Masyarakat Jakarta masih gemar kendaraan pribadi

Pengendara sepeda motor melintas di rel Kereta Commuterline di perlintasan dekat Stasiun Jatinegara, Jakarta, Jumat (19/5).  Pengguna kendaraan umum di Jakarta masih rendah.
Pengendara sepeda motor melintas di rel Kereta Commuterline di perlintasan dekat Stasiun Jatinegara, Jakarta, Jumat (19/5). Pengguna kendaraan umum di Jakarta masih rendah. | Reno Esnir /ANTARA

Porsi pengguna angkutan umum di Jakarta masih rendah. Menurut hitungan Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), saat ini pengguna angkutan umum baru 24 persen.

"Sisanya (76 persen) menggunakan moda angkutan pribadi," ujar Ketua DTKJ, Iskandar Abubakar, Senin (22/5) seperti dikutip dari Kompas.com.

Ia mengatakan, kurang minatnya penggunaan kendaraan umum menyebabkan pertumbuhan kendaraan bermotor pribadi menjadi relatif tinggi.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta, pada 2015, jumlah kendaraan pribadi mencapai 18.668.056 unit. Porsi terbesar adalah sepeda motor yang mencapai 13.989.590 unit. Lalu mobil pribadi 3.469.168 unit.

Dengan jumlah kendaraan yang melimpah di jalanan, tak heran jika waktu tempuh di Jakarta jadi lebih panjang.

Bahkan, INRIX sebuah lembaga internasional yang melakukan penelitian transportasi dan kemacetan di dunia, pada 2016 menempatkan Jakarta sebagai kota kedua di Asia yang paling banyak membuang waktu di jalanan.

Di sisi lain, kemacetan membuat pengguna jalan merogoh kocek makin dalam untuk kebutuhan transportasi. "Rata-rata warga Jakarta saat ini mengeluarkan 20 hingga 30 persen penghasilannya untuk (berpergian) transportasi umum," ujar Iskandar.

Menurut Iskandar, angka ini cukup besar. "Harusnya 14 persen (biaya yang dikeluarkan dari total penghasilan) itu sudah angka maksimal," lanjutnya.

Ia menilai, besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk transportasi umum tersebut disebabkan karena pola transportasi di Jakarta yang belum efisien.

"Sistem transportasi kita (Jakarta) tidak efisien dan lambat. Kalau semua terintegrasi akan lebih menekan biaya," sebutnya.

Oleh sebab itu, pihaknya memiliki target untuk menekan besaran biaya yang harus dikeluarkan warga Jakarta untuk bepergian dengan transportasi umum.

Solusinya dengan membentuk Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPJT). BPJT bertugas membuat sistem pembayaran dan sistem informasi terpadu. "Kami yakin tahun 2019 pengguna angkutan umum mencapai 40 persen dan pada 2025 mencapai 60 persen," ujarnya, seperti dinukil dari Tempo.co.

Jakarta memang tak bisa lepas dari wilayah sekitarnya. BPS, pada 2015 menghitung, ada 1.382.296 orang komuter dari Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi), yang masuk ke Jakarta setiap harinya. Di sisi lain, ada 255.986 orang di Jakarta yang beraktivitas ke luar Jakarta.

Mereka yang lalu lalang, tak lepas dari angkutan umum. Keberadaan komuter mempopulerkan ojek online.

Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) mengklaim, ojek online membuat pasar otomotif bergairah. Menurut Wakil Ketua Umum III Hari Budianto, publik pengguna angkutan umum tetap memerlukan sarana sepeda motor.

Sebab, setelah menggunakan angkutan umum, mereka butuh ojek. "Makanya industri (ojek) online juga naik. Pakai apa? Ujungnya pakai motor, jadi (penjualan) naik juga," ujarnya, seperti dinukil dari detikoto.

Tapi jika dilihat secara nasional, penjualan sepeda motor susut. Sejak 2014, penjualan sepeda motor terus turun. Menurut data yang dilansir AISI, jumlah sepeda motor yang terjual di Indonesia pada 2016, merosot 8,4 persen. Pada 2016 sebanyak 5.931.285 unit. Tahun sebelumnya mencapai 6.480.155 unit. Tahun 2014 7.867.195 unit.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR