Malaysia berkeras periksa mayat Kim Jong-nam

Staf medis di muka ruang forensik Rumah Sakit Kuala Lumpur. Malaysia pada Jumat melakukan autopsi kedua atas mayat Kim Jong-nam.
Staf medis di muka ruang forensik Rumah Sakit Kuala Lumpur. Malaysia pada Jumat melakukan autopsi kedua atas mayat Kim Jong-nam. | Alexandra Radu /AP Photo

Malaysia menggelar bedah mayat kedua terhadap Kim Jong-nam, abang tiri pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, yang mati diracun di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (13/2).

Autopsi lanjutan itu dilakukan karena hasil pemeriksaan pertama tidak meyakinkan.

Tindakan demikian mendapatkan protes keras dari pemerintahan Korea Utara yang merasa"pihak Malaysia memaksakan pemeriksaan mayat tanpa izin dan kehadiran" wakil dari negara asal korban.

"Kami akan sepenuhnya menolak hasil (pemeriksaan) yang dilakukan secara sepihak tersebut," ujar Duta Besar Korea Utara untuk Malaysia, Kang Chol, dikutip Bernama, Sabtu (18/2).

Selain menampik hasil post mortem, pihak Korea Utara pun meminta agar otoritas Malaysia mengembalikan jasad Jong-nam secepatnya.

Menurut Kang, keengganan Malaysia untuk segera memulangkan jenazah korban menjadi "sinyalemen kuat bahwa (pemerintah) Malaysia berupaya menyembunyikan sesuatu...dan mengakali kami".

Pada Jumat (18/2), pihak berwenang Malaysia menyatakan bahwa sampel DNA keluarga Kim Jong-nam diperlukan guna melengkapi prosedur autopsi.

Meski korban diyakini telah memiliki dua putra dan seorang putri dari dua perkawinan di Beijing dan Macau, kepolisian Malaysia mengatakan bahwa belum satu pun datang untuk mengenali jenazah atau memberikan contoh DNA.

"Jika belum ada orang dekat (korban) yang mengenali jenazah, dan (jika) semua cara (untuk memperoleh DNA) sudah diambil, kami akan menyerahkan mayat itu ke kedutaan besar (Korea Utara)," ujar Abdul Samah Mat, petinggi senior kepolisian Malaysia, dikutip The Star.

Masih kaburnya hasil autopsi pertama agaknya berujung pada pelbagai pertanyaan atas misteri kematian putra haram dari hasil hubungan gelap mendiang diktator Korea Utara, Kim Jong Il dan aktris lokal, Song Hye-rim.

Namun, masalahnya, jika berurusan dengan Korea Utara, teka-teki seakan sudah jadi kelaziman.

Kim Jong-nam dikabarkan telah lama masuk daftar orang yang harus dihabisi. Karena itu, ia acap kali bepergian dengan nama samaran. Dan pada hari ia dibunuh, tanda pengenal dengan nama Kim Chol ditemukan bersamanya.

Dua perempuan menjadi tersangka utama pelaku peracunan. Mereka telah diringkus. Dalam sebuah pengakuan, masing-masing tersangka mengira aksi mereka cuma laku usil belaka. Siti Aisyah, 25 tahun, tersangka dari Indonesia, diberitakan menerima USD100 untuk mengerjakan tugasnya.

Selain mereka, Malaysia telah pula membekuk seorang pria bernama Ri Jong Chol, di Selangor.

Dengan demikian, masih ada tiga tersangka pembunuhan Kim Jong-nam yang masih buron.

Korban sendiri sejak lahir telah dijauhkan dari simpul kekuasaan. Di tengah masyarakat yang masih berpandangan kolot, ia disembunyikan dari khalayak luas.

Di kemudian hari pun, ia lebih banyak mencecap kehidupan di luar tanah airnya, terutama untuk menyelesaikan sekolah.

Selain itu, meski bersaudara dengan Kim Jong-un, Kim Jong-nam tidak pernah tumbuh bersama sang adik. Pasalnya, ia dibesarkan oleh keluarga yang berbeda, dan usianya bertaut 13 tahun dengan Jong-un.

Jong-nam diketahui dekat dengan pamannya, Jang Song Thaek, sosok yang menganjurkan keterbukaan ekonomi di Korea Utara. Jang beberapa kali terlibat kesepakatan bisnis di Tiongkok, yang di antaranya adalah membuka zona ekonomi khusus di perbatasan Korea Utara dan Tiongkok.

Jang menjadi korban eksekusi mati rezim Kim Jong-un pada akhir 2013.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR