INTERNASIONAL

Malaysia ungkap sindikat penipuan online terbesar sepanjang sejarah

Tersangka warga negara Tiongkok yang ditangkap oleh Departemen Imigrasi Malaysia di Cyberjaya, di luar Kuala Lumpur, Malaysia, 21 November 2019.
Tersangka warga negara Tiongkok yang ditangkap oleh Departemen Imigrasi Malaysia di Cyberjaya, di luar Kuala Lumpur, Malaysia, 21 November 2019. | Ahmad Yusni /EPA-EFE

Petugas imigrasi Malaysia menggrebek salah satu sindikat penipuan daring (online) terbesar di Malaysia, pada Rabu (20/11/2019). Penggerebekan itu merupakan bagian dari operasi terhadap sindikat penipuan online yang dilakukan oleh warga Tiongkok.

Melansir The Star, total ada 680 orang yang diamankan dalam penangkapan tersebut. Sebanyak 77 di antara mereka adalah perempuan. Beberapa terluka karena berusaha menembus barikade petugas untuk melarikan diri. Direktur Jenderal Imigrasi Malaysia, Datuk Khairul Dzaimee Daud, mengatakan kasus ini menjadi kejahatan siber terbesar sepanjang sejarah yang pernah terungkap.

Pada penangkapan ini petugas imigrasi Malaysia menyita 8.230 ponsel, 787 komputer, dan 174 laptop. Sindikat ini diketahui beroperasi di sebuah gedung berlantai enam di wilayah Cyberjaya sejak enam bulan lalu. Pihak berwenang telah mengintai aktivitas ilegal ini sejak satu bulan terakhir.

Sindikat ini menargetkan korban yang berada di Tiongkok. Pelaku melakukan penipuan berkedok investasi online dengan keuntungan yang besar dan cepat kepada para korban. Para operator kemudian mengirimkan kata sandi ke pelanggan melalui sebuat situs berbahasa Mandarin. Semua transaksi mereka dilakukan melalui aplikasi pembayaran non-tunai WeChat Pay atau bank-bank di Tiongkok.

Para pelaku bisa masuk ke Malaysia menggunakan social visit pass dan hampir semua dari pelaku tidak dapat menunjukkan paspor dan kartu identitas mereka ke petugas. Untuk itu pelaku akan ditahan 14 hari karena mereka berada di Malaysia tanpa visa yang berlaku dan melanggar izin lama tinggal (overstaying). Kemudian untuk kasus kejahatan online yang mereka lakukan akan dilimpahkan kepada pihak kepolisian Malaysia.

Duta Besar Tiongkok untuk Malaysia, Bai Tian pun siap menawarkan bantuan kepada para penegak hukum di Malaysia. Dia mengatakan siap untuk membagi informasi dari 680 pelaku tersebut untuk menumpas kejahatan online yang dilakukan warga negara mereka.

"Kami sepenuhnya mendukung operasi ini karena ... kami (menentang) warga Tiongkok melakukan kejahatan di luar negeri ... Kami pikir mereka harus dihukum oleh hukum (domestik)," kata Bai Tian dilansir dari New Strait Times.

Kejahatan siber di Asia Tenggara

Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya kerap menjadi sasaran empuk para pelaku kejahatan siber. Statistik terbaru yang dikumpulkan oleh perusahaan global cybersecurity, Kaspersky, menunjukkan penduduk Asia Tenggara menjadi target kejahatan phising.

Phising adalah suatu metode untuk melakukan penipuan dengan mengelabui target dengan maksud untuk mencuri akun korban. Istilah ini berasal dari kata “fishing” = “memancing” korban untuk terperangkap dijebakannya.

Kaspersky mengungkapkan korban kejahatan siber jenis ini selama paruh pertama tahun 2019 tertinggi ditempati oleh Negara Vietnam, Malaysia dan Indonesia.

Setidaknya terdapat lebih dari 11 juta tindakan phising yang terdeteksi dari tiga negara ini.

Organisasi Kepolisian Internasional (Interpol) menyebut tren kejahatan siber meningkat dalam tiga tahun terakhir. Pada 2017, FBI melaporkan penipuan melalui surat elektronik (Business Email Compromise atau BEC) merugikan AS $675 juta atau meningkat 86 persen dari tahun sebelumnya.

Pada tahun 2018, total kerugian akibat scam melalui surel diprediksi meningkat mencapai AS $9 miliar sejak dilaporkan oleh lebih dari 100 negara.

Jenis kejahatan ini menggunakan teknik dengan mendeteksi aktivitas bisnis para korban seperti melakukan transaksi pembayaran atau aktivitas lainnya yang menggunakan alamat surel. Data transaksi dan daftar alamat surel biasanya didapat dari transaksi jual beli real estate.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR