KEBIJAKAN BBM

Lifting minyak letoi, defisit perdagangan terus mengancam

Suasana lifting perdana minyak mentah di Terminal Oil Wharf No.1 Pelabuhan PT. CPI di Dumai, Riau, Selasa (15/1/2019).  Semester I tahun ini, lifting minyak tak mencapai target yang ditetapkan APBN 2019.
Suasana lifting perdana minyak mentah di Terminal Oil Wharf No.1 Pelabuhan PT. CPI di Dumai, Riau, Selasa (15/1/2019). Semester I tahun ini, lifting minyak tak mencapai target yang ditetapkan APBN 2019. | Aswaddy Hamid /Antara Foto

Produksi siap jual (lifting) minyak semester I 2019 di Indonesia tak mencapai target. Dari target yang dipatok APBN 2019 sebesar 775 ribu barel minyak tak bisa dipenuhi. Sepanjang setengah tahun ini, realisasi realisasi lifting minyak nasional hanya sebesar 752 ribu barel.

Menurut Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Sutjipto, tak tercapaiya target itu karena masalah komersial, sehingga produksi di Kalimantan Timur harus dikurangi. "Selain itu, ada faktor bor sumur pengembangan tak sesuai atau di bawah prognosis (perkiraan)," ujarnya seperti dikutip dari Antaranews.com Jumat (19/7/2019).

Dwi menjelaskan, mereka sudah berusaha menjaga produksi hingga cuma meleset 3 persen dari target. “Kalau enggak lakukan apa-apa decline natural-nya sekitar 20 persen,” ujarnya, seperti dinukil dari Kompas.com.

Menurut data SKK Migas yang diolah Lokadata, dua kontraktor penyumbang terbesar lifting migas adalah PT ExxonMobil Cepu Limited dengan produksi minyak 220 ribu barel per hari dan PT Chevron Pacific Indonesia dengan produksi 194 ribu barel per hari.

Indonesia sudah menjadi importir minyak sejak 2003. Sejak tahun itu, konsumsi minyak Indonesia lebih besar dari pada produksinya. Tahun lalu, konsumsi per harinya mencapai 1,6 juta barel.

Jika konsumsi tahun ini mencapai 1,7 juta barel per hari, maka kebutuhan yang harus dipenuhi dengan impor setiap hari sekitar 950 ribu barel. Jika harga minyak hari ini $62 AS per barel, setiap hari kita butuh Rp824 miliar untuk impor minyak.

Tak heran dengan besarnya impor ini, maka neraca perdagangan Indonesia kerap defisit. Pada rentang Januari 2018-Juni 2019, tercatat Indonesia hanya 7 bulan mencatat angka positif dalam neraca perdagangan. Sisanya, selalu negatif. Nilai defisitnya kerap berlipat-lipat dibanding nilai surplusnya.

Selasa pekan lalu, Presiden Joko Widodo menegur dua menterinya karena masih tingginya impor BBM sehingga membuat neraca perdagangan Indonesia defisit.

Sedangkan dalam soal neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia mencatatkan negatif sejak 2012. Transaksi berjalan ini mencatat keluar masuknya devisa akibat perdagangan atau transaksi barang dan jasa. Jika negatif, artinya lebih banyak membeli dari pada menjual. Tahun lalu, defisitnya mencapai $31,1 miliar AS. Catatan merah ini berbahaya, karena menunjukkan perekonomian sebuah negara rentan dengan gejolak ekonomi.

Tak heran, wacana pengurangan konsumsi BBM tahun depan disodorkan pemerintah dan DPR. Salah duanya, penggalakkan biodesel yang dikenal dengan B20. Lalu, BBM jenis solar yang akan dikurangi subsidinya dari Rp2 ribu menjadi Rp1 ribu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR