INDUSTRI PENERBANGAN

Membedah penyebab mahalnya harga avtur di Indonesia

Petugas melakukan pengisian bahan bakar avtur pada salah satu pesawat di Bandara Udara Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (22/12/2018).
Petugas melakukan pengisian bahan bakar avtur pada salah satu pesawat di Bandara Udara Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (22/12/2018). | Jojon /Antara Foto

Polemik seputar harga avtur yang dijual PT Pertamina (Persero) terus bergulir. Mahalnya penjualan avtur oleh Pertamina dituding sebagai penyebab harga tiket pesawat belakangan ini. Kondisi ini pun membuat Presiden Joko Widodo memanggil pemangku kepentingan untuk sama-sama membahas solusi masalah tersebut.

Harga avtur di Indonesia bahkan dinilai lebih mahal 10-15 persen jika dibandingkan dengan di Singapura dan Malaysia.

Menurut data Pertamina Aviation, harga avtur cenderung mahal di bandara yang berada di Indonesia bagian timur. Harga termahal ditemukan di Bandara Deo Sorong, Sorong senilai Rp11.080 per liternya. Harga termahal kedua ditemukan di bandara di Kota Biak, Ambon, Jayapura, dan beberapa kota lain di Papua dan Maluku, senilai Rp10.980 per liter.

Sementara itu, harga termurah ditemukan di Bandara Soekarno Hatta, seharga Rp8.210 per liter dan beberapa wilayah lain di Indonesia Barat dan Bali: Bandara Juanda, Surabaya sebesar Rp8.880 per liter; Ngurah Rai (Rp9.050 per liter); Sepinggan, Balikpapan (Rp9.280 per liter); dan Halim Perdanakusuma, Jakarta (Rp9.190 per liter).

Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria, menilai mahalnya penjualan oleh Pertamina ini karena produk tersebut diolah di kilang yang umurnya sudah tua.

“Avtur di Indonesia diolah di kilang Pertamina yang sudah jadul, sehingga membuat biaya produksi menjadi mahal jika dibanding dengan Malaysia dan Singapura,” ujar dia saat dihubungi Beritagar.id, Kamis (14/2/2019).

Di samping itu, mahalnya avtur yang dijual Pertamina karena faktor transportasi biaya distribusi yang lebih mahal. Indonesia yang berbentuk negara kepulauan menjadikan transportasi udara menjadi hal paling wajar untuk digunakan menjangkau antar wilayah.

Banyaknya rute penerbangan antarpulau tersebut membuat konsumsi avtur menjadi lebih banyak dibandingkan negara lain, sehingga harganya besar kemungkinan menjadi naik, apalagi jika stoknya berkurang.

"Apalagi, untuk pengiriman logistik di pulau terpencil, pesawat perintis masih menjadi pilihan utama, sehingga rute penerbangan pendek antarpulau masih jamak dilakukan," katanya.

Menurut Sofyano, sekalipun tidak diproduksi sendiri atau diimpor dari luar negeri, biaya akan tetap mahal karena biaya distribusinya berbeda dengan negara-negara tetangga yang biaya distribusinya lebih murah.

"Bandara di Indonesia sangat banyak, sehingga berpengaruh terhadap biaya distribusi, Supply avtur ke Bandara Changi Singapura dan Bandara Kuala Lumpur dilakukan dari supply point yang sangat dekat, sehingga membuat biaya transportasi lebih murah dibanding biaya transportasi di bandara-bandara se-Indonesia," kata dia.

Jika ingin murah, kata Sofyano, seharusnya PT Angkasa Pura, selaku operator bandara, membebaskan biaya apapun dalam memasok avtur, sehingga mampu menunjang operasional distribusi yang dilakukan oleh Pertamina.

“Jika ingin murah, harusnya Angkasa Pura tidak memungut biaya apapun terkait distribusi avtur yang dilakukan oleh Pertamina,” tuturnya.

Dalam bisnis penerbangan, avtur memang memegang peranan penting dalam operasional sebuah maskapai. Menurut ketua Indonesia National Air Carriers Association (INACA) I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, avtur memberikan kontribusi sebesar 40 persen dari biaya operasional.

Selain itu, ada beberapa komponen operasional pesawat terbang yang menjadi acuan, seperti biaya leasing pesawat, biaya perawatan, perbaikan, dan overhaul, biaya sumber daya manusia (SDM), serta biaya asuransi.

Menurut data Index Mundi, harga avtur dunia meningkat empat kali lipat sejak Januari 1999 dari $14,26 AS/barel menjadi $77,39/barel per Januari 2019.

Penurunan harga secara tajam sempat terjadi saat krisis Subprime Mortgage di Amerika Serikat pada 2008 dan penurunan harga minyak pada 2014 silam. Namun sejak itu, kenaikan harga avtur tidak tertahan.

Naik turun harga avtur menjadi momok bagi maskapai karena komponen biaya bahan bakar dalam struktur pembiayaan di maskapai menyedot sekitar 35 persen dari total biaya. Apalagi untuk maskapai berkonsep murah (Low Cost Carrier/LCC), biaya avtur bisa memberikan kontribusi sekitar 42 persen.

Belum lagi, momok bagi maskapai di Indonesia saat ini adalah hampir 90 persen mengawali pernerbangannya dari Bandara Soekarno-Hatta, yang notabene banyak terjadi antrean pada waktu proses lepas landas dan mendarat. Saat sedang antre, mesin pesawat tentu membakar avtur lebih banyak.

Monopoli avtur akan dibuka

Saat ini, Pertamina adalah satu-satunya perusahaan yang menjual avtur untuk seluruh maskapai dalam negeri. Jokowi bahkan menuding Pertamina melakukan monopoli avtur karena menjadi pemain sendiri di Indonesia.

Bahkan, menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, mahalnya harga avtur tak lepas dari tidak adanya badan usaha selain Pertamina yang memiliki fasilitas penyedia avtur di bandara. Hal ini berbeda dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk sepeda motor atau mobil yang memiliki opsi selain Pertamina.

"Kalau BBM itu kan tidak monopoli lagi 100 persen, katakanlah Shell, dulu ada Petronas, AKR. Nah khusus avtur ini memang harus ada fasilitas di bandara, tapi tidak ada perusaaan lain (selain Pertamina) yang punya fasilitas di bandara," ujar JK dikutip dari CNN Indonesia.

Menurut dia, badan usaha selain Pertamina bisa saja membuat fasilitas penyedia avtur di bandara dengan melakukan investasi baru berupa pembangunan tangki. Namun hal itu harus melalui kajian yang rinci.

Namun Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Djoko Siswanto, mengatakan pemerintah akan memberikan kesempatan kepada pihak swasta untuk masuk dalam bisnis avtur. Monopoli itu akan dibuka.

Ia mengatakan, beberapa badan usaha telah mengajukan izin niaga avtur ke pemerintah. Namun, pihaknya belum dapat memberikan izin kepada beberapa badan usaha ini. Sama seperti bisnis lainnya, sebelum memperoleh izin niaga, badan usaha harus memperoleh izin lokasi untuk usahanya tersebut.

“Dia (badan usaha) kan harus jual ke pesawat di bandara. Dia dapat izin enggak? Kalau sudah dapat izin, enggak ada masalah. Percuma kami kasih izin tetapi dia enggak bisa bangun (fasilitas di bandara),” jelas dia.

Meski demikian, Djoko enggan memastikan bahwa harga avtur bakal turun jika badan usaha yang menjual BBM jenis ini bertambah. “Kemungkinan bisa saja (turun). Kalau ada pesaing, harga akan menuju harga pasar,” ujar Djoko.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR