INDUSTRI PENERBANGAN

Lion Air melantai di bursa saham akhir tahun

Menko Perekonomian Darmin Nasution (kanan), Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kedua kanan) didampingi pendiri Lion Air Group Rusdi Kirana (ketiga kanan) meninjau fasilitas hanggar Batam Aero Teknik (BAT) Lion Air Group di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (14/8/2019).
Menko Perekonomian Darmin Nasution (kanan), Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kedua kanan) didampingi pendiri Lion Air Group Rusdi Kirana (ketiga kanan) meninjau fasilitas hanggar Batam Aero Teknik (BAT) Lion Air Group di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (14/8/2019). | M N Kanwa /Antara Foto

Maskapai domestik, PT Lion Mentari Airlines, akan segera masuk daftar calon emiten Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan milik Rusdi Kirana ini rencananya akan menawarkan saham perdana (intial public offering/IPO) saham pada Desember tahun ini.

"Benar, Lion Air akan melakukan IPO. Saat ini, konsultan masih melakukan analisa situasi," kata Corporate Communications Strategic Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, kepada Beritagar.id, Kamis (10/10/2019).

Danang lebih lanjut menjelaskan dana tersebut akan digunakan Lion untuk memperkuat struktur keuangan perusahaan.

Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan Lion Air menggunakan dasar valuasi IPO dengan laporan keuangan Juni 2019. Dengan demikian, perseroan yang masuk kategori perusahaan di sektor infrastruktur, utilisasi, dan transportasi ini memiliki tenggat waktu mengeksekusi rencananya Desember tahun ini.

Namun, Nyoman enggan menyebut secara pasti berapa nilai emisi yang ditargetkan Lion Air dalam aksi korporasi ini.

“Detail rencana mereka belum bisa disampaikan. Nanti pekan depan akan ada mini expose,” ujarnya kepada Beritagar.id.

Menurut kabar yang beredar, Lion Air mengincar dana IPO hingga AS$1 miliar, atau sekitar Rp14 triliun, dan telah melakukan konsultasi dengan sejumlah penjamin emisi (underwriter).

Sebagian saham perdana perseroan nantinya bakal ditawarkan kepada sejumlah investor asing. Jika terlaksana, Lion Air akan menjadi perusahaan penerbangan keempat yang go public setelah Garuda Indonesia, AirAsia Indonesia, dan perusahaan penyewaan armada helikopter Jaya Trishindo.

Lion Air percaya diri menggalang dana dengan nilai jumbo lantaran sudah membukukan laba bersih di tengah persaingan LCC. Jika terlaksana, aksi IPO maskapai low cost carrier (LCC) ini diprediksi akan menjadi salah satu yang terbesar sepanjang sejarah BEI.

Sebelumnya rekor aksi IPO terbesar--dalam kurun waktu 10 tahun terakhir--masih dipegang oleh Adaro Energy dengan nilai emisi Rp12,2 triliun pada Juli 2008. Sedangkan dalam empat tahun terakhir, Waskita Beton Precast tercatat unggul dengan perolehan IPO Rp5,16 triliun pada September 2016.

Dinilai tidak tepat

Kendati begitu, rencana IPO Lion Air tahun ini dinilai analis pasar tidak tepat, mengingat kondisi pasar modal yang sepi peminat lantaran sentimen perang dagang. Selain itu faktor lain yang membuat investor asing ragu menanamkan modal di pasar saham Indonesia karena defisit transaksi berjalan yang melebar.

Equity Fund Manager Majoris Asset Management, Halimas Tansil, menyebutkan tahun 2020 mungkin bisa menjadi waktu yang tepat untuk IPO, mengingat katalis pertumbuhan di pasar saham mulai muncul.

"Kalau tahun ini mau IPO mungkin kurang terlalu pas waktunya. Tapi kalau ketika pasar sudah mulai bergairah mungkin Lion Air akan lebih menarik minat," ujarnya saat dihubungi Beritagar.id.

Menurut Halimas, saat ini industri penerbangan tengah berada dalam fase konsolidasi bisnis di tengah ketatnya persaingan. Oleh sebab itu Lion Air harus mampu meyakinkan investor jika bisnis aviasi masih memiliki prospek bagus ke depannya.

"Tahun ini lebih dilihat bagaimana mood investor, kalau berharap banyak mendapatkan uang dari investor riil maka suasana pasar harus bagus," ujarnya.

BEI mencatat sepanjang 2019 terdapat 40 perusahaan yang menawarkan sahamnya di pasar modal. Jumlah ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 55 perusahaan.

Wacana IPO Lion Air sebelumnya juga pernah mencuat pada 2017, namun ditunda karena kondisi ekonomi dinilai tidak kondusif.

Rencana IPO tersebut semakin menggantung pasca-kecelakaan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 jenis Boeing 737 Max 8 dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang 29 Oktober 2018.

Hingga kuartal I-2019 Lion perseroan mengoperasikan tipe pesawat, terdiri dari 66 Boeing 737-900ER (215 kelas ekonomi), 38 Boeing 737-800NG (189 kelas ekonomi) dan tiga Airbus 330-300 (440 kelas ekonomi).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR