REHABILITASI PASCA-BENCANA

Lombok kebut rehabilitasi demi gerak ekonomi

Turmuzi (35) asal Desa Obel-Obel menunjukkan saldo buku tabungan yang diperolehnya sebagai bantuan untuk korban gempa Lombok di Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Minggu (2/9/2018).
Turmuzi (35) asal Desa Obel-Obel menunjukkan saldo buku tabungan yang diperolehnya sebagai bantuan untuk korban gempa Lombok di Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Minggu (2/9/2018). | Ahmad Subaidi /Antara Foto

Segala upaya dikejar pemerintah untuk mempercepat penyelesaian rehabilitasi dan rekonstruksi demi mengangkat lagi gerak ekonomi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bantuan dana bagi renovasi rumah warga yang hancur akibat gempa sudah sebagian disalurkan oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo ketika berkunjung ke Kelurahan Pemenang Baru, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, Minggu (2/9/2018).

Hari itu, Jokowi menyalurkan bantuan untuk 5.293 rumah dalam bentuk tabungan, yang nilainya terbagi atas Rp50 juta untuk rumah rusak berat, Rp25 juta untuk rumah rusak sedang, dan Rp10 juta untuk rumah rusak ringan.

Sebanyak 400 orang lulusan Teknik Sipil dari berbagai universitas yang diterima Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) angkatan 2017 sudah berangkat ke Lombok untuk membantu perbaikan rumah.

“Kalau nanti bangunnya ini sudah selesai dan ternyata tidak sampai Rp50 juta, ya Alhamdulillah. Silakan digunakan untuk kepentingan yang lain, tapi prioritas yang pertama adalah untuk rumah,” kata Jokowi, dalam laporan AntaraNews.

Jokowi tidak membatasi keinginan warga yang ingin membangun rumah mereka sesuai dengan keinginan masing-masing. Selama rumah-rumah tersebut mengikuti prinsip bangunan tahan gempa.

“Mau bangun dengan dinding dari bhedek bambu, boleh. Mau dibangun lagi dengan tembok, boleh. Tapi yang konstruksinya tahan gempa, harus benar konstruksinya,” sambung Jokowi.

Seiring dengan rehabilitasi rumah warga, Jokowi juga meminta seluruh jajarannya untuk mempercepat pemulihan fasilitas-fasilitas umum seperti pasar, puskesmas, rumah sakit, perkantoran, sekolah, dan lainnya.

Semakin cepat rampung, maka akan semakin cepat ekonomi bergerak lagi, lanjut Jokowi. Tanpa gempa, ekonomi NTB sebenarnya sudah melemah akibat anjloknya sektor pertambangan.

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, ekonomi NTB pada triwulan II/2018 mengalami kontraksi sebesar 0,83 persen, meski terjadi surplus pada produksi petani akibat periode panen raya.

Namun dengan gempa, kondisi ekonomi diprediksi memburuk lantaran peningkatan inflasi, kemiskinan, serta tingkat pengangguran. Belum lagi tingkat okupansi hotel—sebagai indikator pariwisata—yang merosot akibat gempa.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro memprediksi dampak gempa Lombok bakal terasa pada triwulan III/2018 ini. Dalam hitung-hitungannya, pertumbuhan ekonomi NTB kemungkinan tertahan di angka 0 persen.

Ekonomi kemungkinan bisa cepat bergerak jika pemerintah dan seluruh jajaran yang terkait mempercepat pemulihan, bukan hanya rehabilitasi dan rekonstruksi NTB, tetapi juga sektor pariwisatanya.

Menurut Bambang, dalam lansiran Katadata, sektor pariwisata diyakini bisa mencegah terjadinya pengangguran lebih besar lagi. Jika begitu, maka ekonomi di Lombok bisa pulih dalam rentang waktu enam hingga 12 bulan.

Maret 2018, Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Mohammad Faozal pernah berujar, pertumbuhan investasi kepariwisataan NTB tahun 2017 mencapai 22 persen, naik dari posisi 19 persen pada tahun sebelumnya. Dalam klaimnya, sektor ini adalah penyumbang tertinggi investasi bagi NTB.

Kemajuan sektor pariwisata di NTB ditandai dengan meningkatnya angka kunjungan wisatawan mancanegara dan lokal. Pada 2016, jumlah wisatawan yang datang ke NTB berjumlah 3,1 juta dan naik menjadi 3,8 persen pada 2018 melebihi target 3,5 juta kunjungan.

Jumlah hotel baik bintang dan non-bintang di NTB melonjak 1,4 kali lipat pada 2017 dibandingkan dengan 2013. Pada 2017, hotel non-bintang mayoritas berada di Lombok Utara (484 hotel) sementara hotel bintang paling banyak ada di Lombok Barat (22 hotel).

Pada tahun tersebut, tingkat hunian hotel non-bintang dan bintang masing-masing 24,54 persen dan 49,2 persen.

Salah satu destinasi yang mendongkrak pariwisata di Lombok adalah kawasan Mandalika, Lombok Tengah. Wilayah ini menjadi satu dari sepuluh Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kepariwisataan yang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2014.

Sejauh ini dampak kerugian akibat gempa Lombok mencapai Rp7,7 triliun. Kebutuhan dana rekonstruksi bangunan diperkirakan hingga Rp7 triliun, sementara kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) NTB hanya Rp5,2 triliun.

Kendati begitu, pemerintah, melalui Kementerian Keuangan, sudah menyiapkan dana cadangan penanggulangan bencana sebesar Rp4 triliun yang siap dikucurkan sesuai dengan kebutuhan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR