Luhut Pandjaitan, Vatikan, dan sawit

Wakil Presiden Jusuf Kalla (ketiga kanan) bersama Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (kanan) berbincang dengan para ketua delegasi negara-negara Afrika dalam pembukaan Forum Indonesia Afrika (IAF) 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa (10/4).
Wakil Presiden Jusuf Kalla (ketiga kanan) bersama Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (kanan) berbincang dengan para ketua delegasi negara-negara Afrika dalam pembukaan Forum Indonesia Afrika (IAF) 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa (10/4). | Nyoman Budhiana /Antara Foto

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan termasuk pejabat yang getol menyuarakan sawit Indonesia. Dalam beberapa kesempatan, Luhut seringkali melontarkan persoalan sawit, termasuk dalam kunjungannya ke Vatikan.

Di Vatikan, Luhut bertemu Direktur Lembaga Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian, Peter Turkson pada Rabu (25/4/2018). Vatikan, kata Luhut, akan membantu Indonesia dalam menghadapi ancaman Uni Eropa untuk menghapus penggunaan biodiesel dari kelapa sawit.

Kardinal Turkson, ujar Luhut, menyampaikan perhatiannya terhadap nasib petani sawit dan jutaan orang yang kehidupannya bergantung pada industri kelapa sawit.

"Beliau secara khusus menyatakan apa yang akan terjadi jika mereka ini yang sebagian besar muslim tidak mempunyai penghasilan lagi," kata Luhut dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/4/2018). "Karena itu, Kardinal Turkson menggagas untuk mengadakan seminar yang membicarakan hal ini di Universitas Kepausan di Vatikan bulan depan."

Seminar akan mengundang unsur-unsur dari Uni Eropa, perusahaan multi-nasional pengguna produk kelapa sawit, petani rakyat khususnya dari Malaysia dan Indonesia, serta lembaga-lembaga keagamaan.

Luhut didaulat menjadi Ketua Tim Negosiasi RI untuk perundingan pembatasan penggunaan produk turunan kelapa sawit di Uni Eropa. Tim negosiasi dibentuk untuk membangun dialog kemitraan Indonesia dengan negara di Uni Eropa dalam menghadapi masalah kelapa sawit.

Sebelum ke Vatikan, Luhut bertemu dengan Komisioner Perdagangan Uni Eropa, Cecilia Malmstrom di Brussels, Belgia pada Senin (23/4/2018). Luhut mengatakan bahwa Indonesia ingin membangun dialog kemitraan dalam menghadapi masalah kelapa sawit.

"Kami tidak datang untuk mengemis, untuk didikte, tetapi untuk berdialog dengan mitra," kata Luhut melalui Antaranews. "Kami dalam posisi yang setara, kami ingin membangun partnership. Kami bukan negara miskin. Kami negara kaya dengan banyak pengalaman."

Luhut mengatakan hampir semua sawit yang dikirim dari Indonesia telah mendapat sertifikasi Internasional. Hasil penelitian dari konsultan independen pun memperlihatkan tak ada dampak sawit terhadap kesehatan.

Kepada Komisioner Malmstrom, Luhut mengatakan bahwa perkebunan kelapa sawit membantu meningkatkan kesejahteraan petani di negara-negara berkembang lainnya, bukan hanya di Indonesia.

Boikot balasan Indonesia ke Uni Eropa

Negara di Eropa dianggap melakukan langkah diskriminatif melalui resolusi Parlemen Eropa pada 4 April 2017 yang melarang minyak sawit digunakan di Eropa mulai 2021 karena dianggap tidak ramah lingkungan.

Kebijakan Uni Eropa melarang sawit memunculkan wacana balas dendam. Wakil Presiden Jusuf Kalla sempat melontarkan wacana boikot produk Uni Eropa pada 11 April 2018 lalu.

Kalla mengatakan bahwa Indonesia bisa saja menghentikan impor dari negara-negara di Uni Eropa, seperti pesawat, apabila minyak kelapa sawit mentah tetap dilarang masuk.

"Jangan memperlakukan diskriminatif karena kita juga bisa mengambil kebijakan yang sama. Kita peringatkan kepada Eropa bahwa kita membeli banyak, kita termasuk pembeli terbesar mereka. Airbus contohnya, oleh Garuda, Lion Air dan lain-lain," kata Jusuf Kalla melalui Antaranews.

Kalla telah melontarkan gertakan, meski jalan diplomasi terus diupayakan. Kalla mengatakan pemerintah Indonesia terus bernegosiasi agar kerja sama perdagangan dengan negara Uni Eropa berjalan baik.

Hal senada diungkapkan Luhut. Indonesia, kata Luhut, tidak pernah berniat melakukan tindakan balasan terhadap larangan biodiesel kelapa sawit dari Uni Eropa, termasuk mengalihkan pembelian pesawat.

Luhut menambahkan Indonesia ingin terus bernegosiasi untuk menemukan solusi yang baik bagi semua pihak. "Melakukan tindakan balasan bukan budaya kami," ujar Luhut. "Tetapi, kami jangan terus disudutkan."

Luhut mengatakan Indonesia saat ini harus agresif melakukan perundingan dan diplomasi karena selama ini menurutnya hal tersebut kurang dilakukan.

Luhut mengatakan beberapa tokoh yang ditemuinya di Eropa ternyata kurang memahami kemajuan Indonesia seperti di bidang ekonomi, keamanan, dan isu lingkungan. "Kita agak terlambat sehingga terjadi seperti ini," kata Luhut.

Negara-negara di Eropa pernah menjadi tujuan ekspor minyak sawit dari Indonesia. Pada 1990-an, 75 persen tujuan ekspor adalah negara di Uni Eropa. Persentase itu kian turun hingga menjadi 14 persen pada 2017. India menjadi negara tujuan ekspor terbesar minyak sawit Indonesia, selama 10 tahun terakhir.

Meski persentase ekspor ke Uni Eropa, volume volume dan nilai ekspor minyak kelapa sawit Indonesia periode 2000-2015 cenderung mengalami kenaikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor minyak kelapa sawit naik dari 4,1 juta ton pada tahun 2000 menjadi 26,5 juta ton pada tahun 2015.

Perbandingan negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia  2010 dan 2017.
Perbandingan negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia 2010 dan 2017. | CPOPC /Kementerian Perdagangan
BACA JUGA