BUDAYA KEKERASAN

Mahasiswa tewas, Kemenhub akan evaluasi ATKP Makassar

Foto ilustrasi kematian mahasiswa
Foto ilustrasi kematian mahasiswa | Aradaphotography /Shutterstock

Angka kematian di dunia pendidikan Indonesia bertambah. Terbaru, Aldama Putra Pangkola (19), taruna tingkat I di kampus Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar, Sulawesi Selatan, tewas di kampusnya pada Minggu (3/2/2019).

Pihak kampus pada awal menyatakan Aldama tewas akibat kecelakaan di kamar mandi. Namun pihak keluarga tak percaya dan curiga sehingga melaporkannya ke kepolisian.

Jenazah korban pun langsung diotopsi oleh tim dokter RS Bhayangkara. Dari sana, Aldama dinyatakan tewas akibat tindak penganiayaan.

Penyidik Polrestabes Makassar pun langsung melakukan penyelidikan dengan memeriksa 22 saksi. MR (21), taruna tingkat 2 ATKP, ditetapkan sebagai tersangka. Penganiayaan oleh mahasiswa senior terjadi setelah Aldama kepergok tak mengenakan helm saat berkendara.

Dan ini bukan maut pertama di ATKP Makassar. Kasus antara senior dan junior di sana pernah menelan korban jiwa pada 2016.

Ketika itu, 19 November 2016, seorang taruna tingkat 2 ATKP Makassar bernama Ari Pratama (20) ditemukan tewas tenggelam di kolam renang Brigade Infanteri (Brigif) Linud III TBS/Kostrad, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulsel.

Sebulan berlalu, keluarga korban mengirim surat kepada kepolisian Polres Maros. Keluarga menduga kematian Ari tidak wajar karena ada bekas lebam di tubuhnya.

Ari adalah taruna ATKP Makassar angkatan 2015 asal Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Sayang kasusnya tak terungkap hingga kini karena pihak keluarga menolak dilakukan otopsi.

Kekerasan di dunia pendidikan yang dilakukan oleh siswa pada 2018 meningkat dibanding 2017 walau angkanya masih di bawah periode 2016. Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang diolah tim Lokadata Beritagar.id, kekerasan oleh anak di lembaga pendidikan pada 2018 meningkat 9,48 persen dari tahun sebelumnya menjadi 127 kasus.

Pengamat Pendidikan, Prof. Aris Munandar pun sempat memberikan komentar terhadap kejadian terbaru di Makassar. Aris menilai seharusnya kampus bisa mengantisipasi, apalagi ini bukan kejadian pertama.

"Menurut saya hal itu dapat terjadi karena pertama, ada budaya senioritas yang cukup lama tertanam di institusi itu. Senior memiliki kewenangan yang berlebihan mengontrol juniornya," ungkapnya dikutip GoSulsel, Rabu (6/2).

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pun berjanji bakal mengevaluasi proses pengelolaan pendidikan di ATKP Makassar yang berada di bawah kewenangannya. Salah satunya adalah dengan membuat sistem pelaporan.

"Evaluasi pasti dilakukan, untuk evaluasi keselamatan (taruna) tentunya dibutuhkan alat. Alat itu adalah sistem yaitu sistem pelaporan," kata Novyanto Widadi, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemenhub tanpa menjelaskan detailnya kepada Tribunnews, Rabu (6/2).

Sistem tersebut diharapkan dapat memudahkan para siswa untuk melapor jika ada kejadian yang mengancam keselamatannya. Apalagi sistem hazard report yang diberlakukan selama ini dianggap belum maksimal.

Kemenhub juga akan menambah CCTV di kampus ATKP agar tak lagi tersedia celah bagi para pelaku untuk menghindar. Misalnya dengan bersembunyi di tempat-tempat yang tak tersorot kamera.

Sebelumnya, Kemenhub mengaku berulang kali memberikan peringatan kepada para pengelola sekolah di bawah kewenangannya untuk melaksanakan standar prosedur tetap (protap). Baik pengawasan hingga pencegahan terjadinya kekerasan.

"Siapa pun yang melihat (kejadian) pasti ada, tapi kenapa tidak lapor. Inilah budaya belum tersosialisasikan dengan baik. Kalau ada sesuatu yang aneh dalam lingkungan (kampus) maupun diri sendiri harus lapor.

"Yang tadinya dipukul senior diam saja, tutup mulut ditahan. Budaya ini yang akan kami ubah," terangnya dalam Jawa Pos, Kamis (7/2).

Lalu, sebagai langkah awal dalam mengubah budaya tersebut, tim investigasi kampus pun akan dilibatkan dalam pembuatan aturan manual yang lebih detail. Di dalamnya akan terdapat cara mengurus laporan aktivitas para taruna ATKP di luar jam belajar.

Kemenhub berjanji membuat sistem tersebut dengan detail. Sehingga semua pelajar bisa melaporkan, baik kepada direktur, taruna senior, maupun pengasuh dan dosen. Upaya ini diharapkan dapat mengeliminasi dan mitigasi kejadian yang lebih besar.

Direktur ATKP Makassar Agus Susanto menambahkan telah memeriksa sejumlah perangkat internal. Baik pengasuh, pengawas, hingga pelaksana-pelaksana teknis lainnya. Pemeriksaan dilakukan melalui tim Satuan Pemeriksa Internal (SPI) ATKP Makassar.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR