Letusan Gunung Sinabung adalah hal rutin

Gunung Sinabung di Karo, Sumatera Utara, mengeluarkan lava pada 2 Agustus 2017.
Gunung Sinabung di Karo, Sumatera Utara, mengeluarkan lava pada 2 Agustus 2017. | Dedi Sinuhaji /EPA

Sejak 2012, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo (Sumatera Utara) tak pernah berhenti "beraksi" dan menyandang status "Awas" (Level IV) sejak 2 Juni 2015. Bahkan gunung setinggi 2.460 meter dpl ini senantiasa erupsi, nyaris setiap hari.

Erupsi itu biasanya bersifat sedang, bahkan kecil. Hanya sesekali cukup besar, seperti pada Kamis (11/10/2017) dinihari WIB. Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM menyatakan ada dua letusan yang tercatat melalui rekaman seismograf dan visual.

Letusan mengeluarkan abu hingga ketinggian 1.000-1.500 meter di atas puncak dan diikuti guguran awan panas ke arah timur dan tenggara hingga radius 300-1.000 meter. Sementara guguran lava tercatat ke arah angin yang sama sebanyak 30 kali.

Keseriusan letusan ini pun bisa memicu banjir bandang, terutama jika bendungan di Sungai Laborus yang yang terbentuk oleh penumpukan endapan awan panas jebol. Namun hingga artikel ini terbit, hal itu tidak terjadi.

Siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan tidak ada korban jiwa dan penambahan jumlah pengungsi akibat letusan terbaru Sinabnung. Maklum, masyarakat sekitar sudah biasa melihat Sinabung bergejolak.

Belum lagi BNPB dan pihak terkait sudah menetapkan beberapa desa di sekitar Sinabung adalah zona merah alias terlarang untuk dihuni. Ribuan jiwa masyarakat sekitar sudah mengungsi, sebagian sudah direlokasi ke tempat yang lebih aman dan sebagian lagi masih menunggu relokasi lanjutan.

PVMBG pun menetapkan zona merah sejauh 3 Km dari puncak. Lalu radius 7 km ke selatan-tenggara, 6 km ke tenggara-timur, dan 4 km ke utara juga dinyatakan terlarang.

Masyarakat dan pengunjung atau wisatawan juga diminta waspada saat berada di sekitar sungai, terutama Sungai Laborus, yang berhulu di Gunung Sinabung sebagai antisipasi bahaya lahar dingin. Maklum, kawasan setempat diprediksi akan terus diguyur hujan.

Di sisi lain, BNPB telah menyalurkan bantuan dana siap pakai hingga Rp321,6 miliar untuk penanganan pengungsi Gunung Sinabung sejak 2013 hingga September 2017. Dilansir Antaranews, dana itu digunakan untuk bantuan siswa sekolah, jaminan hidup, akses listrik, air bersih, sewa lokasi pengungsian, pembangunan sekolah darurat, tempat ibadah, sewa lahan pertanian, dan sebagainya.

Kepala Pusdatin dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan bahwa penanggung jawab manajemen dampak letusan Gunung Sinabung adalah bupati Karo. BNPB sebatas mendampingi dan mengurus bantuan.

Sutopo lebih lanjut menjelaskan bahwa aktivitas Gunung Sinabung masih tinggi dan belum ada tanda-tanda penurunan. Itu sebabnya PVMBG terus melakukan pemantauan intensif.

Beruntung, masyarakat sekitar tak kaget dengan aktivitas Sinabung. "Hampir setiap hari Gunung Sinabung meletus. Selain melontarkan abu vulkanik, letusan juga disertai dengan gempa guguran, lava pijar, dan luncuran awan panas," kata Sutopo.

Selain Gunung Sinabung dan Gunung Agung di Karangasem (Bali) yang masih "awas", PVMBG juga memantau intensif tiga gunung lainnya di Indonesia. Ketiganya Gunung Dukono (1229 meter dpl) di Halmahera, Maluku Utara; Gunung Ibu (1340 meter dpl) di Halmahera pula; dan Gunung Ili Lewotolok (1319 meter dpl) di Kepulauan Lembata, NTT.

Kecuali Ili Lewotolok, Dukono dan Ibu terus menerus erupsi meski bukan dalam kapasitas besar. Meski demikian ketiganya masih berstatus "Waspada" (Level II).

Adapun daerah sekitar Ili Lewotolok pada Selasa (10/10) diguncang lima kali gempa tektonik dengan kekuatan hampir 5 Skala Richter. Namun demikian gempa tidak memengaruhi kondisi dan status gunung tersebut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR