Longsor di Manggarai Barat ditetapkan sebagai bencana daerah

Kapolres Manggarai Barat AKBP Julisa K menggendong seorang anak melewati aliran banjir di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Jumat (8/3/2019).
Kapolres Manggarai Barat AKBP Julisa K menggendong seorang anak melewati aliran banjir di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Jumat (8/3/2019). | Humas Polres Manggarai Barat /Antara Foto

Banjir yang menyebabkan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bencana itu mulai terjadi sejak Kamis, 7 Maret 2019.

Atas kejadian ini, pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur menetapkan peristiwa tanah longsor dan banjir sebagai bencana daerah. Status tanggap darurat bencana ini diberlakukan sejak Sabtu, 9 Maret 2019.

Menurut laporan, hingga Sabtu (9/3) siang, ada 2 kecamatan dan 6 desa yang terdampak.

"Lokasi Provinsi NTT, Manggarai Barat, Kecamatan Komodo, Desa Gorontalo, Desa Nanga Ngai, Desa Bolo Bilas. Kecamatan Mbiling, Desa Tondong Belang, Desa Cunca Lolos, Desa Liang Ndara," kata Kapusdatin Humas BPNB, Sutopo Purwo Nugroho seperti dikutip detikcom, Sabtu (9/3/2019).

Longsor tersebut juga mengakibatkan 18 titik jalan, tiga rumah, dua kendaraan roda empat, dan dua motor yang ikut tertimbun material longsor.

Sementara banjir yang terjadi di Kecamatan Komodo mengakibatkan sejumlah rumah terendam. Sebanyak 12 titik jalan Trans Flores pun ikut dipenuhi debit air yang cukup tinggi, sehingga dinyatakan lumpuh total hingga saat ini.

Kejadian itu juga menyebabkan empat orang meninggal, yaitu Hironimus Rius (47), Remigius Sera (32), Tania (8 bulan), dan Ardus (46).

"Hironimus Rius dan Ardus ditemukan tewas pada Kamis (7/3/2019), sedangkan Remigius Sera dan Tania ditemukan pada Jumat kemarin," sebut Kapolres Manggarai Barat AKBP Julisa Kusumowardono kepada Kompas.com, Sabtu (9/3).

Lalu, ada empat orang lagi yang masih dalam pencarian, yakni: Paulinus Salin (61), Nelti (6), Leonardus Rifal (13), dan Jelita Mensa (13).

Jumlah tersebut belum lagi ditambah korban yang harus pindah ke wilayah lain untuk menyelamatkan diri.

"Sebanyak 743 mengungsi di kantor bupati Manggarai Barat yang berasal dari 3 desa," lanjut Sutopo seperti dikutip Tempo.co, Sabtu (9/3).

Warga yang mengungsi tersebut terdiri dari 287 penduduk desa Tondong Belang Kecamatan Mbililing. Lalu, ada 320 pengungsi dari desa Gorontalo Kecamatan Komodo, serta 136 orang dari desa Nanga Ngai Kecamatan Komodo.

Sutopo juga memastikan, kendati banjir mulai surut, tapi hingga saat ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih terus melakukan pendataan dan evakuasi korban ke Kantor Bupati Manggarai Barat. Tim gabungan juga tengah mencari 4 orang hilang yang tertimbun longsor.

Untuk segera memulihkan wilayah tersebut, pemerintah Kabupaten Manggarai Barat serta Kabupaten Manggarai telah memberikan bantuan alat berat untuk membersihkan material longsor.

Upaya penanganan segera diharapkan dapat membuat akses transportasi darat ke wilayah tersebut kembali dapat dipergunakan. Hal tersebut dilakukan guna melancarkan distribusi sembako dan bahan bakar minyak (BBM) untuk kebutuhan masyarakat di Pulau Flores.

Gubernur NTT Victor Bungtilu Laiskodat saat ini juga tengah mendorong Badan Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) X Kupang untuk segera mengatasi masalah tersebut.

Hal serupa pun disampaikan oleh Kepala Biro Humas dan Protokol Gubernur NTT Marianus Jelamu. Menurutnya pembersihan pada ruas jalan nasional Ruteng-Labuan Bajo perlu menjadi prioritas BPJN X Kupang, karena ruas jalan nasional ini merupakan jalur vital bagi transportasi darat yang menghubungkan Pulau Flores dengan Pulau Jawa, Bali, dan NTB.

“Gubernur NTT sudah meminta BPJN untuk melakukan berbagai upaya agar akses transportasi menuju Laboan Bajo segera pulih kembali, sehingga berbagai kebutuhan ekonomi masyarakat di Pulau Flores tidak terganggu,” ujar Marianus kepada IDN Times, Sabtu (9/3).

Bukan kali pertama

NTT tidak termasuk ke dalam satu dari 10 provinsi rawan longsor di Indonesia. Kendati demikian, kejadian ini bukan yang pertama bagi Manggarai.

Pada 10 Januari 2019, longsor akibat hujan deras yang mengguyur kecamatan Reok, Cibal Barat dan sebagian wilayah kecamatan Cibal menyebabkan terputusnya jalan Ruteng-Reo.

Longsor tersebut tidak menelan korban jiwa. Namun, banyaknya pohon yang tumbang dan limpahan material longsor menyebabkan tersendatnya aktivitas warga untuk beberapa saat.

Sebelumnya, pada 13 Desember 2018 hujan lebat juga membuat rusak tiga ruas jalan, yakni Reo-Merang-Kedindi, Ruteng-Kenda, serta Waedese-Gelong.

Saat itu Bupati Manggarai Deno Kamelus telah memerintahkan timnya untuk segera mengatasi masalah tersebut, apalagi ruas jalan itu akan dipergunakan sebagai jalur mudik Natal-tahun baru.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR