PEMILU 2019

Mahfud MD ajak generasi milenial untuk memilih

Sejumlah mahasiswa dan mahasiswi melengkapi data saat mengurus layanan pindah memilih di Universitas Udayana, Jimbaran, Badung, Bali, Kamis (14/2/2019). Layanan yang digelar KPU Kabupaten Badung tersebut guna memfasilitasi warga dari daerah lain khususnya mahasiswa yang berasal dari luar daerah untuk mengurus Formulir A5 agar dapat menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2019.
Sejumlah mahasiswa dan mahasiswi melengkapi data saat mengurus layanan pindah memilih di Universitas Udayana, Jimbaran, Badung, Bali, Kamis (14/2/2019). Layanan yang digelar KPU Kabupaten Badung tersebut guna memfasilitasi warga dari daerah lain khususnya mahasiswa yang berasal dari luar daerah untuk mengurus Formulir A5 agar dapat menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2019. | Fikri Yusuf /Antara Foto

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengajak generasi milenial untuk memilih pada hari pemungutan suara 17 April nanti. Ia mengatakan pilihlah presiden dan para wakil rakyat yang lebih baik daripada orang tidak baik.

Ajakan memilih alias tidak golput (golongan putih/tidak memilih) dari Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan itu diungkapkan saat berbicara pada Diskusi Kebangsaan Milenial dan Partisipasi Politik, di Universitas Parahyangan, Bandung, Kamis (11/4/2019).

Menurutnya, dengan turut berperan dalam pemilu, rakyat berhak untuk menuntut keadilan dan kesejahteraan terhadap pemerintah.

"Jangan sampai golput, pemilu milih presiden dan anggota dewan perwakilan bukan memilih pemimpin sangat baik, tapi memilih pemimpin orang yang lebih baik daripada orang tidak baik. Presiden mana yang kita butuhkan, saudara-saudara pilih sendiri sesuai dengan yang Anda butuhkan," jelas Mahfud seperti dikutip Merdeka.com.

Mahfud juga berpesan agar mahasiswa tidak apatis terhadap politik lalu menjadi golput pada hari pemungutan suara. "Rugi kalau enggak milih. Negara menjanjikan banyak hal, menjanjikan boleh bermimpi menjadi apa yang diinginkan contohnya seperti saya," tandasnya.

Angka pemilih milenial pada Pemilu 2019 mencapai 40 persen. Beragam cara dilakukan untuk meningkatkan partisipasi pemilih yang dipatok oleh KPU dan Pemerintah, sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang mencapai 77,5 persen.

Imbauan memilih pada Pemilu 2019 yang akan digelar 17 April nanti diembuskan banyak pihak. Jika ditilik pada Pemilu Legislatif 2014, lebih dari sepertiga pemilih absen. Mereka menjadi golput atau suaranya tidak sah. Angka itu jauh lebih besar dari 12,8 persen suara yang diperoleh partai pemenang.

Bahkan, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyebut kunci keberhasilan pemilu adalah partisipasi masyarakat. "Kuncinya ada pada partisipasi..." kata Tjahjo usai memberi kuliah umum kepada mahasiswa PTIK di Auditorium STIK-PTIK, Jakarta (4/4).

Habiskan biaya triliunan rupiah

Imbauan serupa disampaikan Presiden Joko Widodo. Menurutnya, pelaksanaan pesta demokrasi lima tahunan tersebut memerlukan pembiayaan yang besar sehingga amat disayangkan bila masyarakat tak memanfaatkan kesempatan tersebut.

"Karena pemilu ini, Pileg-Pilpres, menghabiskan biaya triliunan. Sangat rugi besar kita kalau tidak menggunakan hak pilih kita. Ini menentukan arah negara ini ke depan," ujarnya.

Pemilu, sebut calon presiden petahana ini, menghabiskan biaya triliunan rupiah lantaran pagu anggaran penyelenggaraan Pemilu 2019 meningkat 61 persen menjadi Rp25,59 triliun dari Rp15,62 triliun untuk Pemilu 2014.

Dalam catatan Kementerian Keuangan, alokasi anggaran paling besar digunakan untuk membiayai kegiatan badan adhoc (termasuk panitia) yang dibentuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) yakni 63,6 persen (Rp10,04 trilun) dari pagu total anggaran KPU.

Pos kenaikan jumlah panitia pemilu dan honorarium panitia menjadi penyebab utama lonjakan anggaran. Pada pemilu tahun 2019, terdapat penambahan provinsi yakni Kalimantan Utara dan penambahan 17 kabupaten/kota di Indonesia.

Jumlah seluruh panitia yakni 7.201 panitia pemilihan kecamatan (PPK), 83.404 panitia pemungutan suara (PPS), serta 810.329 tempat pemungutan suara (TPS).

Untuk kebutuhan para pemilih di luar negeri sebanyak 783 TPSLN, 2.345 TPSLN-KSK, serta 429 TPSLN-Pos. Sementara itu, untuk anggaran pengawasan dan pendukung juga meningkat menjadi masing-masing Rp4,85 trilun dan Rp3,29 triliun.

Selain menggencarkan imbauan, untuk mendorong tingkat partisipasi pemilih, Pemerintah juga telah menetapkan 17 April 2019 sebagai hari libur nasional.

Lalu, bagaimana cara memilih? Sebelum menggunakan hak pilih, sebaiknya simak beberapa hal terkait surat suara dan tata cara mencoblos di bilik suara.

Di bilik suara, akan dipilih calon presiden-wakil presiden, para pemilih juga akan memilih para anggota legislatif Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) tingkat provinsi dan kota/kabupaten, serta Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Di TPS, para pemilih akan menerima maksimal lima surat suara. Kelima surat suara ini dibedakan berdasarkan warna dan memiliki fungsi berbeda, sehingga pemilih mesti cermat dan benar-benar memerhatikan agar tak salah pilih.

Ada pengecualian yang berlaku bagi pemilih di DKI Jakarta, pemilihnya hanya akan menerima empat surat suara lantaran di Jakarta tidak memilih caleg di tingkat kabupaten/kota.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR