INTERNASIONAL

Mantan presiden Mesir meninggal dunia saat disidang

Mantan Presiden Mesir Mohamed Morsi tampak dalam persidangan di Kairo, Mesir, 18 Juni 2016. Morsi meninggal dunia dalam persidangan di Kairo pada Senin, 18 Juni 2019.
Mantan Presiden Mesir Mohamed Morsi tampak dalam persidangan di Kairo, Mesir, 18 Juni 2016. Morsi meninggal dunia dalam persidangan di Kairo pada Senin, 18 Juni 2019. | Mohamed Hossam /EPA-EFE

Mesir kembali berada di ambang sebuah pergolakan. Penyebabnya adalah meninggal dunianya mantan presiden Mohammad Morsi di tengah persidangan, Senin (17/6/2019). Morsi berusia 67 tahun.

Morsi, yang dipenjara oleh rezim militer penguasa Mesir sejak tahun 2013, mendadak jatuh setelah lima menit berbicara kepada dewan juri dalam persidangan kasus dakwaan spionase terkait kontaknya dengan kelompok Islamis Palestina, Hamas, di Pengadilan Kairo.

Ia segera dilarikan ke rumah sakit terdekat, tetapi kemudian dinyatakan wafat setelah tiba di rumah sakit tersebut pada pukul 16.50 waktu setempat. Demikian pernyataan pejabat Kejaksaan Mesir yang dikutip Aljazeera.

Sang pejabat melanjutkan, autopsi telah dilakukan dan tidak ditemukan tanda-tanda mencurigakan terkait kematiannya tersebut. Penyebab kematian dinyatakan adalah serangan jantung.

Walau demikian, pihak keluarga, Amnesti Internasional, dan Human Rights Watch mendesak pemerintah Mesir untuk menyelidiki dengan tuntas ihwal penyebab wafatnya presiden pertama Mesir yang terpilih secara demokratis tersebut.

Apalagi keluarga menegaskan bahwa selama enam tahun di penjara, Morsi tidak mendapat perawatan yang layak dari pemerintah dan juga kerap dimasukkan dalam ruang isolasi penjara. Padahal mereka tahu Morsi menderita diabetes, tekanan darah tinggi, dan sakit liver.

Komunikasi Morsi dengan dunia luar, termasuk keluarga, juga dibatasi sehingga mereka tidak tahu bagaimana kondisi kesehatan Morsi yang sesungguhnya, menurut Sarah Leah Whitson, direktur eksekutif Human Rights Watch untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, kepada The New York Times.

Anak lelakinya, Abdullah Mohammed Morsi, mengecam pemerintah Mesir yang menolak permintaan keluarga untuk menguburkan jasadnya di pemakaman keluarga di Sharqia, kawasan bagian utara Mesir.

Morsi akhirnya dikuburkan di sebuah pemakaman umum di Kairo. Hanya beberapa orang anggota keluarga yang menyaksikan penguburan tersebut.

Kecaman pun segera terlontar kepada Presiden Mesir, Abdel-Fattah el-Sisi. Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood), organisasi yang membawa Morsi ke kursi presiden pada 2012 dan kini dinyatakan sebagai organisasi terlarang, menyatakan pemerintah Mesir telah "membunuh" Morsi karena menempatkannya dalam penjara yang kondisinya tak layak selama bertahun-tahun.

Turki dan Qatar menjadi dua negara yang pertama kali merilis pernyataan mereka mengenai wafatnya Morsi.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menyatakan bahwa Morsi adalah "seorang martir yang kehilangan hidupnya saat memperjuangkan hal yang diyakininya."

"Sejarah takkan pernah melupakan tiran yang memenjarakannya, mengancamnya dengan hukuman mati, dan menyebabkannya menjadi martir," tandas Erdogan, dikutip euronews.

Sementara Emir Qatar, Syekh Tamim bin Hamad Al Thani, menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga Morsi dan rakyat Mesir atas kematian mendadak tersebut.

Diangkat rakyat, digulingkan rakyat dan militer

Calon presiden dari Ikhwanul Muslimin Mohamed Mursi meyapa pendukungnya setelah memberikan suara di tempat pemungutan suara di sebuah sekolah di Al-Sharqya, 60 kilometers timur laut Kairo, Mesir, 16 Juni 2012. Mohamed Mursi meninggal dunia saat menjalani sidang di Kairo, Senin (17/6/2019).
Calon presiden dari Ikhwanul Muslimin Mohamed Mursi meyapa pendukungnya setelah memberikan suara di tempat pemungutan suara di sebuah sekolah di Al-Sharqya, 60 kilometers timur laut Kairo, Mesir, 16 Juni 2012. Mohamed Mursi meninggal dunia saat menjalani sidang di Kairo, Senin (17/6/2019). | Mohamed Abd El-Ghany /Antara Foto/Reuters

Morsi adalah presiden pertama Mesir yang terpilih secara demokratis dalam pemilu yang diselenggarakan pada 2012. Pemilu tersebut dilakukan menyusul terjadinya gerakan yang disebut "Arab Spring" di hampir seluruh wilayah Arab pada 2011.

Arab Spring, atau musim semi Arab, adalah gerakan pro-demokrasi yang bergema di beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim, termasuk Tunisia, Maroko, Suriah, Libya, Bahrain, dan Mesir.

Hosni Mubarak, yang telah berkuasa di Mesir sejak 1981, menjadi salah satu pemimpin yang berhasil digulingkan oleh gerakan rakyat tersebut pada 2011.

Dalam pemilu yang diselenggarakan pada 2012, Ikhwanul Muslimin memilih Morsi sebagai calon presiden. Ia berhasil menarik hati rakyat Mesir, memenangi pemilu, dan diangkat menjadi presiden pada Juni 2012. Terpilihnya Morsi, bagi sebagian besar rakyat Mesir, membuka harapan untuk mengakhiri sejarah panjang penguasa yang autokratis dan korup.

Namun, bulan madu tersebut tak berlangsung lama. Rakyat mempertanyakan janji Morsi untuk menjadi "kepala pemerintahan seluruh rakyat Mesir". Ia dianggap membiatkan Ikhwanul Muslimin terlalu mendominasi kancah politik. Rakyat khawatir hukum Islam bakal diterapkan sebagai hukum negara.

Para pengamat dari dunia Barat juga melihat kemungkinan pemerintahan Morsi bakal berubah menjadi pemerintahan teokratis.

Selain itu, kebijakan-kebijakannya juga dipandang takkan membawa perekonomian Mesir ke arah yang lebih baik.

Puncaknya pada November 2012, saat ia mengeluarkan dekret presiden yang dipandang membuat kekuasaannya melangkahi konstitusi negara. Rakyat Mesir kembali turun ke jalan dan terjadi kerusuhan besar antara kelompok pro vs. kontra.

Demonstrasi besar-besaran anti-Morsi terjadi kembali pada Juni 2013 dan kondisi tersebut dijadikan alasan oleh kelompok militer, yang dipimpin menteri pertahanan saat itu, Jenderal Abdel-Fattah el-Sisi.

Sisi mengambil alih kekuasaan pada Juli 2013. Morsi kemudian ditangkap dan dipenjarakan. Militer lalu memerangi para demonstran pro-Morsi dan sebanyak 871 orang tewas, sebagian besar anggota Ikhwanul Muslimin.

Sisi kemudian melabel Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris, menetapkannya sebagai organisasi terlarang, dan memenjarakan sebagian besar anggotanya.

Pemilu kembali diselenggarakan di Mesir pada 2014 dan, bisa ditebak, Sisi kemudian terpilih sebagai presiden keenam Mesir. Sementara Morsi menjalani persidangan untuk berbagai dakwaan, termasuk tuduhan memimpin kelompok pemberontak, memenjarakan dan menyiksa orang-orang anti-pemerintah, serta membocorkan rahasia negara.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR