BUDAYA KEKERASAN

Mahasiswa korban penganiayaan senior di UNG mulai bersaksi

Para mahasiswa jurusan Sendratasik UNG mendatangi Polres Gorontalo Kota untuk memberi kesaksian atas dugaan tindak penganiayaan di kampus, Jumat (8/2/2019).
Para mahasiswa jurusan Sendratasik UNG mendatangi Polres Gorontalo Kota untuk memberi kesaksian atas dugaan tindak penganiayaan di kampus, Jumat (8/2/2019). | Franco Dengo /Beritagar.id

Satu per satu korban penganiayaan pada jurusan seni drama tari dan musik (Sendratasik) Universitas Negeri Gorontalo UNG mendatangi Polres Gorontalo Kota, Jumat (8/2/2019). Mereka dimintai kesaksian atas dugaan tindak kekerasan yang dilakukan oleh senior mereka pada 26 Maret 2018 silam.

"Benar. Menindaklanjuti laporan tertanggal 29 Januari 2019, kami memanggil para mahasiswa yang diduga korban penganiayaan. Sebenarnya kami juga telah memanggil mahasiswa terduga pelaku. Namun, tidak satupun yang datang," ujar Kasat Reskrim Polres Gorontalo Kota, AKP Handy Senonugroho.

Kasus ini sebenarnya baru terungkap ketika salah satu orangtua korban merasa tidak terima dan melaporkannya ke kepolisian. Sebelumnya, tim pencari fakta yang dibentuk pihak Fakultas Kesenian UNG mengonfirmasi kebenaran tindak kekerasan yang dialami sekitar 32 mahasiswa angkatan 2016-2017 itu.

Mewakili teman-temannya, seorang korban bernama Aji Ibrahim (20) menyatakan ini saatnya mereka menuntut keadilan atas pengalaman buruk mereka. Sebelumnya mereka memang menutup rapat hal ini.

"Yang pasti kami merasa tidak terima. Apalagi ada teman kami yang sampai parah, rahangnya bergeser. Adanya support dari pihak kampus juga akhirnya membuat kami berani," kata mahasiswa angkatan 2016 ini kepada beritagar.id.

"Apalagi korbannya banyak. Lebih dari 30 mahasiswa, termasuk angkatan 2017."

Aji juga sedikit menceritakan situasi mencekam yang mereka alami pada malam 26 Maret 2018 itu. Seperti pengalaman teman-temannya, ia ditampar habis-habisan oleh para senior secara bergiliran.

Saat itu, Aji mengaku hanya diam saja dengan alasan sangat menghormati senior angkatannya tersebut. "Saking banyaknya, saya lupa berapa kali ditampar. Teman-teman, apalagi yang perempuan, teriak menangis," ungkapnya.

Ada hampir 20 korban yang datang memberi keterangan ke pihak kepolisian. Mereka datang bersama-sama dengan alasan solidaritas atas pengalaman bersama. Beberapa dari mereka didampingi oleh orangtua masing-masing.

"Ya karena belum ada kejelasan dan keadilan atas apa yang anak saya alami. Maka saya tempuh jalur hukum. Orangtua mana yang rela anaknya yang direstui untuk menuntut ilmu, malah diperlakukan seperti binatang.

"Saya inginnya semuanya menjadi jelas dan tuntas," kata Muharmin Doke, orangtua korban yang melaporkan kasus ini. "Supaya tidak ada lagi hal-hal seperti ini terjadi pada anak lain."

Tidak hanya mahasiswa yang menjadi korban dan orangtua, beberapa dosen jurusan Sendratasik juga ikut dimintai keterangan. Namun, disela-sela proses berita acara pemeriksaan (BAP), sebuah insiden terjadi. Para dosen mendapatkan informasi, adanya salah satu orangtua terduga pelaku yang sedang mengamuk di kampus.

"Belum sempat diperiksa. Saya mendapat kabar ada satu orangtua mahasiswa yang marah-marah di kampus. Jadinya saya langsung balik menuju ke kampus," kata Ipong Niaga, ketua jurusan Sendratasik UNG.

Orangtua terduga pelaku itu, sambung Ipong, menuding bahwa pihak jurusan sengaja menyeret kasus ini ke pihak kepolisian. Padahal menurut Ipong, orangtua korban yang melaporkan hal ini ke kepolisian. Ulah pria itu sempat membuat geger kantor fakultas.

"Dia membentak-bentak kami. Padahal, ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia menganggap kami tidak segera menyelesaikan masalah. Kan kami sudah membentuk tim pencari fakta, dan hasilnya sudah kami serahkan ke pihak Universitas. Bukan tupoksi sebagai pemberi keputusan," terang Ipong.

Seiring dengan bergulirnya kasus ini di pihak kepolisian. Pihak universitas juga telah membuat tim pencari fakta baru untuk menyempurnakan temuan-temuan sebelumnya. Dan diharapkan segera memberi hasil atas dugaan tindak penganiayaan yang terjadi di lembaga pendidikan tertinggi itu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR