FENOMENA ALAM

Maluku Utara diguncang gempa berulang dengan kekuatan 5,2 M

Foto ilustrasi. Jembatan Merah Putih di kota Ambon, Maluku (25/10/2018).
Foto ilustrasi. Jembatan Merah Putih di kota Ambon, Maluku (25/10/2018). | Akhmad Dody Firmansyah /Shutterstock

Gempa berkekuatan Magnitudo 5,2 terjadi di Labuha, Halmahera Selatan, Maluku Utara pada Sabtu (5/1/2019) sekitar pukul 17.54 WIB.

Menurut siaran pers Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di titik 78 kilometer (km) dari barat laut Halmahera Selatan dengan kedalaman 10 km.

Hingga artikel ini ditayangkan, Sabtu (5/1) malam WIB, kekuatan gempa lebih dari lima Magnitudo sudah terjadi tiga kali dalam total sembilan lindu. Sisanya berupa gempa berkekuatan tiga hingga empat Magnitudo.

Gempa besar pertama terjadi pagi pada pukul 08.04 WIB dengan kekuatan 5,7 Magnitudo. Pusat gempa berada di 64 km barat laut Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

Selang beberapa saat kemudian, pada pukul 08.55 WIB, Maluku Utara kembali bergoyang. Kali ini dengan kekuatan 5,1 Magnitudo. Gempa itu berpusat di 72 km barat laut Halmahera Selatan, Maluku Utara, dengan kedalaman 114 kilometer.

Kendati demikian, BMKG menyatakan bahwa gempa tersebut tak berpotensi tsunami. Laporan kerusakan akibat gempa pun belum ditemukan.

Menurut analisis BMKG, gempa bumi yang terjadi ini merupakan jenis menengah akibat aktivitas subduksi Banda. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi di wilayah Laut Banda ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar oblique normal (mendatar - turun).

Gempa ini dilaporkan memiliki skala II-III MMI. Artinya guncangan hanya dirasakan nyata di dalam rumah dengan tanda benda-benda yang digantung bergoyang seolah ada truk besar yang lewat.

Kontributor Beritagar.id di Ternate, Hairil Abdul Rahim, melaporkan sebagian masyarakat saat ini mengungsi ke dataran tinggi. Mereka khawatir bakal ada tsunami.

"Warga panik, padahal BMKG tidak mengeluarkan peringatan tsunami," katanya dalam pesan instan, Sabtu malam WIB.

Sebelumnya, BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Ambon mencatat sebanyak 1.587 gempa terjadi sepanjang 2018. Sebanyak 61 kali di antaranya bisa dirasakan, tapi tak sampai mengakibatkan kerusakan.

"Data statistik gempa bumi di wilayah Maluku selama 10 tahun terakhir tercatat bahwa pada 2018 merupakan terbanyak dibanding tahun sebelumnya," ungkap Kepala Seksi Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Ambon, Andi Ashar, di Ambon, seperti dikutip Antaranews, Kamis (3/1).

Gempa terbanyak pun tercatat pada Oktober, 199 kali. Namun, jumlah ini tak serta merta menaikkan angka kejadian bencana gempa secara signifikan di Indonesia.

Hingga saat ini gempa masih berada pada urutan kedelapan bencana yang paling sering melanda Indonesia sepanjang 2017-2018.

Andi juga menjelaskan bahwa Maluku merupakan wilayah yang rawan gempa dan tsunami karena berada pada pertemuan tiga lempeng besar; yakni Pasifik, Indo Australia, dan Eurasia. Pertemuan lempeng tersebut sering memicu patahan tak beraturan.

Namun, BMKG mengimbau agar masyarakat tak mudah termakan hoaks soal gempa besar dan tsunami yang akan melanda seperti terjadi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, pada awal Oktober lalu. Apalagi gempa dan tsunami tak bisa diprediksi secara pasti kapan datangnya.

Untuk itu, BMKG menyarankan masyarakat tenang, tapi tetap waspada. Masyarakat juga bisa mengunduh aplikasi Info BMKG untuk mengetahui kabar gempa terkini serta mempelajari apa saja yang harus dilakukan jika terjadi gempa atau tsunami.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR