PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Makin defisit, Pemerintah bakal naikkan Pph impor

Suasana aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (15/8/2018). Lemahnya rupiah dan defisit transaksi berjalan membuat pemerintah bakal menaikkan tarif Pph impor.
Suasana aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (15/8/2018). Lemahnya rupiah dan defisit transaksi berjalan membuat pemerintah bakal menaikkan tarif Pph impor. | Muhammad Adimaja /Antara Foto

Pemerintah bakal menambah pembatasan impor demi menyelamatkan transaksi berjalan yang masih defisit sekitar 3 persen. Defisit transaksi berjalan kuartal II-2018 mencapai US $8 miliar atau sudah mencapai 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, ada sekitar 900 barang impor yang tengah dikaji besaran pajak penghasilan (Pph). Jumlah ini bertambah dari sebelumnya 500 barang impor. "Kami akan review 900 barang impor," kata Sri Mulyani di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Jumat (24/8/2018) seperti dipetik dari financedetik.

Sri Mulyani menjelaskan 900 barang impor itu sudah terkena Pph impor pasal 22 dengan tarif yang berbeda-beda antara 2,5 persen hingga 10 persen.

Kini, Kementerian Keuangan telah mengetahui komoditas mana yang tarif PPh Pasal 22 impornya akan dinaikkan. Tapi mereka masih harus mengetahui potensi industri dalam negeri dan berapa kenaikan tarif hingga dampaknya.

"Kami butuh waktu satu sampai dua minggu. Kami harap September sudah dijalankan," kata dia, seperti dikutip dari Kontan.co.id.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara menyatakan, mereka sedang mencocokkan barang konsumsi yang diimpor itu apakah ada di dalam negeri atau tidak dan bagaimana imbasnya jika dinaikkan tarifnya.

"Kalau memang bisa, ya kami lakukan," ujar Suahasil, di Jakarta, Jumat (24/8/2018) seperti ditulis CNBC Indonesia.

Dengan pembatasan impor ini, barang-barang tersebut bakal naik harganya. Untuk bahan makanan, pemerintah akan menjaga agar harganya tak bergejolak.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan akan melakukan tiga hal. Pertama, menjaga pasokan barang hingga melakukan operasi pasar.

"Operasi pasar apabila diperlukan, kalau tidak diperlukan kami berjalan saja. Begitu kondisi mengharuskan kami melakukan berbagai langkah untuk penetrasi pasar, akan kami siapkan," kata Enggar, Jumat (24/8/2018).

Langkah kedua menyelesaikan kebijakan pembatasan komoditas impor atas barang konsumsi yang sudah diproduksi di dalam negeri, tapi tetap memperhatikan ketentuan dan perjanjian sehingga tidak mengganggu investasi.

Ketiga, mendorong ekspor. Penguatan US dolar bisa menguntungkan jika Indonesia melakukan ekspor yang lebih banyak.

Saat ini, impor Indonesia sedang tinggi-tingginya. Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), impor Juli 2018 sebesar US $18,27 miliar, naik 62,17 persen apabila dibandingkan dengan kondisi impor pada Juni 2018. Impor ini merupakan terbesar sejak Januari 2008.

Komposisi impor itu adalah golongan bahan baku atau penolong sebanyak 74,84 persen. Kemudian disusul oleh impor barang modal 15,75 persen dan barang konsumsi sebesar 9,41 persen.

Selain itu, upaya mengendalikan defisit transaksi berjalan dengan mengkaji ulang proyek strategis nasional (PSN), terutama yang belum pada ditetapkan pembiayaannya. Pemerintah juga akan menerapkan wajib biodiesel 20 persen atau B20 untuk campuran Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai 1 September 2018, agar impor migas berkurang.

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) sudah menghitung kebutuhan minyak nabati yang akan dicampur BBM yang akan berlaku 1 September 2018.

Menurut Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Timur, Bali, dan Nusa Tenggara PLN Djoko Rahardjo Abu Manan mengatakan dalam setahun, PLN butuh 2,2 juta kiloliter (KL) BBM. Jika B20 diterapkan maka PLN butuh sekitar 440 ribu KL minyak nabati (Fatty Acid Methyl Esters/FAME) untuk penerapan B20.

“Itu untuk 1 September 2018 sampai 1 September 2019,” kata Djoko di Jakarta, Kamis (24/8/2018) seperti ditulis Katadata.co.id. Tahun lalu, PLN menyerap minyak nabati 294 ribu KL.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR