PEMBUNUHAN KIM JONG-NAM

Malaysia cari dua WNI untuk jadi saksi Siti Aisyah

Siti Aisyah dikawal saat menuju ruang sidang di Pengadilan Tinggi Shah Alam, Malaysia, 16 Agustus 2018. | Fazry Ismail /EPA-EFE
Siti Aisyah dikawal saat menuju ruang sidang di Pengadilan Tinggi Shah Alam, Malaysia, 16 Agustus 2018. | Fazry Ismail /EPA-EFE | Fazry Ismail /EPA-EFE

Dua perempuan berkewarganegaraan Indonesia tengah dicari oleh pihak Kepolisian Diraja Malaysia karena memiliki keterkaitan dengan pembunuhan Kim Jong-nam, kakak tiri dari Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Keduanya bakal dijadikan saksi dalam persidangan terhadap salah satu terdakwa pembunuhan asal Indonesia, Siti Aisyah. Pemanggilan keduanya juga atas permintaan pengacara Aisyah.

Saksi pertama adalah Raisa Rinda Salma (24) dan saksi kedua adalah Dessy Meyrisinta (33). Mereka terakhir kali terlacak berada di Hotel Flamingo, Ampang, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 16 Februari 2017 atau tiga hari setelah Kim Jong-nam tewas.

Kepala Bagian Investigasi Kriminal Kepolisian Daerah Selangor Senior Asisten Komisioner Fadzil Ahmat dalam Bernama tidak memerinci peran keduanya, namun meminta siapa saja yang mengetahui keberadaan mereka untuk segera melaporkannya kepada otoritas setempat.

"Raisa Rinda memegang paspor bernomor B2421541 dan Dessy Meyrisinra B0464727. Mereka terakhir beralamat di Hotel Flamingo, tidak bisa lagi dihubungi," kata Fadzil.

Detail lebih jauh diungkapkan Direktur Perlindungan Warga Negara dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal. Menurutnya, dua perempuan yang sedang dicari ini adalah rekan dari Aisyah.

Keduanya sempat menjadi teman sekamar Aisyah saat berada di kamar 346 Hotel Flamingo. Aisyah, lanjut Lalu dalam Sindonews, mengenal keduanya dengan panggilan Wati (Raisa) dan Mey (Dessy).

"Kedua WNI yang dicari otoritas Malaysia untuk dimintai keterangan sebagai saksi atas permintaan pengacara pembela, bukan sebagai tersangka. Keduanya belum pernah dimintai keterangan oleh penyidik sebelumnya," kata Lalu.

Kendati begitu, Lalu tidak menerangkan apakah kedua perempuan yang dicari ini adalah buruh migran di Malaysia seperti Aisyah. Namun, pihaknya menegaskan akan turut bekerja sama dengan otoritas Malaysia dalam melakukan pencarian keduanya.

Persidangan terhadap Aisyah masih terus berlangsung di Pengadilan Tinggi Shah Alam, Malaysia. Dua pekan lalu, Majelis Hakim menganggap seluruh bukti yang menyatakan Aisyah bersalah atas pembunuhan Kim Jong-nam sah, sehingga persidangan bisa terus dilanjutkan.

Aisyah ditetapkan sebagai terdakwa bersama dengan Doan Thi Huong, perempuan asal Vietnam. Melalui rekaman kamera tersembunyi Bandara Internasional Kuala Lumpur pada 13 Februari 2017, keduanya terlihat mengusap sesuatu ke wajah Kim Jong-nam.

Belakangan diketahui, benda yang diusapkan ke wajah kakak tiri Kim Jong-un itu adalah racun syarat VX. Reaksinya tak berlangsung lama. Beberapa jam setelah mengeluh sesak napas, Kim Jong-nam meninggal dunia.

Baik Aisyah maupun Doan menegaskan mereka tidak bersalah karena mengira dilibatkan dalam acara lucu-lucuan untuk siaran televisi. Mereka juga mengklaim tidak tahu bahwa zat yang mereka usapkan merupakan zat mematikan.

Pengacara Siti dan Doan mengatakan klien mereka telah dibayar 4.000 ringgit atau Rp14,4 juta oleh seorang warga Korut untuk melakukan trik serupa di sejumlah bandara, hotel, dan pusat perbelanjaan sebelum peristiwa kematian Kim.

Pada sidang sebelumnya, Jaksa Wan Shaharuddin Wan Ladin dari Pengadilan Tinggi Malaysia menuding Siti Aisyah dan Doan sebagai pembunuh yang sangat terlatih.

Wan Shaharuddin meyakini, sebelum melancarkan aksinya, dua terdakwa telah mempelajari dengan baik sosok Kim Jong-nam, saudara tiri dari Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un.

Aisyah masih memiliki kesempatan untuk lepas dari jerat selama mampu menunjukkan bukti yang kuat serta saksi-saksi yang dihadirkan bisa meringankan dakwaan.

Sebaliknya, Aisyah bisa mengakhiri hidupnya di Malaysia lantaran hukuman gantung yang dijatuhkan kepadanya jika terbukti bersalah.

Pengadilan Tinggi Shah Alam menetapkan jadwal persidangan pada 1, 5, 7, 8, 12, dan 13 November serta antara 12 dan 14 Desember bagi Siti Aisyah. Adapun 7 dan 10 Januari, 28-31 Januari, serta antara 18 dan 20 Februari 2019 untuk Doan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR