WABAH PENYAKIT

Malaria kebal obat menyebar di beberapa negara Asia Tenggara

Ilustrasi nyamuk yang sedang menghisap darah manusia.
Ilustrasi nyamuk yang sedang menghisap darah manusia. | PongMoji /Shutterstock

Jenis malaria yang kebal terhadap pengobatan paling umum dilaporkan telah menyebar secara agresif di Asia Tenggara.

Tim peneliti dari Inggris dan Vietnam bukan hanya mendesak adanya perubahan pengobatan malaria mengunakan obat-obatan alternatif. Mereka juga mengkhawatirkan potensinya menyebar cepat ke bagian lain Asia dan seluruh dunia. Mungkinkah demikian?

Menurut studi baru yang dipublikasikan dalam jurnal Lancet Infectious Diseases, penyebaran malaria resisten obat tersebut sudah mencakup seluruh Kamboja, hingga Laos, Thailand, dan Vietnam.

Studi berisi dua laporan, satu berdasarkan percobaan acak dan yang lainnya berdasarkan studi genetik.

Dalam studi, terungkap bahwa parasit malaria Falsifarum Plasmodium (plasmodium falciparum/PF) sekarang kebal terhadap kombinsi obat antimalaria “lini pertama” yang paling banyak digunakan secara global, yaitu dihydroartemisinin-piperaquine (DHA-PPQ).

DHA-PPQ, salah satu terapi kombinasi berbasis artemisinin atau ACT, telah direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengobati sebagian besar kasus malaria. ACT biasanya berupa pil tunggal yang menggabungkan dua jenis artemisinin, satu bekerja cepat dan lainnya bekerja lebih lambat.

Sejauh ini DHA-PPQ terbukti efektif dalam menekan kasus kematian global secara signifikan. Namun, studi baru justru menunjukkan rata-rata tingkat kegagalan obat sekitar 50 persen.

Bahkan, di beberapa bagian wilayah Thailand, Vietnam dan Kamboja, pengobatan itu dinilai “memiliki kinerja sangat buruk” lantaran tidak berfungsi lebih dari 80 persen atau sembilan kali dari 10 percobaan.

"Strain parasit resisten yang sangat sukses ini mampu menginvasi wilayah baru dan memperoleh sifat genetik baru," ujar Prof Olivo Miotto, seorang peneliti dari University of Oxford dan Wellcome Sanger Institute, yang turut memimpin studi, dalam rilis (22/7).

Selama ini, sambung Arjen Dondorp, penulis utama studi dalam laporan percobaan acak, resistensi obat-obat antimalaria selalu dimulai di Asia Tenggara.

"Di masa lalu, resistensi chloroquine berasal dari sana. Sulfadoxine-pyrimethamine, generasi antimalaria berikutnya juga resisten di sana. Dan sekarang resistensi artemisinin juga pertama kali terdeteksi di Kamboja barat.," jelas peneliti malaria dari Mahidol Oxford Tropical Medicine Research Unit di Delta Mekong, Bangkok itu.

Resistensi chloroquine, tulis laporan CDC, berkontribusi pada jutaan kematian di seluruh Afrika pada tahun 1980-an. Dampak penyebaran dan resistensi obat itulah yang dikhawatirkan peneliti kembali terulang, bahkan lebih parah.

Perlukah kita khawatir?

Menyoal kebal obat, laporan WHO tahun 2018 mencatat bahwa Indonesia bersama Myanmar dan Malaysia merupakan 3 negara di wilayah Asia Tenggara yang menghelat 28 studi soal kemanjuran DHA-PPQ, dengan hasil 99 persen.

Persentase ini paling tinggi dibanding hasil di wilyah WHO lain di seluruh dunia.

Sebagai bandingan, di wilayah WHO Pasifik Barat—termasuk Kamboja, Laos, dan Vietnam—, kemanjuran obat itu secara menyeluruh cuma 90,7 persen dari 74 studi yang dihelat.

Lebih rinci lagi, tingkat kegagalan DHA-PPQ di tiga wilayah tersebut melebihi 10 persen di 13 dari 27 studi yang dilakukan. Pada 2014, Kamboja bahkan memperlihatkan tingkat kegagalan pengobatan mencapai 62,5 persen.

Artinya, untuk saat ini, parasit malaria mutan yang telah membangun resistensi terhadap obat-obatan berbasis artemisinin belum bertahan di Indonesia.

Pun jika terjadi, Dondorp mengatakan ada solusi pengobatan alternatif semisal mengombinasikan obat berbeda bersama artemisinin, atau menggunakan kombinasi tiga obat untuk mengatasi resistensi, yang sedang ia teliti kemanjurannya.

Selain itu, menurut Prof Colin Sutherland, dari London School of Hygiene dan Tropical Medicine, meskipun penyebaran parasit malaria yang resisten obat bisa meluas, itu belum tentu menjadi ancaman global.

"Implikasinya tidak separah yang kita duga," katanya.

Lanjut dia, di Kamboja sebagai muasal berkembangnya resistensi, prevalensi malaria tampak menurun dalam 10 tahun terakhir. Dari 262.000 kasus tahun 2008, menjadi 36.900 kasus pada 2018.

Kendati demikian, Indonesia masih perlu kerja keras mewujudkan target bebas malaria tahun 2020, dan selambat-lambatnya 2030.

Kementerian Kesehatan RI mencatat, pada tahun 2018, angka kejadian malaria (annual paracite incidents) 0,68 per 1.000 penduduk mencapai 0,68. Artinya, tak sampai satu orang yang mungkin terjangkit malaria dari 1.000 orang.

Angka itu menurun dari tahun sebelumnya, yang mencapai 0,99. Sejak tahun 2010, angka kejadian malaria relatif terus mengalami penurunan, kecuali pada 2017.

Walau demikian, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan. Dinas Kesehatan Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, melaporkan satu temuan baru kasus malaria dari Bangui, Afrika Selatan, yang awalnya tidak disadari pemiliknya.

“Virus malaria itu dibawa oleh Garanta berusia 54 tahun, warga Cimahi, Jawa Barat yang memang bertugas di Kupang,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kupang, Sri Wahyuningsih (22/7).

Bagaimanapun, Adrian Hill, direktur Jenner Institute di University of Oxford, menekankan bahwa kendala terbesar malaria adalah "obat-obatan dan insektisida sudah usang".

WHO memperkirakan setiap tahunnya ada sekitar 219 juta kasus malaria di seluruh dunia dengan 435.000 di antaranya meninggal dunia.

Namun, walau antara tahun 2000-2015 ada penurunan 62 persen dalam kematian malaria dan penurunan 41 persen dalam jumlah kasus, data teranyar WHO justru menunjukkan peningkatan kembali.

Laporan WHO 2018 menemukan kasus malaria secara global meningkat signifikan di 13 negara antara 2016-2017. Indonesia sendiri berada di posisi 7 terbawah sebagai negara dengan peningkatan malaria lebih dari 100.000 kasus dan total melebihi 300.000 kasus sepanjang tahun tersebut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR