Mayoritas penduduk Jayapura jarang mudik

Ilustrasi
Ilustrasi
© Beritagar.id /Lokadata

Perpindahan penduduk bisa dilihat dari tempat kelahirannya yang berbeda dengan kartu identitas kependudukannya. Di manapun tempat lahirnya, selama bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, mereka tetap berkewarganegaraan Indonesia.

Maka tengoklah Kota Jayapura. Ibu Kota Provinsi Papua--nyaris setengah penduduknya dari luar pulau Papua--tercatat sebagai penduduk kota yang jarang pulang kampung alias mudik. Silakan tebak apa alasannya.

Ihwal kampung halaman, Lokadata Beritagar.id menemukan data mikro hasil Survei Ekonomi Nasional (Susenas) 2016 BPS menunjukkan karakteristik berbeda. Ada yang kampung halamannya di luar pulau, lintas provinsi, lintas kota, atau bahkan keduanya; lintas kota lintas provinsi.

Berdasarkan identitas kependudukan ini, pada 2016 penduduk DKI Jakarta 52,1 persennya berasal dari luar Jakarta, tetapi masih berasal dari Pulau Jawa. Seperempat di antaranya berasal dari Jawa Tengah. Termasuk Presiden Joko Widodo, kelahiran Solo, Jawa Tengah, yang kini ber-KTP Jakarta.

Lebih dari seperempat penduduk yang kampung halamannya di Ibu Kota. Sedangkan mereka yang kampung halamannya dari luar Jawa, mencapai 13,9 persen. Dengan kata lain, Jawa Tengah akan menjadi sasaran utama pemudik dari Jakarta.

Tujuan mudik kedua penduduk Jakarta kemungkinannya adalah Provinsi Jawa Barat, oleh 15,59 persen penduduk. Seperti Jawa Tengah, diaspora penduduk Jawa Barat yang tersebar di Jakarta berdasarkan kota/kabupatennya juga cukup merata.

Pola hampir serupa tampak di Kota Makassar, Sulawesi Selatan; dan Kota Jayapura, Papua. Di Makassar, "hanya" 38,4 persen penduduk yang kampung halamannya di Makassar. Sisanya, dari kota tetangga, seperti Kabupaten Maros, Bone, Gowa, dan sekitarnya. Kurang dari 10 persen penduduk yang berasal dari luar Pulau Sulawesi.

Adapun di Kota Jayapura, nyaris setengahnya berasal dari luar Papua. Tak lebih dari seperlima penduduk Jayapura yang kampung halamannya di Ibu Kota Provinsi Papua tersebut. Dari tujuh kota yang dijadikan contoh, Jayapura merupakan kota yang proporsi penduduknya paling banyak dari luar pulau.

Kampung halaman penduduk kota Jayapura yang berasal dari luar pulau Papua , terbanyak dari Sulawesi Selatan, mencapai 16,27 persen, 8 persen dari Jawa Timur, dan 5 persen Jawa Tengah. Asal kampung halaman dari wilayah lain secara persentase tidak sebanyak tiga wilayah tersebut.

Pola yang lain, bisa dilihat di tiga contoh kota lainnya; Kota Medan, Sumatera Utara; Kota Yogyakarta; dan Kota Semarang, Jawa Tengah. Hampir tiga perempat penduduk Medan adalah mereka yang kampung halamannya di Medan. Sisanya, berasal dari kota lain di Pulau Sumatera. Hanya 1,8 persen yang berasal dari luar Sumatera.

Di Kota Gudeg, nyaris 8 dari 10 penduduknya berasal dari sana. Sisanya dari kota lain di sekitar Yogyakarta, khususnya dari Jawa Tengah. Proporsinya hanya mencapai 7,57 persen. Sedangkan penduduk dari luar Pulau Jawa yang tinggal di Yogya, tak lebih dari tiga persen.

Semarang, kondisinya hampir sama. Sebanyak 64,7 persen penduduknya lahir di Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah tersebut. Kota yang juga terkenal sebagai Kota Lumpia itu ternyata dihuni oleh 1,3 persen penduduk dari luar Jawa. Kampung halaman selain di Semarang, terbanyak ada di wilayah Demak, Grobongan, Kendal, Boyolali, dan Klaten.

Kota Surabaya menjadi paling unik, karena komposisinya nyaris berimbang antara penduduk yang kampung halamannya di Kota Pahlawan itu, dengan mereka yang datang dari luar kota. Komposisinya; 50,3 persen merupakan Arek Suroboyo, dan 46 ,1 persen datang dari kota/kabupaten di Jawa. Hanya 3,6 persen yang berasal dari luar Jawa.

Tujuan mudik penduduk Kota Surabaya, kemungkinan besar ke sekitar wilayah kabupaten/kota di Jawa Timur. Kampung halaman terbanyak di luar Surabaya adalah Sampang, Bangkalan, Lamongan, Jombang, dan Kediri.

Seberapa sering pulang kampung?

Banyak alasan orang untuk meninggalkan kampung halamannya, termasuk alasan ekonomi. Namun terkadang tak butuh alasan untuk pulang, apalagi ketika momen-momen tertentu datang, seperti lebaran, natal, atau yang lainnya.

Kegiatan pulang ke kampung halaman atau mudik di Indonesia bukan sekadar menengok kembali tempat lahir. Mudik juga bisa berarti perjalanan untuk bertemu keluarga sambil berlibur menengok kampung leluhur. Tentu saja dengan mempertimbangkan ongkos perjalanan yang tak selalu murah.

Bila dibagi dalam frekuensi kepulangan penduduk, tujuh kota ini bisa dibagi dalam empat waktu: (1) sebulan sekali, (2) enam bulan sekali, (3) setahun sekali, dan (4) jarang pulang. Data terkini yang didapatkan Tim Lokadata Beritagar.id, sayangnya bertahun 2015, atau beda setahun dengan data kampung halaman ketujuh kota.

Dengan kondisi data 2015 tersebut, penduduk Kota Surabaya yang paling banyak pulang kampung tiap bulan. Pada periode ini, proporsi penduduk kota yang dipimpin Tri Rismaharini tersebut mencatat angka tertinggi, meski hanya 8 persen. Kota berikutnya terbanyak pulang kampung per bulan adalah Semarang dan Yogyakarta.

Untuk pulang kampung dalam periode enam bulan sekali, penduduk Kota Surabaya lagi-lagi termasuk kota terbanyak, bersanding dengan penduduk Kota Makassar, masing-masing mencapai 12 persen. Meski, penduduk Makassar sedikit lebih unggul.

Sedangkan dalam periode setahun sekali, Jakarta juaranya. Sebanyak 30 persen lebih penduduk Jakarta yang pulang kampung tiap tahun. Rekor itu disusul oleh Makassar 26 persen, dan Surabaya 22 persen.

Dari tujuh kota yang jadi sampel data, penduduk Kota Jayapura paling banyak yang jarang pulang kampung. Penduduk di timur Indonesia ini, 67,17 persen jarang pulang. Kombinasi menarik karena proporsi penduduk kota ini hampir setengahnya berasal dari luar pulau.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.