KEUANGAN NEGARA

Lampu kuning defisit neraca dagang kuartal II/2019

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (25/6/2019).
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (25/6/2019). | Nova Wahyudi /AntaraFoto

Defisit transaksi perdagangan barang dan jasa Indonesia melebar pada kuartal II/2019. Bank Indonesia mencatat posisi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada periode ini sebesar AS$8,4 miliar atau tembus 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Ruang defisit melebar jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya dengan nilai AS$7 miliar atau 2,6 persen dari PDB. Begitu pula dengan perbandingan periode sama pada tahun lalu, yakni sebesar AS$8 miliar (2,8 persen dari PDB).

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) ikut mengalami defisit hingga AS$2 miliar, meski secara hitungan per enam bulan surplus AS$0,4 miliar.

Dalam rilis resminya, Jumat (9/8/2019), Bank Indonesia menyatakan peningkatan CAD dipengaruhi oleh perilaku musiman repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri.

Di samping itu, ketidakpastian ekonomi global masih memberi pengaruh besar pada keuangan nasional.

Kontributor utama yang menyebabkan defisit transaksi berjalan memburuk adalah kinerja ekspor pada kuartal II/2019 yang disokong fluktuasi harga komoditas.

Ekspor nonmigas tercatat turut dari kuartal I/2019 ke kuartal II/2019, tepatnya AS$38,2 miliar menjadi AS$37,2 miliar.

Defisit migas juga meningkat dari AS$2,2 miliar menjadi AS$3,2 miliar. Kendati demikian, neraca transaksi modal dan finansial pada kuartal II/2019 berhasil surplus AS$7,1 miliar AS, naik dari periode sama tahun lalu sebesar AS$4 miliar AS.

Selama lima tahun terakhir, angka defisit berjalan paling rendah terjadi pada kuartal IV/2016, yakni AS$1,8 miliar atau 0,74 persen dari PDB. Sementara, tertingginya terjadi pada kuartal III/2018, sebesar AS$8,8 miliar atau 3,37 persen dari PDB.

Neraca transaksi berjalan mulai mengalami defisit pada kuartal IV/2011. Defisit mulai bergerak pada kisaran 2 persen sampai 4 persen terhadap PDB pada periode 2012 sampai kuartal III/2014.

Melebarnya defisit pada neraca transaksi berjalan menunjukkan kebutuhan valuta asing (valas) untuk impor barang dan jasa yang tak bisa diimbangi oleh pasokan dari ekspor.

Kondisi ini membuat Indonesia makin bergantung pada investasi asing, termasuk yang sifatnya jangka pendek demi menambah pasokan valas. Imbasnya, kurs rupiah semakin rentan bergejolak.

Meski demikian, Bank Indonesia mengumumkan posisi cadangan devisa per akhir Juli 2019 mencapai AS$125,9 miliar, atau naik AS$2,1 miliar dibanding Juni.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko mengatakan peningkatan cadangan devisa tersebut dipengaruhi oleh devisa migas dan valuta asing lainnya.

Peningkatan turut terjadi karena penarikan utang luar negeri pemerintah.

Secara keseluruhan, Onny menilai posisi cadangan devisa itu masih aman, lantaran setara dengan pembiayaan 7,3 bulan impor, pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Koreksi proyeksi

Melebarnya defisit neraca transaksi berjalan memperkuat sinyal pelemahan ekonomi setelah pertumbuhan kuartal II/2019 hanya tembus 5,05 persen (year-on-year/yoy), lebih rendah dari kuartal II/2018 sebesar 5,27 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut penurunan pertumbuhan ekonomi itu disokong empat sektor: industri pengolahan, perdagangan, pertambangan, dan konstruksi. Salah satunya adalah penurunan Indonesia Crude Price (ICP) sebesar 6,12 persen (yoy) pada kuartal ini.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan komponen terberat dari kinerja ini adalah investasi yang tumbuh di bawah perkiraan.

Kemudian secara sektor, manufaktur agak memprihatinkan karena tumbuh di bawah 4 persen.

“Jadi dua faktor itu yang saya rasa memengaruhi pertumbuhan meski ada momen Lebaran, gaji ke-13, THR, (PDB) tetap hanya di 5,05 persen,” kata Bambang di halaman Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Bambang pun pesimistis target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen yang dipasang pada target makro APBN 2019 tidak akan tercapai. “Mungkin, mudah-mudahan 5,1 persen,” katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR