SATWA LANGKA

Maraknya penyelundupan penyu hijau di Bali

Pengelola Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu, Serangan, Denpasar, Made Sukanta menunjukkan penyu ilegal yang ditemukan pada sebuah kecelakaan lalu lintas di wilayah Kuta, Senin (30/9/2019). 18 ekor penyu hijau ditemukan dalam sebuah truk.
Pengelola Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu, Serangan, Denpasar, Made Sukanta menunjukkan penyu ilegal yang ditemukan pada sebuah kecelakaan lalu lintas di wilayah Kuta, Senin (30/9/2019). 18 ekor penyu hijau ditemukan dalam sebuah truk. | Made Argawa /Beritagar.id

Made Sukanta, 37 tahun, tampak ngobrol santai dengan dua orang rekannya di dekat kolam penangkaran penyu di Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu, Serangan, Denpasar. Pria dengan tato di lengan kirinya itu baru saja menerima 18 ekor penyu hijau (Chelonia mydas) ilegal.

Pengelola Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu, Serangan, Denpasar, itu mengatakan, penyu yang saat ini dititipkan tersebut sebagian besar mengalami cacat pada sirip depannya karena diikat.

"Ada yang mengalami dehidrasi. Ada yang rusak pada cangkang," katanya, Senin (30/9).

Lelaki yang telah mengurus penyu di Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu sejak 2008 tersebut memperkirakan penyu-penyu yang diperoleh secara ilegal itu telah berada di darat antara satu hingga dua hari.

“Jika kondisinya seperti itu, dugaan kuat saya, ini (penyu) berasal dari luar Bali,” ujarnya.

Pada Senin (30/9/2019), sebuah truk mengalami kecelakaan di bypass Sunseat Road, Legian, Kuta. Truk dengan nomor polisi DK 9363 KL itu menabrak pohon perindang sekitar pukul 04.00 WITA.

Kondisi truk penyok pada bagian depan kiri serta ban depan kiri lepas. Saat diperiksa, polisi menemukan 18 ekor penyu hijau di dalam kendaraan dengan STNK atas nama Ni Made Wati, warga Banjar Tengan Bedulu, Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali, itu.

Seluruh penyu tersebut akhirnya dititipkan di Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu. "Akan dilakukan observasi, selanjutnya dilakukan pemeriksaan oleh dokter hewan dari Universitas Udayana," jelas Sukanta.

Hewan yang terancam

Wisatawan mengamati Penyu Hijau (Chelonia mydas) hasil sitaan sebelum dilepasliarkan di Pantai Kuta, Badung, Bali, Rabu (27/3/2019).
Wisatawan mengamati Penyu Hijau (Chelonia mydas) hasil sitaan sebelum dilepasliarkan di Pantai Kuta, Badung, Bali, Rabu (27/3/2019). | Fikri Yusuf /Antara Foto

Penyu hijau termasuk dalam hewan yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Hewan ini masuk kategori terancam dalam daftar IUCN (International Union for the Conservation of Nature). Menurut data WWF, sekitar 100.000 ekor penyu hijau ditangkap secara ilegal di berbagai kawasan di dunia setiap tahunnya--setengahnya terjadi di kawasan Asia Tenggara, terutama Bali.

Oleh karena itulah, Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu berupaya keras menyelamatkan 18 ekor penyu hijau yang ditemukan. Dari 18 ekor penyu yang disita itu, hanya satu jantan. “Umur mereka antara lima hingga lima puluh tahun," kata Sukanta.

Kalau penyu sudah sering bergerak dan bernapas secara teratur dengan muncul ke atas permukaan air, menurut Sukanta, itu tandanya mereka sudah sehat.

"Jika dehidrasi penyu akan mengambang. Setelah sampai di sini, penyu-penyu ini tampak sudah sehat,” jelasnya.

Sukanta belum tahu asal dan akan dibawa ke mana hewan tersebut oleh sang penyelundup. Ia mengetahui bahwa, meski telah dilarang, penyu hijau masih dikonsumsi di Bali. Namun dia menyatakan tak tahu di kawasan Bali yang mana daging penyu itu diolah.

Penyu hijau memang pernah menjadi salah satu pilihan masyarakat Bali untuk diolah menjadi hidangan lawar (campuran daging dengan sayur berisi bumbu genep khas Bali) dan sate. Akan tetapi, menurut Sukanta, jumlah konsumsi tersebut telah turun sejak 2006.

“Setelah adanya larangan dan sosialisasi, konsumsi daging penyu menurun,” katanya.

Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu, Serangan, Denpasar masih menunggu koordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali untuk penanganan penyu yang ditemukan di Kuta. “Jika sudah sehat, siap dilepas. Lebih cepat lebih bagus,” kata Sukanta.

3 Kasus terungkap, tersangka belum

Tahun ini sudah terjadi tiga kasus penyelundupan penyu hijau yang terungkap oleh polisi di Pulau Dewata.

Sebelum truk yang celaka itu, Polres Gianyar menggagalkan penyelundupan di bypass Ida Bagus Mantra pada 13 Maret lalu. Sebanyak 13 ekor penyu hijau ditemukan dalam sebuah kendaraan mini bus warna perak yang ditinggal oleh pengemudinya.

Empat hari setelah itu, 17 Maret, kasus penyelundupan lainnya terungkap di kawasan Gerokgak, Buleleng, Bali. Satpol Airud Polres Buleleng menemukan tujuh ekor penyu di sebuah Keramba Jaring Apung (KJA) di perairan perbatasan wilayah Desa Pejarakan dan Sumberkima. Tiga di antaranya dalam kondisi terluka di bagian flipper (kaki penyu).

Made Sukanta mengatakan penyu hijau yang disita di Gianyar dan Buleleng itu dititip di tempatnya.

"Ada sekitar tujuh penyu hijau dari Buleleng. Enam sudah dilepas, satu masih dirawat karena masalah kesehatan dan untuk barang bukti. Penyu dari Gianyar, satu masih di sini,” ujarnya.

Sukanta menyebutkan, pelaku penyelundupan penyu pada 2019 belum ada yang ditangkap.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Bali, Komisaris Besar Yuliar Kus Nugroho saat dikonfirmasi menyebutkan, pihaknya masih menyelidiki kasus penyelundupan tersebut dan belum menetapkan atau menangkap tersangka penyelundup.

"Masih perlu waktu," ujarnya singkat.

Namun, Yuliar memastikan bahwa penyu-penyu itu berasal dari luar Bali dan berjanji akan segera mengungkap jaringan dan modus penyelundupan hewan yang dilindungi tersebut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR