KARHUTLA

Lebih dari 2.000 warga Kalteng menderita ISPA akibat kabut asap

Pengendara melintas di Jembatan Kahayan yang diselimuti kabut asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (15/9/2019).
Pengendara melintas di Jembatan Kahayan yang diselimuti kabut asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (15/9/2019). | Rendhik Andika /Antara Foto

Provinsi Kalimantan Tengah merupakan salah satu wilayah terparah yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Akibatnya, Posko Satgas Siaga Darurat Karhutla Wilayah Kalteng, Senin (16/9) mencatat lebih dari 2.000 warga menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) setelah berhari-hari dikepung asap.

Pos Komando (Posko) mendata sebanyak 2.637 jiwa sebagai penderita ISPA. Penderita terbanyak tercatat di Kota Palangka Raya dengan 829 jiwa, sedangkan wilayah lain sebagai berikut Kotawaringin Timur 513, Murung Raya 394, Barito Utara 227, Kapuas 161, dan Kotawaringin Barat 147. Wilayah lain seperti Barito Timur, Barito Selatan, Gunung Mas, Katingan, Lamandau, Pulang Pisau, Sukamara, penderita ISPA kurang dari 100 orang.

Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng mengintensifkan pelayanan kesehatan menghadapi dampak asap karhutla. Pelayanan diberikan tidak hanya kepada masyarakat tetapi juga petugas pemadam di lapangan.

Mereka menyediakan ruang oksigen atau rumah singgah, seperti di Kota Palangka Raya, juga menyiagakan 11 puskesmas, dua rumah sakit umum daerah, dan satu pelayanan dari Palang Merah Indonesia.

Data Indeks Standar Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), kondisi udara di Kalteng, khususnya Palangkaraya telah berada di level berbahaya.

Kabut asap pekat akibat karhutla juga membuat pemerintah daerah meliburkan sekolah dari TK hingga perguruan tinggi. Penerbangan dari dan ke Bandara Tjilik Riwut, Kota Palangkaraya, pun banyak yang dibatalkan.

Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) titik panas atau hotspot berdasarkan citra satelit Aqua, Terra dan SNPP sebanyak 140 titik.

Wilayah dengan hotspot tertinggi berada di wilayah Kotawaringin Timur dengan 32 titik, Pulang Pisau 30, Kapuas 23, Seruyan 17, Murung Raya 16, Katingan 9, Barito Selatan 5, Barito Timur 4, Gunung Mas 3 dan Barito Utara 1.

Prakiraan tingkat kemudahan terjadinya kebakaran di wilayah Kalteng masih dalam kategori sangat mudah terbakar.

Satwa liar juga terdampak

Ilustrasi gambar. Belasan orangutan juga harus direhabilitasi karena terinfeksi saluran pernapasan akut.
Ilustrasi gambar. Belasan orangutan juga harus direhabilitasi karena terinfeksi saluran pernapasan akut. | COP Borneo-Ruweti Nurpiana /Antara Foto

Tidak hanya dialami oleh manusia, belasan orangutan yang direhabilitasi di Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (BOS), kawasan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah (Kalteng), juga terpapar ISPA akibat paparan kabut asap beberapa pekan terakhir ini.

Dokter hewan di Yayasan BOS, drh Viet, menjelaskan, orangutan yang terpapar ISPA ini mulai dari dewasa hingga balita. Baik mereka yang berada di dalam kandang atau sedang mengikuti sekolah hutan.

"Lokasi sekolah hutan memang tidak terlalu jauh dari hutan yang terbakar. Kemungkinan itu salah satu yang menyebabkan belasan orangutan mengalami ISPA," kata Viet dilansir dari iNews.

Kebakaran lahan juga menjadi bencana bagi satwa liar yang selama ini menghuni lahan telantar dan hutan. Petugas pemadaman karhutla Kabupaten Kotawaringin Timur sempat menemukan banyak tupai dan ular piton yang terbakar hidup-hidup.

"Ular paling banyak mati lantaran gerakan satwa ini cukup lambat di banding binatang lainnya sehingga tidak sempat menyelamatkan diri dari kepungan kebakaran lahan," kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kotawaringin Timur, Rihel.

Petugas mengumpulkan bangkai-bangkai hewan yang ditemukan di lokasi kebakaran lahan. Selanjutnya, bangkai-bangkai tersebut dikuburkan di lokasi sekitar yang dinilai aman dari kebakaran lahan.

Hingga kini upaya penanganan karhutla masih terus dilakukan dengan strategi pemadaman darat, udara, dan penegakan hukum. Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo, mengatakan hari ini (16/9) tidak semua helikopter yang disiagakan mampu untuk melakukan pengemboman air di beberapa titik teridentifikasi titik panas.

Hal tersebut disebabkan jarak pandang. Sedangkan pemadaman darat, satuan tugas (Satgas) Darat melakukan pemadaman, pendinginan maupun pencegahan melalui patrol darat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR