Malam jahanam siswa junior STIP Marunda

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kanan) dan Dirjen Perhubungan Laut Tonny Budiono di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Minggu (1/1/2017).
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kanan) dan Dirjen Perhubungan Laut Tonny Budiono di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Minggu (1/1/2017).
© Sigid Kurniawan /Antara Foto

Selasa (10/1/2017) malam itu menjadi malam jahanam bagi siswa baru Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jakarta Utara. Para siswa tingkat pertama itu menjadi sasaran penganiayaan seniornya sehingga menyebabkan satu orang tewas.

Kejadian bermula dari permufakatan para senior tingkat II seusai latihan drumband. Pelaku SM, mengajak rekannya berkumpul untuk mengerjai juniornya tingkat I yang adalah bassist drum band/tam-tam.

"Menurut para pelaku, dia hendak memberikan pelajaran kepada korban, tapi masih kami lakukan penyidikan," ujar Kapolres Jakarta Utara Kombes Awal Chairuddin melalui Detik.com, Rabu (11/1/2017).

"Pelajaran" yang dimaksud SM, tak lain adalah penganiayaan. Rencana memberi pelajaran para junior itu dilaksanakan pada pukul 22.00, enam taruna tingkat I termasuk Amirulloh Adityas Putra (19), dipanggil oleh empat pelaku untuk berkumpul di lantai 2 kamar M-205 gedung dormitory ring 4.

Satu persatu taruna tingkat I tersebut datang ke lantai dua. Bak-buk. SM (19), WH (20), IS (21), dan AR (19) memukul para juniornya. Polisi telah menetapkan empat pemukul itu sebagai tersangka. "Pemukulan menggunakan tangan kosong secara bergantian yang diarahkan ke perut, dada, dan ulu hati," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono melalui Kompas.com.

Tiba giliran Amirulloh. Rentetan pukulan mendarat. Pelaku berinisial WH memukuli sambil meneriaki Amirulloh dengan ucapan "Sama-sama anak Priok!". Tak lama setelah teriakan itu, Amirulloh jatuh tak sadarkan diri.

Amirulloh ambruk ke dada WH. Para pelaku yang panik akhirnya mengadu ke seniornya yang merupakan taruna Tingkat IV yang kemudian dilanjutkan ke piket medis dan pembina STIP.

"Mengetahui kondisi korban tidak bernyawa setelah diperiksa dokter piket STIP, selanjutnya peristiwa dilaporkan ke Polsek Cilincing," ujar Argo. Polisi membawa jasad Amir ke Rumah Sakit Polri Kramatjati Jakarta Timur untuk menjalani otopsi.

Tragedi akibat ego senioritas itu pernah terjadi di kampus yang sama pada pada 2012, 2013 dan 2014. Pada 2014, korbannya adalah Dimas Dikita Handoko (19), mahasiswa STIP Semester I yang dianiaya seniornya di sebuah rumah kos. Selain Dimas, enam rekannya juga jadi korban, karena mereka dianggap tak sopan.

Dalam insiden Amirulloh, Polda Metro Jaya akan memberikan surat teguran kepada STIP agar mengubah sistem pengawasan karena kerap terjadi penganiayaan. "Ini kejadian kesekian kalinya makanya kami tegur," kata Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi M Iriawan dikutip Antaranews.

Dalam keterangan tertulisnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan belasungkawa atas meninggalnya Amirulloh. Kementerian Perhubungan telah berulang kali mengingatkan pengelola sekolah untuk melaksanakan standar prosedur pengawasan untuk mencegah kekerasan di sekolah-sekolah di bawah pembinaan Kementerian Perhubungan.

Budi memerintahkan Kepala Badan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDM) untuk membentuk tim investigasi internal yang diketuai oleh Sekretaris BPSDM Perhubungan, Edward Marpaung.

Kementerian Perhubungan pun membebastugaskan Ketua STIP, Kapten Weku F. Karuntu, MM dan menunjuk Pelaksana Tugas Ketua STIP. "Keputusan ini diambil untuk mempermudah pelaksanaan tugas tim investigasi internal yang telah dibentuk," kata Budi.

Budi menambahkan, Kementerian Perhubungan akan bertanggungjawab terhadap seluruh proses mulai dari rumah sakit sampai dengan pemakaman. Kemenhub telah menyerahkan penanganan kasus ini kepada Kepolisian untuk diproses hukum.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.