KESEHATAN MENTAL

Lansia rawan kesepian, milenial cenderung emosional

Penderita gejala gangguan jiwa, 2018.
Penderita gejala gangguan jiwa, 2018. | Lokadata /Lokadata

PENANGANAN | Jumlah pengidap gangguan kejiwaan di Indonesia meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir. Dalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 disebut sekitar 1,7 persen pada 2013 dan menjadi 7 persen dari populasi pada 2018.

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, kategori pengidapnya dibagi dua yaitu Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) dan Orang Dengan Gangguan Kejiwaan (ODGJ).

ODMK merujuk pada masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa. Sedangkan ODGJ mengalami gangguan pikiran, perilaku, dan perasaan dalam bentuk sekumpulan gejala, perubahan perilaku yang menimbulkan penderitaan dan hambatan menjalankan fungsi sebagai manusia.

Setiap orang memiliki potensi mengalami gangguan kejiwaan. Baik laki-laki maupun perempuan, mereka yang bermukim di kota atau di desa. Gangguan kejiwaan bukan monopoli orang dewasa, juga menimpa anak-anak.

Dari hasil olah mikro data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, persentase pengidap gangguan jiwa terbesar berasal dari kelompok silent generation (lahir 1928-1945) sekitar 4,4 persen. Kemudian baby boomers (lahir 1946-1964) sekitar 1 persen. Selebihnya generasi X (lahir 1965-1980), generasi milenial (lahir 1981-1996), dan generasi Z (lahir 1997-2012) di bawah 0,5 persen.

Silent generation masuk dalam kategori lanjut usia (lansia). Lansia kerap mengalami sindrom kesepian (empty nest syndrome/emptiness syndrome) akibat kehilangan anak atau keluarga yang biasa mendampingi. Ini biasanya terjadi pada lansia yang ditinggal anak menikah atau pisah dari rumahnya.

Sedangkan baby boomers paling banyak mengidap gejala gangguan jiwa, disusul milenial, silent generation, gen X, dan gen Z. Dalam riset Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia dan BPS, disebutkan generasi milenial banyak mengidap gangguan mental ringan seperti cemas dan depresi.

Cemas dan depresi ini dipicu pola hidup digital tidak sehat. Terutama keinginan untuk bergaya hidup serupa tokoh idola atau para selebritas jagat maya. Meski jenis gangguan emosional yang diderita ringan, tetapi jika terus berulang dalam jangka waktu tertentu tidak bisa disembuhkan dengan obat-obatan biasa. Hal ini bisa menjadi bom waktu jika tidak ditangani oleh semua pihak.

Di Yogyakarta, Puskesmas sudah melayani kebutuhan warga untuk deteksi dini kondisi kejiwaan. Namun, di sisi lain juga ditemukan penanganan gangguan kejiwaan dengan biaya tidak murah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR