INTERNASIONAL

Langkah mundur Amerika dari Unesco dan konflik Israel-Palestina

Irina Bokova, Direktur Jenderal UNESCO memberikan ceramah di Kolombo, Sri Lanka 16 Agustus 2016.
Irina Bokova, Direktur Jenderal UNESCO memberikan ceramah di Kolombo, Sri Lanka 16 Agustus 2016. | MA Pushpa Kumara /Epa

Amerika Serikat menyatakan keluar dari keanggotaan Badan PBB untuk kebudayaan dan pendidikan (Unesco). Amerika menarik diri dari keanggotaan karena Unesco dianggap anti-Israel.

Surat mundur Amerika dari Unesco itu dirilis pada 12 Oktober waktu setempat melalui laman Kementerian Luar Negeri. Pengunduran berlaku mulai 31 Desember 2018 dan Amerika tetap menjadi anggota penuh Unesco sebelum tanggal itu.

Setelah 31 Desember 2018, Amerika akan tetap terlibat di Unesco, tetapi hanya sebagai negara pengamat.

"Mengambil keputusan ini tidak mudah, dan mencerminkan perhatian Amerika atas penunggakan pembayaran utang Unesco, pentingnya reformasi mendasar dalam organisasi tersebut, dan berlanjutnya bias anti-Israel Unesco," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika, Heather Nauert.

Unesco terkenal karena usahanya melindungi tempat-tempat yang dianggap warisan dunia seperti Grand Canyon di Amerika, Palmyra di Suriah, dan Preah Vihear di Kamboja.

Pada 2015, Unesco mengadopsi sebuah resolusi yang mengecam kekeliruan cara Israel menangani lokasi-lokasi yang dianggap warisan dunia di Yerusalem.

Unesco memberikan pernyataan sikap mengenai Hebron, kota tua di Tepi Barat yang diduduki Israel. Unesco menyatakan Hebron sebagai warisan dunia milik Palestina berada dalam keadaan bahaya.

Chris Hegadorn, utusan Amerika Serikat di markas besar Unesco di Paris, menyebutkan dua alasan untuk mundur. Pertama, tunggakan iuran keanggotaan yang menggunung sejak 2011 setelah organisasi ini menerima Palestina sebagai negara anggota.

"Isu kedua adalah, sangat disayangkan, badan ini telah dipolitisasi, sehingga merusak kerja Unesco. Badan ini menjadi tempat bagi bias anti-Israel," kata Chris Hegadorn melalui Voaindonesia.com.

Amerika menangguhkan sumbangan anggarannya kepada Unesco pada 2011 sebagai protes atas sebuah keputusan untuk memberikan keanggotaan penuh Palestina. Amerika Serikat menyerukan agar badan kebudayaan PBB ini melakukan reformasi.

Sebagai anggota yang harus membayar iuran keanggotaan, Amerika Serikat telah mengakumulasi utang hingga $600.000.000 Amerika selama beberapa tahun terakhir bergabung dengan Unesco.

Sejak Presiden Donald Trump berkuasa, AS mundur dari kerja sama perdagangan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) dan kesepakatan iklim yang disetujui di Paris. Trump juga menyebut kerja sama pertahanan Atlantik Utara NATO sudah tak lagi relevan.

Keputusan Amerika mundur dari Unesco diikuti Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan negaranya akan mengikuti jejak Amerika Serikat.

Netanyahu menginstruksikan kepada Kementerian Luar Negeri untuk menyiapkan pengunduran diri Israel dari organisasi bersama Amerika Serikat.

Tahun lalu, Israel membekukan kerja sama dengan Unesco setelah badan PBB ini mengadopsi resolusi yang tidak lagi menyertakan kaitan Yahudi dengan satu tempat suci di Jerusalem.

Duta Israel untuk PBB, Danny Danon mengatakan keputusan Washington untuk keluar dari Unesco menunjukkan ada harga yang harus dibayar atas diskriminasi terhadap Israel.

"Resolusi mereka yang tidak masuk akal dan memalukan terhadap Israel memiliki konsekuensi," kata Danny.

Unesco menyesalkan atas keputusan resmi Amerika Serikat keluar dari organisasi di bawah PBB itu.

"Setelah menerima notifikasi resmi dari Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson, sebagai Direktur Jenderal Unesco, saya menyampaikan penyesalan atas keputusan AS untuk keluar dari Unesco," kata Direktur Jenderal Unesco, Irina Bokova.

Bokova menyatakan keputusan AS tersebut menandai kehilangan bagi keluarga PBB. Bokova mengatakan Unesco selalu menentang sikap anti-Yahudi dan berusaha memelihara kenangan mengenai Holokos.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan akan terus bekerja dengan pemerintahan Donald Trump meskipun Washington mengumumkan mundur dari Unesco.

"Guterres sangat menyesalkan keputusan tersebut, tetapi pada saat yang sama tentu saja kami berinteraksi sangat produktif dengan AS dalam berbagai isu melalui sejumlah organisasi dan akan terus melakukannya," kata juru bicara PBB Farhan Haq.

BACA JUGA