PERLINDUNGAN ANAK

Mempekerjakan anak, sebagai pengemis sampai PSK

| Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Aisiyah baru delapan tahun. Anak perempuan itu salah satu dari sejumlah anak yang tercokok Dinas Sosial Kota Semarang, Jawa Tengah, dua hari lalu.

Ia menuturkan, ”Bapak saya sakit-sakitan, dan ibu bekerja sebagai buruh cuci. Saya ikut membantu ibu dengan menjadi pengamen untuk biaya membayar buku sekolah dan uang saku untuk ke sekolah.” (h/t SuaraMerdeka.com)

Pekan ini dinsos memang merazia pengemis dan pengamen. Sebagian tangkapan adalah anak-anak. Termasuk Aisiyah yang tepergok petugas di Jalan Arteri Soekarno Hatta.

Dua bulan lalu, di Depok, Jawa Barat, polisi mendapati FA, seorang gadis pelajar 15 tahun, dijadikan pekerja seks di warung minuman keras di Taman Jaya, Cipayung.

Si gadis oleh pemilik warung ditawarkan kepada seorang pria. Di warung tersebut ada sejumlah anak-anak di bawah 18 tahun sebagai pelayan. Polisi menduga yang dijadikan pekerja seks tak hanya FA (h/t Kompas.com).

Mempekerjakan anak tak hanya terjadi sektor informal yang kacau – misalnya mengamen dan bekerja di warung miras tak berizin, pakai jasa seks pula, termasuk dalam pengertian itu. Di pabrik pun bisa terjadi. Celakanya hal itu terungkap setelah pekerja anak ditemukan mati terbakar akibat sebuah pabrik petasan dan kembang api meledak.

Dalam petaka Oktober 2017 di Kosambi, Tangerang, Banten, itu tiga dari 48 korban meninggal, semuanya pekerja PT Panca Buana Cahaya, adalah anak-anak di bawah umur (h/t BBC Indonesia).

Dalam catatan Lokadata Beritagar, kejahatan mempekerjakan anak memang meningkat. Selama 2015-2017 tingkat pertumbuhan kejahatan jenis itu tumbuh 14,34 persen.

Kejahatan? Ya. Mempekerjakan anak itu melanggar sejumlah undang-undang. Patokan seseorang bisa disebut anak, menurut UU Perlindungan Anak, adalah jika dia berusia di bawah 18 tahun. Lalu Pasal 68 UU Ketenagakerjaan melarang pengusaha mempekerjakan anak. Usia anak merujuk ke UU Perlindungan Anak.

Maka terhadap kasus pabrik mercon 2017 itu Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty berkata, "Tentu saja hal tersebut sangat melanggar UU no 13 tahun 2003 mengenai ketenaga kerjaan. Tidak sepantasnya disitu anak-anak bekerja di lokasi yang sangat beresiko tinggi." (h/t Okezone).

Sebenarnya ada pengecualian soal usia anak. UU Ketenagakerjaan membolehkan pemberian kerja untuk anak berusia 13 tahun sampai 15 tahun. Tentu ada syaratnya. Misalnya ada izin tertulis dari orang tua, ada perjanjian kerja pengusaha dengan orang tua, atau wali, lalu waktu kerja maksimum tiga jam, dan dilakukan pada siang hari namun tidak mengganggu jam sekolah.

Ancaman maksimum bagi pihak yang mempekerjakan anak, UU Ketenagakerjaan, adalah dua tahun sampai empat tahun dan atau ditambah denda Rp200 juta sampai Rp400 juta.

Sedangkan dalam kasus mempekerjakan anak di warung miras tadi, pelaku melanggar Pasal 76I UU Perlindungan Anak tentang larangan mengeksploitasi secara ekonomi maupun seksual. Ancaman hukuman maksimum sepuluh tahun penjara dan/atau denda Rp200 juta.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR