KASUS NOVEL BASWEDAN

Layar pengingat kasus penyerangan Novel Baswedan

Penyidik KPK Novel Baswedan berdiri di samping layar yang menampilkan hitung maju waktu sejak penyerangan terhadap dirinya saat diluncurkan di gedung KPK, Selasa (11/12/2018).
Penyidik KPK Novel Baswedan berdiri di samping layar yang menampilkan hitung maju waktu sejak penyerangan terhadap dirinya saat diluncurkan di gedung KPK, Selasa (11/12/2018). | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

Kasus penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan sampai saat ini belum juga menunjukkan titik terang. Wadah Pegawai KPK pun memasang layar 32 inci yang menjadi pengingat bahwa teror terhadap Novel belum terungkap sampai hari ke-610 sekarang, Rabu (12/12/2018).

Layar itu menampilkan wajah Novel disertai jam yang menghitung maju sejak kejadian penyiraman pada 11 April 2017. Di bawahnya ada tulisan: sejak Novel Baswedan diserang, selama itu pula polisi gagal ungkap pelaku.

"Saya pribadi berharap Bapak Presiden benar-benar punya kemauan yang kuat dan kami juga doakan semoga Bapak Presiden punya keberanian untuk berani mengungkap masalah ini," kata Baswedan dilansir Antaranews.

Novel mengatakan kasus penyerangannya bukan masalah yang kecil dan sederhana sehingga perlu sikap berani dari presiden.

Novel meminta Jokowi untuk segera membentuk tim gabungan pencari fakta guna mengungkap kasusnya. "Tentu sangat memalukan, sangat memilukan ketika ada aparatur negara diserang dan kemudian itu dibiarkan," kata Novel.

Novel diserang dengan menggunakan air keras oleh orang tak dikenal usai salat subuh di masjid Al Iksan, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Selasa, 11 April 2017.

Novel menjalani perawatan hingga dibawa ke Rumah Sakit di Singapura. Mata kirinya mengalami kerusakan total. Novel baru diperbolehkan pulang ke Indonesia pada 22 Februari 2018 lalu.

Pengusutan kasus Novel terus-menerus mendapat sorotan publik karena polisi dinilai lamban. Publik mendesak dibentuknya tim gabungan pencari fakta independen yang melibatkan unsur sipil untuk mengungkap kasus ini.

Polisi sudah beberapa kali melakukan pemeriksaan dan gelar perkara tapi pelaku belum terungkap juga. Polisi bahkan sempat menyebarkan sketsa, meski akhirnya tidak jelas pula.

Pada Juli 2017 lalu, Presiden Joko Widodo memangil Kepala Polri, Jenderal Tito Karnavian. Ketika itu, Presiden menginstruksikan agar penyelidikan kasus Novel cepat selesai.

Tito pun menunjukkan sketsa terbaru terduga pelaku penyerang Novel. Orang ini berada di dekat masjid 5 menit sebelum kejadian dan gerak-geriknya mencurigakan. Lagi-lagi, sketsa ini pun kembali berujung dengan tidak jelas.

Tidak jelasnya kasus Novel itu pun terus berlangsung sampai sekarang. Penyidik Polda Metro Jaya menyebutkan belum mendapatkan keterangan untuk berita acara pemeriksaan (BAP) dari Novel Baswedan, guna mengungkap pelaku penyiraman zat kimia.

"Sampai sekarang belum mendapatkan itu (keterangan Novel)," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Argo Yuwono melalui Antaranews.

Ia menjelaskan penyidik Polda Metro Jaya menerapkan metode induktif dan deduktif untuk menyelidiki penyiraman zat kimia terhadap Novel Baswedan.

Polisi membutuhkan keterangan dari korban untuk mencari petunjuk berdasarkan motif seperti masalah keluarga atau terkait pernah menangani perkara tertentu, mendapatkan ancaman maupun intimidasi.

Polda Metro Jaya, kata Argo, juga sedang menyusun jawaban atas temuan Ombudsman terhadap penanganan kasus Novel.

Sebelumnya, anggota Ombudsman Republik Indonesia (ORI), Adrianus Meliala, mengumumkan ada empat temuan maladministrasi minor yang dilakukan penyidik kepolisian terkait kasus penyiraman air keras ke Novel Baswedan.

Kekeliruan administrasi itu, kata Meliala, tidak memiliki dampak secara substantif terhadap penyidikan perkara.Temuan maladministrasi itu diperoleh dari hasil investigasi yang dilakukan sejak 11 April 2017 hingga September 2018.

Maladministrasi yang ditemukan Ombudsman yaitu penundaan berlarut penanganan perkara, efektivitas penggunaan sumber daya manusia, pengabaian petunjuk yang bersumber dari Novel Baswedan sebagai korban, dan aspek administrasi penyidikan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR