Magnet Go-Pay bagi para investor Go-Jek

Pengemudi Go-Jek beristirahat di trotoar Jakarta, 13 Desember 2017.
Pengemudi Go-Jek beristirahat di trotoar Jakarta, 13 Desember 2017. | Mast Irham /EPA

Pesona Go-Jek di mata investor belum redup. Mengawali 2018, penyedia layanan transportasi berbasis aplikasi ini mengantongi dana segar dari lima investor sekaligus.

Nilai yang dihimpun pun adalah yang terbesar sepanjang sejarah suntikan dana yang pernah masuk ke Go-Jek, yakni US $1,2 miliar (sekitar Rp16 triliun).

Mengutip Reuters, empat investor yang dimaksud adalah Alphabet Inc (induk usaha Google), Temasek Holdings Pthe Ltd (perusahaan plat merah Singapura), Meituan-Dianping (perusahaan teknologi Tiongkok), dan dua firma investasi asal Amerika Serikat; KKR & CO LP dan Warburg Pincus LLC.

Dua firma investasi yang terakhir disebut sudah dua kali berinvestasi di Go-Jek. Investasi pertamanya sebesar US $550 juta (setara Rp7,2 triliun) pada Agustus 2016.

Suntikan dana ini hanya berselang lima bulan dari pendanaan JD.id sebesar US $100 juta (sekitar Rp1,3 triliun).

Setelah disuntik JD.id, valuasi Go-Jek diperkirakan melonjak hingga US$2,5 miliar (Rp33,23 triliun). Dengan masuknya Google, menurut seorang sumber kepada Nasdaq, nilai Go-Jek diperkirakan mencapai sekitar US $4 miliar (sekitar Rp53,18 triliun).

Valuasi Go-Jek ini berselisih sedikit dengan nilai Grab yang mencapai US $6 miliar (Rp79,75 triliun). Valuasi ini tak ayal membuat persaingan Go-Jek dan Grab semakin sengit.

Apalagi untuk valuasi sebesar itu, Go-Jek baru beroperasi di satu negara saja, dibanding dengan Grab yang sudah berekspansi di delapan negara di Asia Tenggara.

"Sebagai investor strategis, Google bisa berkontribusi banyak bagi bisnis Go-Jek. Sekarang tinggal bagaimana Go-Jek mengatur kantongnya untuk mendukung semua platform usahanya," sambung sumber itu.

Menurut sumber itu juga, dari total suntikan yang diberikan, kontribusi Google di dalamnya mencapai sekitar US $100 juta (sekitar Rp1,3 triliun). Nilai itu sebenarnya jauh lebih kecil ketimbang investasi Google di Uber pada 2013 yang mencapai US $285 juta (sekitar 3,2 triliun, dengan estimasi nilai tukar pada 2013 @Rp11.575 per dolar AS)

Go-Jek belum berkomentar terkait suntikan dana yang diterimanya. Satu hal yang pasti, Go-Jek kini sudah punya modal yang mumpuni untuk bisa melebarkan bisnisnya di kancah internasional. Oktober 2017, Go-Jek mengumumkan rencana ekspansinya di Asia Tenggara. Empat negara dengan populasi terbesar jadi incarannya.

Satu bulan sebelum rencana ekspansi itu, Go-Jek baru merekrut sekitar 2.000 teknisi dari produsen ponsel pintar HTC Corp di Taiwan dengan nilai pembajakan mencapai US $1,1 miliar.

Pada bulan yang sama, Go-Jek juga meluncurkan sebuah layanan pembayaran digital lokal di India, sebagai upaya melebarkan sayapnya di bisnis yang tengah populer di negara padat penduduk itu.

Awal tahun ini, Go-Jek bergabung dengan perusahaan pengembangan game mobile asal Tiongkok, Choshou. Sebelumnya, pada 2015 Go-Jek tercatat sebagai salah satu investor pada perusahaan rintisan, Tiongkok, yang bergerak dalam bidang pengembangan kecerdasan artifisial (AI), Mobvoi.

Di sisi lain, dengan pundi-pundi sebesar itu, kemungkinan bagi Go-Jek untuk mencari modal tambahan melalui bursa saham akan semakin kecil.

Go-Jek punya Go-Pay

Satu hal yang umum ketahui adalah rencana Go-Jek untuk mengembangkan layanan pembayaran digitalnya, Go-Pay. Banyak yang optimistis, Go-Pay akan menjadi jantung utama dari bisnis Go-Jek di masa mendatang.

Dalam mendukung upaya itu, pada Desember 2017, Go-Jek merampungkan pembelian tiga perusahaan penyedia layanan keuangan berbasis digital atau yang lebih dikenal dengan financial technology (fintech).

Total transaksi tiga fintech itu dikabarkan lebih dari Rp67,5 triliun per tahun, baik melalui kartu kredit, debit, maupun dompet digital.

Adapun tiga fintech yang dicaplok adalah sistem pembayaran daring, Midtrans; layanan penyimpanan dan peminjaman, Mapan; dan penyedia layanan pembayaran elektronik luring (offline), Kartuku.

Go-Jek mengklaim memiliki lebih dari 15 juta pengguna aktif mingguan dan lebih dari 100 juta transaksi per bulan. Ada 900 ribu mitra pengemudi dan 125 ribu penyedia layanan yang mayoritas Usaha Kecil Menengah (UKM).

Presiden Go-Jek Group, Andre Soelistyo saat itu mengatakan, tahun 2018 akan menjadi tahun Go-Pay berekspansi di luar ekosistem Go-Jek.

Go-Jek yang selama ini berfokus di bisnis transportasi daring mulai bertransformasi lintas sektor. Perusahaan yang dibuat lulusan Harvard University ini agaknya paham potensi besar bisnis pembayaran digitalnya. Apalagi, jumlah transaksi oleh pengguna dengan Go-Pay telah mencapai 60 persen.

Dalam Bloomberg Nadiem pernah berujar, ke depannya Go-Pay bisa digunakan pelanggannya dalam cakupan yang lebih luas dan lintas kalangan, sebagai bagian dari cita-cita pemerintah menciptakan masyarakat cashless.

Nadiem memang belum pernah memaparkan lebih dalam rencana yang akan dia lakukan terhadap Go-Pay.

Saat itu, dia hanya mengatakan, "kami ingin melihat orang-orang Indonesia berjalan-jalan, mengambil Go-Jek untuk moda transportasi keliling kota tanpa memikirkan apakah mereka bawa dompet atau tidak," sembari menambahkan, "2018 akan jadi tahunnya Go-Pay".

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR