LEBARAN 2018

Libur Lebaran 2018 bisa dinikmati selama 12 hari

Foto ilustrasi pembuat ketupat.
Foto ilustrasi pembuat ketupat. | Bagus Indahono /EPA

Libur Lebaran 2018 akan dirayakan lebih panjang di Indonesia. Lewat Revisi Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri, Pemerintah memutuskan menambah jatah cuti bersama dari sebelumnya empat menjadi tujuh hari.

Sebelumnya cuti bersama ditetapkan untuk tanggal 13-14 Juni 2018 dan 18-19 Juni 2018. Pada keputusan baru ini, akan ada tambahan cuti bersama untuk tanggal 11, 12, dan 20 Juni 2018. Sementara, pada surat yang sama ditetapkan Hari Raya Lebaran jatuh pada 15-16 Juni 2018.

Artinya, libur Lebaran untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan beberapa pegawai swasta (mungkin tidak berlaku untuk pekerja media dan pelayanan umum) akan berlangsung selama sepuluh hari. Itu belum ditambah dengan hari Sabtu dan Minggu sebelum cuti bersama dimulai.

Perubahan SKB ditandatangani Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Asman Abnur, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dan Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani mengatakan, salah satu pertimbangan penambahan cuti bersama adalah untuk mengurai arus lalu lintas sebelum dan sesudah Lebaran.

"Kami berharap apa yang dilakukan saat ini tentu saja bermanfaat bagi masyarakat dalam rangka bersilaturahmi," kata Puan dalam Okezone, Rabu (18/4/2018).

Senada dengan Puan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, libur Lebaran yang diperpanjang ini memberi masyarakat banyak pilihan untuk menentukan waktu mudik dengan lebih fleksibel.

Harapannya, arus mudik akan tersebar di beberapa hari. "Kalau kemarin dua hari, maka akan bertemu di dua hari itu. Harapannya lalu lintas mudik bisa terurai," ucap Budi dalam Katadata.

Tentu saja penambahan ini tidak akan mengurangi jatah cuti tahunan yang dimiliki pekerja. Namun, pemerintah tidak membatasi PNS yang ingin mengambil cuti tambahan di luar jadwal yang diberikan. Hanya saja pengambilan cuti tambahan itu akan mengurangi jatah cuti tahunan.

Pemerintah tentu tidak bisa menyenangkan semua pihak. Pasalnya, pengusaha melihat penambahan cuti bersama Lebaran 2018 ini sebagai sebuah hal yang bisa menghambat produktivitas bisnis dalam negeri.

Pandangan tersebut disampaikan Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perindustrian, Johny Darmawan.

Menurutnya, jumlah hari kerja merupakan salah satu penentu peningkatan produktivitas sumber daya manusia (SDM). Jika hari kerja dikurangi, maka produktivitas akan menurun.

"Di negara mana pun, pada umumnya hari libur terbatas. Seperti Singapura dan Jepang, itu liburan (hanya ada) pada momen tertentu saja. Kalau kita lagi kena musibah, boleh lah," sebut Johny dalam Liputan6.com.

Kritikan serupa juga diucapkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani.

"Kalau semua cuti kan kita semua juga nggak bisa kerja. Kalau banknya libur, bagaimana mau jalan? Pelayanan pemerintah libur karena diliburin, kita nggak bisa kerja juga. Jadi harus cuti juga," ucapnya dalam lansiran Detikcom.

Hariyadi juga pesimistis penambahan cuti Lebaran dapat mengurangi kemacetan, sebab kepadatan mudik pasti akan terjadi walau liburnya ditambah.

Sarman Simanjorang mungkin salah satu pengusaha yang punya pandangan yang berbeda. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta itu mengakui tambahan libur ini tentu akan berdampak pada kegiatan produksi.

Tapi, dirinya meyakini hal itu bisa disiasati dengan perpanjangan jam kerja sebagai pengganti libur yang ditambahkan pemerintah.

Di luar produktivitas industri, Sarman meyakini tambahan libur ini memberi dampak positif di daerah wisata. "Ini akan menambah lama pemudik tinggal di daerah dan kunjungan wisata, sehingga perputaran uang di daerah semakin meningkat," tukasnya.

BACA JUGA