Makna ulos dalam upacara adat Kahiyang-Bobby

Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution saat menerima ulos dari kedua orang tua--Presiden Joko "Jokowi" Widodo dan iriana Joko Widodo--Sabtu (25/11/2017).
Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution saat menerima ulos dari kedua orang tua--Presiden Joko "Jokowi" Widodo dan iriana Joko Widodo--Sabtu (25/11/2017). | Media Center

Hari ini, Minggu (26/11/2017) rangkaian upacara adat Mandailing dalam pesta pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution akan berakhir. Keduanya pun resmi mendapat gelar dari hasil sidang adat sehari sebelumnya.

Gelar yang diberikan untuk Bobby Nasution adalah Sutan Porang Gunung Barining Naposo. Gelar ini merupakan turunan dari leluhurnya yang berarti panglima muda.

Sedangkan, Kahiyang mendapat gelar Namora Pinayongan Kasayangan, yang artinya dia yang dipayungi. Keduanya pun lalu menerima kain-kain ulos sebagai hadiah sekaligus doa.

Kain ulos adalah tradisi tenun yang diwariskan turun temurun oleh masyarakat Batak, Sumatera Utara. Biasanya ulos dipakai dalam upacara adat atau acara formal lainnya.

Untuk membeli ulos, Anda dapat mencarinya di pasar tradisional, pusat oleh-oleh di Sumatra Utara atau mendatangi pengrajin dan memesannya secara langsung.

"Untuk acara ini memang kita tempah khusus ya. Kita tempah khusus di Sipirok, langsung di kampungnya Tapanuli Selatan," kata ibunda Bobby, Ade Hanifah Siregar dalam wawancaranya dengan Beritagar.id di kediamannya, Bukit Hijau Regency Taman Setia Budi Indah, Medan, Kamis (23/11/2017).

Tempah dalam bahasa batak berarti pesan. Ade Hanifah memang berkoordinasi langsung dengan para pengrajin ulos di daerah Sipirok untuk membuat tenun ulos yang sarat makna.

"Ulos itu kan gambaran kebesaran adat dan menggambarkan keselamatan. Selamat bagi kita semua, begitu," jelas Ade Hanifah soal makna ulos secara keseluruhan.

Tenun ulos ala Sipirok sudah lama dikenal sebagai ciri khas kecamatan, sekaligus pusat pemerintahan Kabupaten Tapanuli Selatan tersebut.

Tenun Sipirok memiliki warna-warni yang khas serta sarat makna pada setiap jalinan seratnya.

"Setiap motif ini merupakan simbol yang mengandung makna. Kalau salah, maknanya pun salah, dan itu akan menurunkan harganya," kata Sumarni, seorang penenun ulos dalam wawancaranya dengan Apa Kabar Sidimpuan.

Ragam ulos dalam upacara adat Mandailing Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution.
Ragam ulos dalam upacara adat Mandailing Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Ia juga menekankan bahwa ulos merupakan kain tradisional yang setiap motifnya menceritakan filosofi hidup masyarakat Batak. Masyarakat ini terdiri dari berbagai sub-budaya sesuai geografis penyebarannya.

Khusus yang berasal dari Sipirok memiliki beberapa pakem yang menjadi ciri khasnya. Ada ruang ragam, yakni bentuk ruang berwarna kontras yang terdapat pada permukaan kain. Lalu ada sijobang ragam, yakni ragam hias yang berbentuk deretan prajurit.

Ada pula singap ragam, yang merupakan garis simetris. Biasanya berbentuk segitiga sama sisi yang menggambarkan sistem Dalihan Na Tolu, atau filosofi dan wawasan sosial-budaya yang menyangkut masyarakat Batak.

Selain itu, ada pula beberapa kain yang dibuat berhias tulisan-tulisan, disebut juga dengan simbur magodang. Kalimat ini merupakan doa dan pengharapan untuk seseorang yang nantinya akan menerima ulos tersebut.

Ya, ulos memang kerap digunakan sebagai hadiah bagi mereka yang sedang menyelenggarakan syukuran atau pesta adat. Misalnya kelahiran, pernikahan hingga kematian seseorang.

Untuk memproduksi sehelai kain ulos memakan waktu yang tak sebentar. Para pengrajin bisa menghabiskan waktu sekitar satu hingga tiga minggu per lembarnya. Tak heran jika harga ulos tradisional bisa mencapai Rp300 hingga Rp400 ribu di pasaran.

Namun, saat ini ulos buatan pabrik sedikit demi sedikit mulai menggeser popularitas ulos tradisional yang dibuat dengan anian (alat tenun bukan mesin--ATBM--untuk ulos). Apalagi ulos buatan pabrik dibanderol dengan harga yang lebih murah. Untuk satu lembar ulos, Anda hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp100 ribu saja.

Meskipun demikian, menurut Thomson HS, seorang seniman sekaligus budayawan batak kepada Kompas, dari segi kualitas, motif dan nilai budaya, ulos yang ditenun langsung dengan ATBM masih jauh lebih unggul.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR