LITERASI DIGITAL

Maka WhatsApp pun semakin membatasi forward

| Tito Sigilipoe /Beritagar.id

REM | Ada tiga soal penerusan pesan dalam aplikasi WhatsApp (WA). Pertama: tanda forwarded muncul setelah di India, Juni 2018, WA menjadi sarana penerusan hoaks sehingga dua orang yang disimpulkan sebagai penculik anak dikeroyok sampai mati.

Tak ada yang salah dengan penerusan. Yang salah adalah isi pesan. Namun WA membatasi penerusan pesan 20 kali sehari — itulah soal kedua.

Lantas pekan ini penerusan menjadi lima kali sehari — masih lebih banyak daripada umumnya aturan minum obat. Itulah soal ketiga.

Soal hoaks dan sejenisnya tak pernah selesai. Apalagi ketika isu politik memanas. Salah satu hal menarik dari pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2016, menurut riset Universitas Princeton dan Universitas New York, adalah peran lansia. Lho?

Pengguna Facebook usia 65 ke atas berbagi hoaks lebih dari dua kali lipat ketimbang kelompok usia 45-65 tahun. Salah satu penyebab adalah literasi digital.

Akan tetapi persoalan dasar adalah rem. Tuas ada di tangan pengguna aplikasi ataukah penyedia aplikasi? Pabrik pistol, alat pembunuh itu, menyerahkan kontrol kunci pelatuk kepada pengguna.

Memang sih, di banyak negeri ada regulasi untuk senjata api. Namun dengan maupun tanpa pengaturan, tak semua orang berminat bermain pistol. Sedangkan aplikasi perpesanan tak semenakutkan pistol dan senapan. Setiap orang bisa dan mudah memakai aplikasi perpesanan. Padahal selalu ada akibat buruk. Bahkan nyawa melayang karena pesan sesat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR