Majelis ulama ajak Gafatar debat terbuka

Sejumlah anak bermain di halaman tempat penampungan eks-anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Asrama Transito Dinas Transmigrasi dan Kependudukan Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, 
Minggu (24/1/2016). Selama di penampungan, anak-anak dari anggota eks-Gafatar tersebut akan diberi pendampingan guna mengembalikan kondisi psikis mereka dan rencananya mereka akan ditampung 
selama 3 hari di asrama itu.
Sejumlah anak bermain di halaman tempat penampungan eks-anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Asrama Transito Dinas Transmigrasi dan Kependudukan Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (24/1/2016). Selama di penampungan, anak-anak dari anggota eks-Gafatar tersebut akan diberi pendampingan guna mengembalikan kondisi psikis mereka dan rencananya mereka akan ditampung selama 3 hari di asrama itu. | Zabur Karuru /ANTARA FOTO

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Zaitun Rasmin menyatakan pihaknya siap berdebat dengan para petinggi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Ia meminta debat itu dilakukan terbuka di depan para pengikut Gafatar.

"Yang paling penting anggota mereka (Gafatar) bisa disadarkan," kata Zaitun, usai mengikuti rapat di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Selasa malam (26/1/2016).

Di dalam rapat yang dihadiri beberapa Menteri Kabinet Kerja dan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti itu MUI memberi usulan agar mengajak dialog Gafatar.

"Kalau perlu, debat dilakukan di depan para pengikutnya. Supaya mereka tahu selama ini mereka dikibulin," kata Zaitun, yang menyatakan akan segera menerbitkan fatwa untuk Gafatar.

Sejauh ini, fatwa sesat bagi Gafatar diterbitkan oleh MUI daerah Aceh, Kalimantan Barat, Yogyakarta, Poso dan Nusa Tenggara Barat. "Jelas sekali tentang kesesatan itu karena mereka (Gafatar) metamorfosis Al Qiyyadah Al Islamiyah," tuturnya.

Majelis MUI pusat sendiri dikatakan Zaitun akan secepatnya menerbitkan fatwa untuk Gafatar, selesai pengkajian dari komisi fatwa yang rampung awal Februari.

Pada 2007 MUI pernah mengeluarkan fatwa sesat untuk kelompok ini. Tapi, dikatakan Zaitun, mereka berubah menjadi organisasi masyarakat.

"Nah kalau Ormas bukan urusan MUI. Ini adalah domain petugas, baik TNI, Polri, dan BIN. Jadi ini tugas bagi pemerintah," ujarnya.

Gafatar dinilai Zaitun mencoba berkelit dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penodaan Agama. Hal itu terlihat dari pernyataan mereka telah keluar dari ajaran Islam.

"Takutnya ini dijadikan modus. Mereka pakai Milah Abraham itu, dan menyatakan keluar untuk formalitas saja. Mereka tetap menggunakan ajaran Islam, hanya nanti diubah, seperti tidak salat atau jilbabnya dibuka. Jadi itu modus," kata Zaitun.

Walau terindikasi menyebar paham menyimpang, namun Zaitun meminta masyarakat tidak main hakim sendiri terhadap warga eks Gafatar. "Serahkan ke pemerintah. Jangan melakukan tindakan yang merugikan umat dan bangsa," katanya.

Menanggapi pernyataan eks Ketua Umum Gafatar Mahful Muis Tumanurung yang menyebut telah mengirim surat audiensi kepada MUI, Zaitun mengatakan tidak pernah menerimanya.

"Sampai sekarang enggak ada surat itu. Kalau mereka minta audiensi pasti dilayani, dan kita sudah beri nasihat pada mereka," kata dia.

Dari jumpa media kemarin di Lantai III Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta, Selasa (26/1/2016), Mahful Muis Tumanurung mengaku gerah terhadap MUI di sejumlah daerah yang menyatakan Gafatar sesat.

"Kami tidak memiliki paham sama, dan bukan bagian dari mereka. Bagaimana difatwa kalau kami ada di luar (bukan bagian)," katanya.

Ia mengatakan mantan anggota Gafatar telah keluar dari keyakinan agama Islam mainstream. Ajaran yang dipegang teguh adalah paham Millah Abraham yang dianggap sebagai jalan kebenaran. Sebab itu, ditambahkan dia, MUI salah alamat melabelkan sesat ke pihaknya.

Gafatar berdiri pada 14 Agustus 2011. Namun pada 13 Agustus 2015 Gafatar dibubarkan melalui kongres luar biasa. Saat dibubarkan, jumlah anggota Gafatar yang tercatat Mahful sebanyak 50.000 orang. Namun angka itu belum termasuk para simpatisannya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR