurul sudah mendapat beasiswa S2 ke Kuwait.

Penangkapan mahasiswa Indonesia di Mesir ini bukan yang pertama kali. Bahkan dalam kurun sebulan, ini adalah insiden kedua.

Awal Juli lalu, empat orang mahasiswa Al-Azhar asal Indonesia ditangkap otoritas keamanan Mesir karena mengunjungi kawasan Samanud. Ditulis Kompas.com ketika itu (5/7), empat mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia itu akan dideportasi.

Sementara pada Juli pula, total 80 mahasiswa Al-Azhar ditangkap Kepolisian Mesir karena menyalahi izin tinggal dan memasuki Samanud. 12 orang mahasiswa di antaranya berasal dari kelompok masyarakat muslim Uighur, Tiongkok.

Daerah Samanud adalah kawasan terlarang di Mesir karena disinyalir dihuni oleh kelompok radikal. KBRI Kairo pun sejak jauh hari mengimbau para mahasiswa Indonesia untuk tidak mengunjungi Samanud yang berseberangan dengan Pemerintah Mesir.

Namun menurut Helmy, beberapa mahasiswa Indonesia memang tertarik untuk belajar agama di pondok pesantren di Samanud. Persoalannya, kalangan ulama di Samanud tidak berhubungan dengan Al-Azhar dan kontra pemerintah Mesir.

Universitas Al-Azhar, menurut KBRI Kairo, pun sudah melarang para mahasiswanya untuk belajar atau tinggal di Samanud.

"Grand Sheikh Al-Azhar sendiri telah mengimbau agar para mahasiswa yang selayaknya harus menimba ilmu di Al-Azhar dengan para ulama Al-Azhar untuk meninggalkan Samanud dan tidak belajar ilmu agama dengan ulama non-Al Azhar di sejumlah madrasah di daerah tersebut," ungkap Helmy.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.