KEBEBASAN BERAGAMA

Masyarakat balas insiden SARA dengan persatuan antarumat

Warga dari lintas iman mengikuti Deklarasi Jogja Damai Tolak Intoleransi di Kantor Kepatihan, DI Yogyakarta, Rabu (14/2/2017).
Warga dari lintas iman mengikuti Deklarasi Jogja Damai Tolak Intoleransi di Kantor Kepatihan, DI Yogyakarta, Rabu (14/2/2017). | Hendra Nurdyansyah /Antara Foto

Dua insiden beraroma SARA dalam sepekan lalu justru memicu gelombang simpati. Di Yogyakarta, Rabu (14/2/2018), masyarakat lintas iman justru mendeklarasikan perdamaian, menolak kekerasan, intoleransi, dan radikalisme.

Pekan lalu (11/2), di Yogyakarta, lelaki bersenjata tajam bernama Suliono menyerang umat katolik yang sedang beribadah di gereja St Lidwina Bedog, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Sleman. Lima orang mengalami luka; Romo Prier, Budjiono, Yohanes, Parmadi, dan petugas polisi yang hendak menangkap pelaku.

Sementara di Desa Babat, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Banten, Minggu (4/2), warga Kebon Baru RT 001 RW 001 menolak kehadiran Biksu Mulyanto Nurhalim. Warga menilai Mulyanto menyalahgunakan fungsi tempat tinggal menjadi tempat ibadah.

Warga pun meminta Mulyanto hengkang dari desa tersebut. Mulyanto pun menyepakatinya sembari membacakan surat pernyataan yang direkam menjadi video dan akhirnya viral di media sosial.

Belakangan diketahui bahwa Mulyanto tidak melakukan kegiatan ibadah di kediamannya. Warga luar desa yang datang ke rumahnya setiap Minggu adalah untuk silaturahmi sekaligus membawakan makanan dan minuman.

Dua insiden itu justru menuai kutukan publik. Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X mengutuk keras dan meminta aparat kepolisian untuk segera mengungkap motif serta latar belakang tindakan pelaku.

"Dengan tegas saya mengutuk keras terhadap tindak kekerasan yang teramat bru-tal itu. Hentikanlah persekusi, dan waspadailah politik adu domba antarumat beragama," kata Sultan dilansir Koran Jakarta.

Dari Yogyakarta pula, Romo Vikep Florentinus Hartosubroto menilai penyerangan di gereja St Lidwina tak akan mengganggu kerukunan warga (h/t Radar Jogja). Romo Hartosubroto kebetulan turut dalam aksi Deklarasi Jogja Damai yang dipimpin oleh Gubernur Hamengku Buwono X.

Hadir pula dalam acara di Kepatihan DI Yogyakarta itu tokoh agama Islam/MUI KH Thoha Abdurrahman, Pdt. Bambang Sumbodo (Kristen), Ida Bagus Agung (Hindu), Ketut Tada (Buddha), dan Cucu Rohyana (Konghucu).

Acara deklarasi setelah insiden SARA semacam ini menjadi penting, apalagi bagi Yogyakarta. Kota Pelajar ini kebetulan berada di posisi lima dalam daftar kota tidak toleran di Indonesia menurut data SETARA Institute (2017).

Adapun warga Sleman dan warga sekitar gereja St Lidwina serta para simpatisan melakukan kerja bakti untuk membersihkan ruang ibadah yang porak poranda setelah penyerangan bersenjata, sehari kemudian (12/2). Aksi itu pun viral di media sosial.

Salah seorang yang sosoknya viral adalah Jirhas Ranie (30). Perempuan berhijab ini seketika populer menyusul fotonya sedang menyapu di dekat altar dan di bawah patung salib Yesus gereja termaksud.

Ranie pun mengaku kaget melihat kabar viral itu. "...kami tidak sangka akan menjadi seluas ini. Bahkan kami juga tidak kepikrian ingin jadi viral...," katanya saat diwawancarai Kompas TV, Selasa (13/2), seperti dimuat Tribun Jakarta.

Warganet pun menyampaikan apresiasi serta menegaskan pesan bahwa aksi intoleransi justru hanya akan membuat persatuan warga antarumat beragama semakin kuat.

Sementara di Banten, Gubernur Wahidin Halim juga mengajak masyarakat menjaga kerukunan dan toleransi beragama serta tidak terpancing isu SARA. Wahidin juga meminta para kiai dan pemimpin pondok pesantren tidak menanggapi kabar yang tidak jelas asal usulnya alias hoax (h/t Media Banten).

Di sisi lain, Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin menegaskan tak ada larangan untuk beribadah di dalam rumah. Lukman menyatakan larangan hanya berlaku ketika rumah berubah fungsi menjadi tempat ibadah karena harus ada izin berdasarkan prosedur resmi.

Lukman melanjutkan kegiatan ibadah di rumah tak terhindarkan. Itu sebabnya pemerintah tidak akan melarang warga melakukan kegiatan keagamaan di rumah.

"Kita mau masuk rumah saja berdoa, mau makan berdoa, dan seterusnya. Maka, ya, itu tadi, kegiatan keagamaan di rumah tidak terhindarkan," tegasnya dalam Kompas.com.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR