LION AIR JT610

Lion Air tanggung beban KNKT, pencarian CVR berlanjut

Keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 melakukan aksi di Taman Aspirasi Monas, Jakarta, Kamis (13/12/2018).
Keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610 melakukan aksi di Taman Aspirasi Monas, Jakarta, Kamis (13/12/2018). | Aprillio Akbar /AntaraFoto

Upaya pencarian korban dan bagian lain pada kotak hitam, Cockpit Voice Recorder (CVR), pesawat Lion Air penerbangan JT610 kembali dilanjutkan.

Operator maskapai penerbangan Lion Air telah mengalokasikan dana sebesar Rp38 miliar untuk melanjutkan pencarian di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, lokasi jatuhnya pesawat bernomor registrasi PK-LQP itu.

Corporate Communications Strategic Lion Air Danang Mandala Prihantoro menjelaskan, alokasi dana itu sebagiannya bakal digunakan untuk membayar sewa kapal laut MPV Everest dari sebuah perusahaan swasta asal Belanda.

“Apabila ditemukan kembali jenazah kru dan penumpang, maka akan diambil lalu diserahkan kepada Badan SAR Nasional (Basarnas), begitu juga dengan alat perekam suara di ruang kemudi pilot (CVR) akan diserahkan kepada KNKT,” sebut Danang dalam rilis pers yang diterima Beritagar.id, Senin (17/12/2018).

MPV Everest dijadwalkan tiba di perairan Karawang pada Rabu (19/12/2018). Ketibaan itu mundur dua hari lantaran cuaca buruk serta hujan deras. Saat ini posisi kapal berada di Johor Bahru, Malaysia.

“Kapal akan berlayar Senin pagi, dimulai dari proses imigrasi dan kepabeanan (customs). Perkiraan waktu tempuh perjalanan dari Johor Bahru menuju perairan Karawang adalah dua hari dan lima jam,” sambung Danang.

Danang memastikan titik pencarian tetap dipusatkan pada area koordinat dari hasil pemetaan terakhir lokasi jatuhnya pesawat. Misi pencarian akan dilakukan selama 10 hari, dengan atau tanpa hasil.

Keputusan Lion Air menggelontorkan dana dalam misi pencarian jasad korban dan CVR dianggap “menyindir” KNKT. Sebab, pertama, ongkos untuk misi pencarian semacam ini pada umumnya dibiayai oleh negara.

Kedua, mengacu Peraturan Presiden No 2 Tahun 2012 tentang KNKT Pasal 48, pencarian bagian penting dari pesawat—dalam hal ini adalah kotak hitam—adalah tugas dan tanggung jawab dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Ada kecurigaan, Lion Air menalangi tanggungan dana yang sebelumnya dibebankan kepada KNKT untuk meneruskan pencarian.

Kepada Reuters, seorang sumber yang dekat dengan KNKT mengakui bahwa komisi keselamatan tersebut terpaksa menghentikan pencarian CVR karena masalah dana dan birokrasi.

“Kami sudah kehabisan uang untuk menyewa kapal. Kami tak memiliki dana darurat, tidak ada dasar hukum untuk itu,” sebut sumber itu, pekan lalu.

Persoalan dana ini disebut sudah diadukan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Namun, tidak adanya dasar hukum yang mengatur hal ini membuat pencairan dana tambahan sulit dilakukan. Jika pun bisa, maka harus melibatkan pembahasan terlebih dahulu dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Sementara, waktu adalah tantangan terbesar dalam misi pencarian CVR. Maksimalnya, pencarian harus dilakukan dalam jangka waktu kurang dari 90 hari. Hal ini dikarenakan CVR yang dibuat oleh L3 Technologies Inc. ini hanya mengeluarkan isyarat suar (beacon) selama kurun waktu tersebut.

Dengan kata lain, pencarian CVR setidaknya harus dilakukan sebelum 29 Januari 2019.

Terkait gelontoran dana Lion Air, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono tak mengelak pun tak membenarkan kabar kehabisan uang itu. “Kita tentunya ingin mencari black box-nya. Masalah dibantu seperti itu, kita nggak komentar. Ya biarkan saja disindir, nggak ada masalah,” sebut Soerjanto, dikutip dari detikcom.

Di sisi lain, KNKT mengaku masih tetap fokus melanjutkan penyelidikan kecelakaan Lion Air PK-LQP. Soerjanto menyebut beberapa komponen pesawat Boeing 737 Max 8, tipe yang digunakan dalam JT610, sudah berada di kantor pusat Boeing di Chicago, Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya, Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko menyebut anggaran yang dibutuhkan setiap 10 hari pencarian kotak hitam JT610 bisa mencapai sekitar Rp25 miliar.

Dana tersebut sebagian besarnya diperlukan untuk menyewa kapal ukuran besar, dengan deck luas serta memiliki crane yang digunakan untuk mengambil puing-puing di dasar laut. Selain kapal, dibutuhkan juga alat pelacak lokasi puing di dasar laut.

Gugatan bertambah

Jumlah keluarga korban yang mengajukan gugatan kepada Boeing bertambah. Firma hukum spesialis kasus-kasus penerbangan asal AS, Ribbeck Law Chartered, mengklaim telah mengumpulkan 25 keluarga korban JT610 yang setuju menuntut ganti rugi dengan total $100 juta AS.

Gugatan sudah dilayangkan di Pengadilan Cook County, Negara Bagian Illinois, AS, pada Rabu (12/12/2018). Manuel von Ribbeck, kuasa hukum, menyebut sidang perdana bakal digelar pada 17 Januari 2018 di Pengadilan Cook.

Tuntutan masih menyasar pada ketaklaikan pesawat dan kelalaian Boeing dalam memberikan jaminan keamanan pada produknya. “Boeing juga dianggap lalai dalam melatih pilot dan co-pilot menggunakan buku manual,” sebut Ribbeck, dikutip dari Kabar24.bisnis.com.

Ribbeck mengaku tengah mengumpulkan alat-alat bukti dari investigator independen terkait fakta di balik penyebab jatuhnya pesawat. Ribbeck optimistis dapat memenangkan kasus ini. Sebab, dari pengalamannya, sebanyak 95 persen kasus gugatan kecelakaan pesawat yang ditanganinya selesai sebelum persidangan atau mediasi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR