Layanan pelanggan satelit Telkom-1 pulih total 10 September

Direktur Utama Telkom Alex J. Sinaga (tengah) didampingi Direktur Network & IT Solution Telkom Zulhelfi Abidin (kiri) dan Direktur Wholesale & International Service Telkom Abdus Somad Arief (kanan) saat memberikan keterangan pada Press Conference Service Recovery Telkom 1, Jakarta (28/8/2017).
Direktur Utama Telkom Alex J. Sinaga (tengah) didampingi Direktur Network & IT Solution Telkom Zulhelfi Abidin (kiri) dan Direktur Wholesale & International Service Telkom Abdus Somad Arief (kanan) saat memberikan keterangan pada Press Conference Service Recovery Telkom 1, Jakarta (28/8/2017). | Telkom Indonesia

Sejak Jumat (25/8/2017), ribuan mesin ATM BCA, Mandiri, dan BNI mengalami gangguan. Bukan hanya ATM saja, sejumlah warga mengeluhkan tidak dapat menerima sejumlah siaran televisi nasional. Rupanya, hal ini dikarenakan terjadi gangguan pada satelit Telkom-1.

Satelit tersebut diperkirakan tak bisa diperbaiki lagi sehingga pemilik dan operator satelit, PT Telkom Indonesia, akan memindahkan saluran yang digunakan pelanggan ke satelit Telkom-2, Telkom-3S, dan beberapa satelit lainnya.

Penyediaan dan pegalihan transponder Telkom 1 ke transponder satelit pengganti akan selesai pada Rabu (30/8/2017).

Sedangkan proses repointing antena ground segment dilakukan bertahap, secara bersama-sama baik dengan pelanggan maupun dengan operator penyedia layanan VSAT (Very Small Aperture Terminal) hingga 10 September 2017. Demikian dipaparkan Antara (h/t Tempo.co, 28/8).

Satelit Telkom 1 memiliki 63 pelanggan, dengan 8 di antaranya merupakan provider VSAT yang memiliki sekitar 12.030 site sehingga total ground segment sekitar 15.000 site.

Pelanggan itu termasuk sekitar 8.800 ATM milik beberapa bank besar--Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Rakyat Indonesia (BRI)--yang terkena dampak gangguan satelit ini.

Seperti dilansir dari situs resmi Telkom Indonesia, telah terjadi anomali pada satelit Telkom-1 yang berakibat pada pergeseran pointing antena satelit sehingga semua layanan transponder satelit terganggu.

Gangguan terbanyak ada di gerai BCA yaitu sebanyak 5.000 ATM dan 100 kantor kas. Kemudian disusul ATM Mandiri yang terdampak sebanyak 2.000 ATM dari total 17.695 ATM. BNI juga mencatat jumlah gangguan ATM sebanyak 1.500 dari total ATM sebanyak 16.000 ATM.

BRI merupakan bank besar yang tidak terlalu terdampak gangguan satelit ini, yaitu hanya 300 ATM dari total ATM sebanyak 20.000 ATM. Relatif tidak terganggunya ATM BRI ini karena ATM bank milik pemerintah ini sebagian besar sudah menggunakan satelit sendiri yaitu BRISat.

Telkom Indonesia telah memberitahukan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait gangguan teknis pada satelit Telkom-1 yang kemungkinan tak bisa beroperasi normal kembali.

"Saat ini Telkom dibantu Lockheed Martin sedang menjalankan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi Telkom-1 secara komprehensif," menurut VP Investor Relations Telkom, Andi Setiawan, dalam laporan tertulis Telkom kepada OJK.

"Tindak lanjut hasil pemeriksaan ini baru bisa diketahui beberapa hari ke depan dan tidak menutup kemungkinan satelit ini tak bisa beroperasi lagi."

Sementara itu, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Agusman, menyatakan Telkom sedang melakukan upaya pemulihan dengan mengalihkan koneksi dari satelit yang terganggu ke satelit Telkom 3S ataupun satelit lainnya.

Hari ini, seperti dijelaskan Berita Satu, BCA memastikan 126 kantor kasnya yang terganggu akibat kerusakan satelit itu sudah kembali normal pada Senin (28/8) sore. Namun sebanyak 5.772 mesin ATM BCA dari 17.210 mesin yang tersebar di Indonesia belum bisa dipastikan kapan akan kembali normal.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, pihaknya mengutamakan perbaikan di layanan kantor kas karena lebih banyak kebutuhan nasabah yang bisa terlayani di sana. Sementara, perbaikan ATM dinilainya lebih sulit karena terkendala oleh sisi SDM (sumber daya manusia).

"Kalau satelit yang rusak, maka satu per satu harus kita datangi dan itu harus dua orang terdiri dari pihak BCA dan switching company-nya, tidak bisa dari pusat. Kita harus setel ulang," ujarnya di Jakarta, Senin (28/8).

"Yang jadi masalahnya di tenaga kerjanya yang jumlahnya terbatas, jadi kita dahulukan kantor kas karena tidak bisa bersamaan. Pagi ini dari 126 yang rusak sudah beres 113 kantor kas."

Seharusnya normal hingga 2019

Satelit Telkom-1 diluncurkan pada 13 Agustus 1999 dan saat itu masa kerjanya diperkirakan berakhir pada 2014.

Namun kemudian, menurut Direktur Utama Telkom Alex J Sinaga, berdasarkan hasil pengecekan yang dilakukan oleh Telkom dan Lockheed Martin --perusahaan keamanan dan dirgantara global--, satelit itu masih dalam kondisi baik dan bisa dioperasikan secara normal hingga 2019. Ternyata, perkiraan tersebut meleset.

Untuk mengawal proses pemulihan agar berjalan maksimal, menurut Alex, Telkom telah membentuk crisis center yang beroperasi 7x24 jam.

"Crisis center merupakan pusat informasi semua proses recovery layanan pelanggan sekaligus sebagai pusat komando untuk merencanakan dan mengeksekusi setiap langkah-langkah yang dianggap perlu bagi percepatan penyelesaian gangguan layanan," paparnya.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara pada CNN Indonesia (28/8) menyatakan bahwa usia yang sudah uzur adalah penyebab rusaknya Telkom-1.

Oleh karena itu ia mengimbau kepada operator satelit, agar insiden yang sama tidak terulang, untuk selalu memiliki cadangan (backup).

Menurutnya, cadangan dibutuhkan meskipun masalah jarang terjadi, mengingat satelit memiliki risiko tinggi. Risiko yang dimaksud mulai dari peluncuran hingga proses pengoperasiannya.

"Apalagi satelitnya sudah uzur ya, usianya di atas 15 tahun. Pada umumnya satelit itu beroperasi 15 tahunan lah," ungkapnya.

Satelit Telkom-2 diluncurkan pada 2005 dengan masa kerja diperkirakan 15 tahun, sementara Telkom-3S baru diorbitkan pada 15 Februari 2017 dengan perkiraan masa kerja 16 tahun.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR